Mencari Karna di Museum Wayang Kota Tua

Pagi itu saya sampai di Kota Tua lebih cepat ya walaupun cuma 5 menit dari waktu yang telah disepakati. Terbiasa dengan lalu lintas kota kecil yang kemana-mana lancar dan tidak butuh waktu lama, saya sengaja berangkat 1,5 jam lebih awal untuk menghindari macet. Kan ngga enak yaa, sini yang ngajakin ketemuan, tapi sini juga yang datang telat. Hehehehe

Karena tujuan utama hari itu adalah bertemu dengan teman, sepupu, dan mas patjarnya sepupu (sebut saja Rombongan Hore), saya pun sudah pasrah bongkok’an ke mereka mau diajak kemana dan ngapain. Tapi berhubung yang ditunggu belum juga datang, padahal saya sudah nunggu – duduk – bengong – kliteran – foto – duduk lagi – bengong lagi selama setengah jam, saya pun memutuskan menunggu mereka di sekitar Museum Fatahillah sambil baca-baca postingan blognya Yayan pas dia di Kota Tua.

Gara-gara baca postingannya Yayan soal museum-museum ini, saya jadi kepengin ikutan jelajah museum juga. Setelah dipikir-pikir dan sepertinya Rombongan Hore tidak lama lagi sampai, saya pun memutuskan mengunjungi Museum Wayang sambil menunggu mereka datang. Niatnya sih biar sekalian bisa pamer ke Yayan kalau saya sudah duluan ke museum ini 

Saat membayar tiket masuk, saya sengaja meminta leaflet Museum Wayang. Dari leaflet itu, tahulah saya bahwa dulu di lokasi Museum Wayang ini pernah berdiri gereja yang dibangun pada tahun 1640 dengan nama de Oude Holandsche Kerk. Lalu pada tahun 1732 mengalami renovasi dan berganti nama menjadi de Nieuw Holandsce Kerk. Namanya bagus sekaligus susah dieja, ya? Cocok buat dijadiin soal di Duel Otak. Namun, bangunan ini hancur akibat gempa bumi.

Baru pada tahun 1912 didirikanlah bangunan yang menjadi cikal bakal Museum Wayang dan diresmikan sebagai Museum Batavia oleh Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer tahun 1939. Bangunan ini sempat mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan sampai pada 23 Juni 1968 diserahkan kepada Pemerintah DKI untuk dijadikan Museum Wayang.

Museum Wayang

Saya penasaran dengan koleksi Museum Wayang yang konon mencapai lebih dari 6.000 koleksi (sumber : ini). Apalagi setelah mengikuti serial Mahabharata, sedikit banyak saya jadi tahu tokoh – tokoh dari kisah pewayangan, termasuk tokoh Karna.

Memangnya Karna itu siapa?

Karna ini anak Dewi Kunthi dan Dewa Surya yang lahir secara tidak sengaja karena Mantra Adityahredaya. Sebenarnya, dia adalah kakak tertua dari tiga Pandawa (yudhistira, Bima, dan Arjuna). Namun dalam perang Bharatayuda dia berada di pihak Kurawa, melawan Pandawa. Walaupun berada di pihak antagonis (Kurawa), Karna adalah seorang yang sportif dan setia kawan. Dia sangat menjunjung nilai-nilai ksatria serta rajin berderma. Ia merupakan salah satu tokoh pewayangan yang memiliki latar belakang serta sifat yang kompleks. Sosok Karna terlihat semakin menarik saat diperankan oleh Aham Sharma di serial Mahabharata #halah. (Lebih lengkap soal Karna bisa dibaca di sini)

Penasaran dengan penampilan Karna versi wayang, saya pun mengamati setiap koleksi yang di pajang di dalam museum, berharap bisa menemukan Karna.

Saat menelusuri koridor dekat pintu masuk, saya senang bisa menemukan wayang golek Kumbakarna di sana. Sebelumnya saya selalu beranggapan bahwa Kumbakarna itu ya Karna, tapi ternyata bukan. Kumbakarna adalah anak Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Dia juga saudara Rahwana. Duh! Berarti selama ini saya salah dong ya. . Untung saja ke Museum Wayang! Hehehehe.

kumbakarna

Semakin banyak koleksi yang diamati, semakin saya tahu bahwa ada banyak jenis wayang di museum ini. Minimnya informasi yang saya miliki tentang Museum Wayang, membuat saya takjub berkali-kali saat menjelajah isi museum.

