Belajar di Jagongan Matoh

10885292_1424516981122303_3092596258451246927_n
Dumber : FB Jagongan Matoh

Nama acara ini Jagongan Matoh. Keduanya berasal dari Bahasa Jawa, Jagongan (nongkrong) dan Matoh (keren/bagus/apik). Menurut saya, nama ini sangat bisa mepresentasikan kegiatannya.

Memangnya Jagongan Matoh ini apa, sih?

Sebenarnya, kegiatan Jagongan Matoh ini berada dibawah naungan Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban. Seperti yang diutarakan oleh Pak Partana, salah satu pegawai dinas yang kami temui di lokasi acara kemarin, Jagongan Matoh memang bagian dari program kerja Dinas Perekonomian dan Pariwisata yang bekerjasama dengan beberapa pelaku ekonomi lokal, dan memfasilitasi masyarakat untuk bisa sharing bersama para ahli secara gratis untuk umum, sehingga semua masyarakat bisa datang ke acara ini. Ppsssttt, tentunya yang semacam ini tidak boleh dilewatkan.

Sebagai masyarakat yang sering bersentuhan langsung dengan program-program Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban, tentunya saya senang dengan adanya program baru, Jagongan Matoh ini. Bagi saya, program-program dinas perekonomian dan pariwisata tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga semakin kreatif dan inovatif. Pihak pemerintah ini tidak hanya dekat, tetapi juga membaur dengan masyarakatnya. Eh, saya mengatakan begini bukan karena dapet bonus voucher dan album lagu-lagu yaaaa :p Itu serius, lho.

Kembali lagi ke Jagongan Matoh. Kegiatan ini masih seumur jagung dan baru dilaksanakan 11 kali pertemuan. Jenis kegiatan yang diusung sebenarnya adalah talk show, tetapi dikemas secara lebih sederhana, santai, dan materi-materi yang disajikan pun beragam setiap minggunya. Oiya, pembicara yang diundang pun bukan orang sembarangan, bahkan beberapa diantaranya biasanya dijumpai di acara seminar-seminar.

Walaupun masih terbilang baru, tetapi penyiapan acara mulai dari pemilihan konsep, tata letak panggung, pembuatan banner kegiatan, pencarian sponsor, dan juga promosi dilakukan secara profesional. Jika tidak diberi tahu bahwa kegiatan ini baru menginjak minggu ke-11, mungkin saya akan mengira ini kegiatan rutin yang sudah dilakukan sejak lama.

Berbeda dari biasanya, Jagongan Matoh kemarin dilaksanakan pada hari Senin (biasanya hari Rabu). Pembicara yang diundang adalah seorang profesional muda asal Tuban yang kesehariannya tinggal di Jakarta, Mas Sunarsip (saya kemarin keceplosan memanggil beliau dengan sebutan “mas”, bukan “pak” seperti yang peserta yang lain #tepokjidat). Mumpung beliaunya pulang kampung kali ya? Jadi bisa dicegat untuk bagi-bagi ilmu, hehhehe.

10345739_10203072278623372_675393119348031711_n
(Sumber : Pak Benny, Apa Kabar Tuban)

Begitu mengetahui siapa pembicara yang diundang, saya pun segera melingkari kalender, mengosongkan jadwal menonton Jodha Akbar, mengajak teman untuk datang, dan tentunya niat ingsung walaupun hujan, akan tetap datang. Ndilalah alhamdulillah kok cuara cerah🙂

Seperti yang saya duga, Jagongan Matoh kali ini memang menarik. Persiapan untuk kegiatan kemarin bagus, pematerinya oke, pesertanya juga aktif dalam sesi tanya jawab, dan suasana diskusi pun sangat menyenangkan. Bagi saya yang awam ini, tentunya materi dan hasil diskusi adalah hal baru, tetapi tetap mudah di pahami.

10882363_1426624414244893_5983327320546340787_n
(Sumber : FB Jagongan Matoh)

Untuk mempersiapkan acara ini tentu butuh waktu, mulai dari melobi narasumber, menyiapkan panggung, memasang terop, dan menata kursi. Belakangan baru saya tahu kalau persiapan ini sudah dilakukan sejak siang.

