Selamat Jalan Pak Guru

Siang itu sepulang sekolah, saya diajak Mbak Erid untuk belajar melukis di rumah Pak Ut. Sebelumnya, sudah ada beberapa teman yang ikut belajar di sana. Jadilah sebagai murid baru, hari pertama belajar di sana lebih banyak menghabiskan waktu melihat teman-teman lain melukis daripada menyelesaikan gambar sendiri.

Berbeda! Itulah yang saya rasakan selama di sana. Suasana belajarnya jauh berbeda dengan suasana di sekolah saat pelajaran menggambar. Belajar melukis di rumah Pak Ut (yang kemudian kami sebut sanggar) sangat menyenangkan dan penuh kejutan.

Setiap belajar di sana, ada saja pengetahuan yang dibagikan Pak Ut sambil melukis. Kami diajak belajar melukis dari teknik dasar, sketsa. Setelah itu, kami diajak mengenali karakteristik peralatan gambar dan jenis-jenisnya. Kami juga diajak mengenali warna dan teknik membaurkan warna, supaya gambar kami terlihat lebih hidup.

Jujur saja, daya imajinasi saya sangatlah kurang. Kalau di suruh menggambar, pastilah menggambar mainstream (pegunungan a la anak SD) dengan warna yang itu-itu saja. Di sanggar Pak Ut, saya diajak untuk berani keluar dari zona aman, belajar melukis hal-hal yang tidak biasa.

Ketika banyak anak lain di daerah kami mengandalkan cat air dan pensil warna, kami yang belajar di sanggar sudah diajari cara menggunakan crayon dan cat minyak. Bukan hanya menggunakan media yang berbeda, kami juga diajari teknik yang berbeda saat mewarnai lukisan.

 

Untuk anak-anak usia 9 – 12 tahun, kemampuan melukis kami saat itu sudah sangat baik. Tidak heran, saat ada perlombaan melukis baik di Tuban maupun Bojonegoro, anak-anak dari sanggar kami seringkali menjadi langganan juara, dari berbagai  kategori.

Ah, saya ingat. Pernah suatu kali, saat masih bersekolah di madrasah ibtidaiyah, saya dan teman-teman sekelas mendapat tugas melukis rumah adat, hanya menggunakan pensil. Saat teman yang lain sibuk menggambar rumah Joglo, saya memilih menggambar Umala Utem, rumah adat Timor Timur. Ternyata hasil lukisan saya saat itu melebihi ekspektasi ibu guru dan mendapat nilai tertinggi di kelas.

Pun sama ketika menginjak bangku SMP. Pak Guru kesenian sangat menyukai hasil lukisan saya, dan beberapa diantaranya sering dibawa beliau untuk dijadikan contoh di kelas lain, kadang juga saat mengajar adek kelas.

Banyak yang  menyangka kalau saya memang berbakat melukis sejak kecil. Yang sebenarnya adalah saya tidak terlalu pandai menggambar. Kalau pun menggambar, pastilah hasilnya standar dan tidak menarik, Namun setelah belajar di sanggar Pak Ut, kemampuan melukis jadi meningkat pesat.

Sungguh, jika bukan karena Pak Ut, mungkin saya akan menjadi anak yang biasa saja dalam pelajaran kesenian (melukis). Berkat didikan beliau, saya dan teman-teman bissa mencapai yang terbaik yang kami bisa.

Beliau adalah salah satu guru terbaik yang saya punya, yang selalu membuka pintu rumahnya untuk kami belajar di sana.  Sering kali kami membuat rumah beliau berantakan dan kotor saat melukis di sana, tetapi beliau dan istri tetap sabar mendampingi kami. Beliau rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengajar, walaupun tanpa dibayar.

Pagi ini, saya mendapat pesan dari bapak via watsap. Beliau mengabarkan kalau Pak Ut meninggal dunia.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun ….

Selamat jalan Pak Ut, terimakasih telah membuat masa kecil kami menjadi penuh warna dan menyenangkan. Terima kasih telah mengajak kami bertualang, menjelajah ide dan kemampuan, sehingga bisa menjadi yang terbaik.

 

9 thoughts on “Selamat Jalan Pak Guru

  1. Turut berduka cita… Dan penasaran pengen lihat lukisan-lukisan njenengan dan Almarhum Pak Ut🙂

    1. Kalo lukisanku, sudah wasalam semua Qy, lah itu jaman masih SD *skrg jangan disuruh nglukis lagi,parah hasilnya*
      Kalau lukisan Pak Ut, besok coba kucarikan ke rumah bu dhe

      1. Diasah lagi mbak Dian, siapa tahu bisa diupload di blog dan dikomentari🙂

  2. dari dulu sampai sekarang, aku kalo gambar atau ngelukis, gak pernah bisa move on dari dua benda ini mbak: gunung kembar dua, sama matahari. HAhahahaa. Pekok yo?.

  3. Sepertinya menyenangkan ya belajar bersama Pak Ut. Pasti beliau bangga deh kalau murid2nya terus menggambar/melukis meskipun tanpa kehadirannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s