Koleksi Museum Wayang ini keren. Berasal dari berbagai daerah baik dalam maupun luar negeri, seperti : Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Kalimantan, Sumatera, Malaysia, Suriname, Kelantan, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggis, dan Thailand.

DSC04518

Sebelum ke sini saya hanya tahu wayang itu jenisnya ada tiga: wayang kulit, wayang orang (wayang uwong), dan wayang golek. Lebih dari itu saya tidak tahu. Ternyata, wayang itu banyak macamnya. Setiap daerah memiliki kekhasan wayangnya masing-masing, seperti Wayang Kulit Purwa dari Yogyakarta, Wayang Kulit Banjar  dari Kalimantan, Wayang Sasak dari NTB, juga jenis wayang yang lain.

DSC04511

Menurut saya, kesenian wayang ini salah satu kesenian yang perkembangannya cukup dinamis dan memiliki banyak kegunaan. Wayang tidak hanya diperuntukkan untuk hiburan dengan pusat cerita wayang kerajaan, tetapi juga bisa digunakan untuk syiar agama, seperti Wayang Kulit Sadat yang memvisualisasikan keislaman dan Wayang Wahyu yang digunakan untuk memvisualisasikan agama Kristen.

Oiya, Museum Wayang juga memiliki koleksi wayang golek dari berbagai daerah, mulai dari Wayang Golek Menak dari Kebumen, Wayang Golek Elung dari Bandung, sampai wayang golek paling ngehits di era 90-an, Si Unyil dan kawan-kawan. Lengkap, kan?😀

DSC04502

 

Selain aneka wayang, museum ini juga memiliki banyak koleksi topeng dan juga perangkat gamelan yang biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang.

DSC04521

DSC04513

Melihat koleksi – koleksi Museum Wayang ini, rasanya saya pengin mengacungi jempol untuk kekreatifan para pengrajinnya. Mereka tidak hanya piawai membuat detail wayang-wayang, tetapi juga cerdik memanfaatkan bahan – bahan yang ada di sekitarnya, seperti : kulit, kayu, seng, semen, koran, bambu, dan rumput. Keren, yaa!😆

DSC04519

Yang patut diacungi jempol bukan hanya soal koleksi dan pengrajin wayangnya, tetapi juga pihak Museum Wayang yang sudah berusaha mengumpulkan dan menambah koleksi aneka macam wayang, serta menjaga supaya suasana museum tetap nyaman untuk pengunjung. Selain itu, setiap hari Minggu juga ada pagelaran dengan tema bervariasi mulai dari pagelaran wayang kulit, wayang orang, wayang golek, wayang beber metropolitan, animasi 3D, dan ada juga workshop pembuatan wayang.

DSC04525

Seru!

Kapan-kapan pengin ke sini lagi, ah😀

 

Museum Wayang

Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta Barat 11110

Telp : (021) 6929560

Email : museum.wayang@yahoo.co.id

Tiket Masuk :

  • Dewasa : 5000
  • Mahasiswa : 3000
  • Anak – anak : 2000

Waktu Buka :

Selasa – Minggu : 09.00 – 15.00

Senin dan hari besar libur

***

Omong-omong, berhasilkah saya menemukan Karna di Museum Wayang?

Berhasil doooong😆

Saya menemukan Wayang Karna berhadapan dengan Wayang Arjuna di koridor menuju pintu keluar. Sayangnya dari dua wayang ini saya tidak tahu pasti Karna yang mana #Plaaaaaakkk

Tapi kalau diperhatikan benar, kayaknya sih yang wajahnya merah itu Karna *kayaknya, sih*

 

DSC04524

50 thoughts on “Mencari Karna di Museum Wayang Kota Tua

    1. Iya, asyik banget Myra😀

      Betul betul betul. Rasanya ga cukup sehari buat menikmati setiap sudut kota tua. Aku kemarin “cuma” dapet 2 museum dan Jembatan Kota Intan

  1. DUEL OTAK
    ==========
    Pada paragraf 9 terdapat kalimat, “Duh! Berarti selama ini saya salah dong ya..”
    Pertanyaannya; Salah apakah gerangan penulis kita? Apakah…
    a. Tidak mengerjakan PR
    b. Berbohong kepada orang tua
    c. Mana saya tahu, kok tanya saya?
    d. Saya tidak tahu dia salah apa, atau
    e. Tidak ada jawaban yang benar