1959400_1426394930934508_2522650439949317559_n
(Sumber : FB Jagongan Matoh)

Satu kekuarangan acara kemarin adalah waktu pelaksanaan yang molor. Sudah menjadi rahasia umum, “jam karet” adalah salah satu PR yang belum bisa diselesaikan sampai sekarang. Tentunya, untuk mengatasi “jam karet” ini, perlu kerjasama dari berbagai pihak, termasuk pada penyelenggaraan Jagongan Matoh.

Pihak panitia/penyelenggara sudah bersiap sejak beberapa hari sebelumnya bahkan sampai beberapa menit sebelum jadwal acara dimulai. Sejak siang, beliau-beliau sudah mempersiapkan lokasi dan kebutuhan penunjang lain untuk acara, bahkan sampai pukul 18.45, saya masih menjumpai bapak pegawai dinas yang mengenakan seragam kerja, padahal seharusnya beliau sudah berganti baju batik seperti yang lain. Ini menujukkan betapa beliau-beliau ini sudah bekerja keras mempersiapkan acara kemarin, supaya bisa berjalan lancar.

Pihak pemateri pun datang menyesuaikan dengan waktu undangan, karena beliau orang sibuk, jadinya waktu sudah terjadwal di agenda beliau.

Yang saya sayangkan kemarin, sampai pukul 19.30 hanya sebagian kecil peserta yang sudah duduk di lokasi acara, padahal di banner acara disebutkan acara akan dimulai pukul 18.45. Mungkin saja para peserta ini  sudah datang, tetapi melipir ke kios-kios karena melihat lokasi acara masih sepi, jadi menunggu penuh baru ikut bergabung. Di sisi lain, pihak panitia pun sudah menunggu para peserta segera mengisi tempat duduk yang disediakan, sehingga acara bisa langsung dimulai.

Berharapnya, pada penyelenggaraan mendatang, semua pihak saling bahu membahu dan bekerjasama agar acara Jagongan Matoh bisa dilaksanakan tepat waktu.

Bukankah jika diskusi bisa dilaksanakan tepat waktu, kita jadi memiliki waktu lebih untuk berdiskusi dengan narasumber, sehingga bisa belajar lebih banyak? Berdasarkan pengalaman, diskusi-diskusi seru semacam ini berpotensi membuat lupa waktu. Tahu-tahu sudah jam 10 malam!

Bukankah dengan datang tepat waktu, kita sudah menghargai pihak penyelenggara, menghargai narasumber, menghargai peserta lain yang datang, dan tentunya menghargai diri sendiri?

***

PS : semoga diwaktu mendatang, semakin banyak lagi yang datang ke acara “Jagongan Matoh, Mantap,Bro!” ini, dan tentunya semoga semakin banyak juga manfaat yang didapatkan dari mengikuti acara ini.

***

Awalnya, kritikan tadi sebenarnya ditujukan untuk peserta Jagongan Matoh yang memang kemarin agak terlambat berkumpul di lokasi acara, padahal pihak panitia penyelenggara dan narasumber juga sudah siap sebelum jadwal.

Setelah membaca postingan ini, saya mendapat tanggapan dari pihak panitia mengenai waktu yang molor dari jadwal dan menjelaskan juga tentang tantangan-tantangan dalam menyelenggarakan acara talk show outdoor seperti ini. Tanggapan yang disampaikan sangat baik, juga informatif, menunjukkan sisi profesionalisme sebagai pihak penyelenggara.

Hal ini patut menjadi panutan, bukan hanya dari segi penyelenggaraan acara saja, tetapi juga kesiapan menerima kritikan/saran begitu acara selesai dilaksanakan. Sungguh, acara dan panitia kegiatan ini sangat layak mendapat acungan jempol ^_^

! jagongan matoh

Jika kalian ada di Tuban pada hari Rabu, datang yuk ke Jagongan Matoh ini.

Otsukaresama deshita, minna san ^_^

7 thoughts on “Belajar di Jagongan Matoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s