Ibu, Doa yang Hilang

Exif_JPEG_420

 

“Bukankah Tuhan yang memilihku untuk mengantarmu ke dunia ini. Maka, jika aku mendampingimu dalam mengarunginya, itu bagian dari tugas muliaku”

 

Saat membaca judul sekaligus quote yang disematkan pada halaman sampul, saya mulai menebak–nebak isinya, sekaligus penasaran sejauh mana buku ini bisa membuat hanyut pembaca dalam setiap cerita yang tertulis di dalamnya. Ppppsssttt… kisah seputaran kehidupan keluarga memang membuat saya menjadi melankolis. Selain yang dekat dengan keseharian, biasanya juga mengingatkan pada orang–orang di rumah.

“Ibu, Doa yang Hilang” adalah kumpulan kisah nyata yang dialami oleh penulis dan ibunya. Kedekatan hubungan penulis dengan ibunya, jelas meninggalkan kesan yang mendalam. Hal itulah yang melatarbelakanginya menyusun buku ini.

Terdiri dari 29 kisah pendek yang diceritakan dengan bahasa sederhana dan sarat akan keteladanan, membuat buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Mengikuti setiap kisah di dalamnya, pembaca seperti diajak menengok kembali ke masa lalu penulis. Menyaksikan pasang surut kehidupannya dan keluarganya, mulai dari usia anak-anak hingga dewasa.

Memiliki keluarga yang lengkap, berkecukupan, dan harmonis, tentulah menjadi kebahagiaan bagi setiap orang. Pun demikian halnya dengan penulis. Namun, kebahagiaan ini mulai terusik ketika sang ayah meninggal dunia. Kehilangan tulang pungung membuat keluarga ini sempat goyah dan mengalami perubahan besar.

Berbagai permasalahan muncul, mulai dari biaya pendidikan anak-anak, beratnya urusan pekerjaan, sampai permasalahan sosial. Beruntung, semua dapat dilalui dengan baik berkat peranan sang ibu.

Di balik karakternya yang welas asih dan bersahaja, beliau juga termasuk pribadi yang tangguh. Ini ditunjukkan lewat sikapnya yang tegas dan pantang menyerah. Kerasnya kehidupan, himpitan ekonomi, terbatasnya waktu dan tenaga tidak menyurutkan semangat, walaupun beliau harus bekerja sejak pagi hingga malam. Beliau berhasil menghadapi berbagai tantangan dalam membesarkan anak-anaknya dan mengantarkan mereka menjadi sarjana.

“hidup itu seperti cakra manggilingan, le … Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang senang, kadang susah. Maka, janganlah kamu terlalu merasakan sesuatu. Terlalu susah tidak baik, terlalu senang juga tidak baik. Semua dijalani sak madya wae … sewajarnya saja”

Nasehat–nasehat semacam itulah yang saya suka dari buku ini. Terasa seperti dinasehati oleh ibu sendiri. Tutur bahasanya sederhana, namun menyadarkan.

Menyimak bagaimana cara sang ibu mendidik anak dengan teladan dan nasehat-nasehatnya, membuat saya teringat pada Mbak Dyaning, khususnya bagian sikap lemah lembut yang njawani.

Sebenarnya kisah-kisah pendek dalam buku ini tidak memerlukan waktu lama untuk dibaca. Namun, penggunaan alur maju mundur – tidak disusun berdasarkan kronologi waktu – yang digunakan pengarang, sempat membuat saya kebingungan dan menerka-nerka, “Ini kapan, ya?”. Misalnya, setelah bercerita tentang kisah penulis sebagai fresh graduate yang belajar hidup mandiri, tetapi pada bab selanjutnya, pengarang justru kembali bercerita tentang masa-masa sekolah.

Terlepas dari kebingungan yang dialami saat membacanya, buku ini tetap menyenangkan. Buktinya, secara tidak sadar, mata saya bisa berkaca-kaca ketika membaca beberapa kisah mengharukan di dalamnya.

Banyak pelajaran berharga yang bisa diambil oleh para orang tua, terutama kaum ibu. Baik itu sebagai sumber inspirasi, mau pun sebagai penyemangat dalam memperjuangkan dan mendidik anak-anak mereka.

***

Judul : Ibu, Doa yang Hilang

Penulis : Bagas D. Bawono

Penerbit : Zettu

Cetakan : 2014

Tebal : 233 hlm

ISBN : 978-602-1298-54-1

Rating : 3,5 dari 5

34 thoughts on “Ibu, Doa yang Hilang

  1. Cerita tentang ibu memang tidak akan lekang ya Mbak. Setiap hari pasti akan ada saja kejadian antara seorang anak dengan ibunya. Mudah-mudahan setelah membaca buku ini kita jadi makin sayang dengan ibu-ibu kita. Penasaran deh dengan bukunya. Terima kasih sudah mengulas buku ini ya Mbak.

    1. Iya Gara … cerita tentang ibu itu cerita sepanjang masa ya

      Setelah baca buku ini, jadi lebih tahu menempatkan diri sebagai wanita, calon ibu, calon istri, calon mantu, & calon mertua (((kok calon semua sih)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s