  2. Iya, karna yg merah. Karna dan arjuna ini kisahnya rada2 bro-mance loh mbak kalau yg aku liat dr serial mahabrata. Btw, mbak dian kan udah lama mengunjungi kota tua jakarta, baru ke-post sekarang? Ck ck ck. (Kamu sendiri, mana post barunya, re? Hehehe)

    1. Hahahhahhaa iya Nald, bro-mance banget. Apalagi skill mereka sama. Sama2 jago memanah.

      baidewei baidewei, kamu tadi nanya apa? *Pinjemin kemoceng buat bebersih debu di blognya Rinald*
      Ini masih mending Nald. Jalannya September postingnya November. Ada yang musti nunggu 1 semester baru ditulis postingannya *self toyor*

  3. Walaupun tulisannya bikin sirik dan keki hahaha huaaaa kece banget tulisannyaaaa. Aku makin nyesel gak masuk ke dalam. Huhuhu. Aku harus balik lagi ke sana. Haruuus!

      1. nyobain juga Yan. Tapi aku cuma sampe ruangan di luar pintu bawah tanah.

        Kemarin bilangnya gini “kata Yayan ada kok penjara wanita bawah tanahnya. Tapi di mana, ya?” Trus kami nyari2 tuh & ketemu😆

  4. huwahahaha… aku ngefans sama karna, gara2 nonton mahabarata :))

    waktu ke kota tua aku gak masuk ke museum wayang.. padahal kan sepaket itu ya mba..

  5. Wayang di satu tempat. Seperti masuk ke negeri wayang yang tiap penduduk tak punya nama kembaran ya Mbak Dian. Terus kenapa sih Karna dicari-cari, ada alasan khusus?

    1. Iya mbak Evi, namanya ngga ada yang kembaran. Hanya kadang banyak yang mirip-mirip, seperti Karna dan Kumbakarna😆

      Kenapa Karna? Karena aku ngefans banget sama si Karna ini mbak. Hehehehhehe. Menurutku, dalam seri Mahabharata, tokoh yang “manusiawi” (karena dia punya sisi baik dan juga sisi buruk) ya Karna ini. Kalau Pandawa kan digambarkan sbg sosok2 yang baiknya kebablasan, trus Kurawa jahatnya juga ga kira2. Nah, Karna ini di tengah2nya😆

  6. Kirain baca judulnya “karna” itu berarti “karena” hahaha. Ternyata baru ngeh kalau tokoh wayang😀

  7. Saya pikir ‘karna’ itu ada kesalahan ketik atau gimana.. ehehehe *maaf mba*🙂
    Pengetahuan tentang wayang saya memang nol besar! Eh kecuali si unyil doang taunya😀 Harus mengunjungi museum wayang niyh…
    Terima kasih mba infonya.

    1. Dan aku batu nyadar kalau harusnya karna ini K-nya pake huruf besar biar keliatab kalau itu nama. #Duh #Tepokjidat

      Heehehehe aku juga ngertinya cuma dikiiiit bangrt Sandrine. Seputaran Mahabharata aja nih. Diluar itu juga ga tau apa-apa

  8. Sebelum di renovasi aku pernah ke museum ini dan menemukan koleksinya berjamur. Menyedihkan.
    Sekarang kondisi museum sudah lebih baik walaupun aku merindukan headset yang bisa kasih informasi cerita dengan detail. Kalau gak punya pengetahuan tentang perwayangan bakalan gak terlalu paham dengan siapa adalah siapa.

    Btw itu Karna di bagian judul mestinya pakai huruf K besar. Reseh kan guwe🙂

    1. Waaahh, dulu dikasih headset, ya. pasti asyik tuh mbak, kalau njelajah isi museumnya sambil dengerin penjelasan di headset. Apalagi kayak aku yang pengetahuan soal pewayangannya minim banget.

      Hahahhahaha iyaaa, kemarin kok ya bisa-bisanya kelewat ga merhatiin penulisan judul. Makasih masukannya mbak Tjetje *langsung edit K besar*

      1. hoalaah … ternyata aku yang terlalu cepat menyimpulkan😆

        Tapi kayaknya asyik juga ya kalau setiap pengunjung bisa rekues headset ke petugas pas mau keliling2 di sana

  9. saya pernah ke museum ini mbak, tapi ntah kenapa saya ‘tidak nyaman’ dengan suasana di dalam museum. padahal masih ada hutang ngajakin ponakan ke sini :))))

    ntah bisa terlaksana kapan :))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s