Montmartre

! montmartre Judul : Montmartre Hatiku Tertinggal

Penulis : Olenka Priyadarsani

Genre : Novel

Halaman : 264

Cetakan I : Oktober 2014

Penerbit : DAR! Mizan

ISBN : 978-602-242-543-4

***

Saya mendengar kabar tentangnya sejak dia masih dalam kandungan, entah di usia kandungan yang ke berapa bulan. Si ibu, hanya bercerita sekilas, bukan tentang nama maupun bentuk rupanya. Ah! Bumil yang satu ini memang penuh misteri. Setiap kali dia bercerita soal kelahiran anak barunya, pasti saya langsung penasaran, lalu bertanya “yang ini, ya?’. Ternyata, saya masih harus bersabar menunggu, sampai si bayi yang ini lahir. 

Akhirnya bayi ini lahir di bulan Dzulhijjah 1435 / Oktober 2014, tetapi saya baru bisa menimangnya bulan Desember. Montmarte, itu nama bayinya. Paduan warna oranye, ungu, pink, dan sedikit putih pada sampul depannya, membuat Montmartre terlihat menarik. Belum lagi soal judulnya, Montmartre, yang memancing penasaran bagi yang belum mengenal nama itu. Saya pun sempat bertanya-tanya, Montmartre itu bahasa apa, artinya apa, dan lain sebagainya.

Ternyata, Montmartre adalah nama suatu kawasan yang merupakan pusat imigran di Paris. Berlatar Perancis – Indonesia, Paris – Jawa, Montmartre banyak menyuguhkan percakapan dalam 4 bahasa : Perancis, Inggris, Indonesia, dan Jawa. Oh! Jangan khawatir, kita tetap akan bisa mengikuti percakapan-percakapan yang ada di dalamnya🙂

Montmartre bercerita tentang perjalanan dua tokoh sentralnya, Sophia dan Dimas, dalam meraih cita dan cintanya. Sophia, seorang muslimah dan berhijab, memiliki ibu orang Perancis dan ayah Lebanon, menjadikan Sophia memiliki wajah yang cantik, perpaduan Eropa dan Arab. Dimas, seorang pemuda yang memiliki pekerjaan (yang sepertinya menjadi) idaman banyak orang, bekerja sambil jalan-jalan.

Takdir mereka berdua dimulai sejak pertemuan tidak sengaja yang penuh drama di kios milik ibu Sophia. Pertemuan pertama yang berkesan, berlanjut dengan pertemuan-pertemuan lain yang membuat keduanya semakin dekat, bahkan ketika Dimas sudah kembali lagi ke Indonesia. Roller coaster hubungan dua sejoli ini mulai bergerak cepat sejak Sophia memutuskan terbang ke Indonesia, melakukan penelitian untuk bahan tesisnya sekaligus menemui Dimas.

Ngaku laki-laki jangan cemen, apalagi kalau melibatkan persoalan hati. Hati perempuan itu lembut, jangan pernah disakiti.

Dimas adalah orang Indonesia pertama yang dikenal Sophia. Di tengah perjalanannya selama di melakukan penelitian, Sophia dipertemukan dengan banyak orang lain, salah satunya Fasial, dosen muda UGM yang kegantengannya mengalahkan Dude Herlino.

Ditengah kegelisahan soal kisah cintanya, Sophia dihadapkan pada dua pilihan yang cukup sulit, melabuhkan hati pada Faisal atau tetap memperjuangkan Dimas. Hubungan Sophia yang tenang bersama Faisal, berbanding terbalik dengan hubungannya dengan Dimas yang penuh gejolak dan tarik ulur.

Rentang waktu 6 bulan terasa sangat singkat karena banyak hal yang muncul dan terjadi di hidup Sophia. Kisah cinta yang too good to be true namun berakhir secara mengejutkan, serta kegelisahan dan proses letting go yang mempertemukannya dengan semangat hidup baru, cukup berhasil mengaduk-aduk emosi saya, sebagai pembaca.

Sepanjang membaca Montmartre, saya seperti berolahraga. Ada bagian pemanasan, inti, dan pendinginan. Hanya saja, bagian pemanasan terasa agak lambat untuk saya. Wajar saja, karena pada bagian ini belum muncul percikan konflik yang menguras emosi.

Yang menarik dari Montmartre ini, ceritanya tidak melulu soal kisah cinta antara dua, tiga, empat sejoli yang sedang mabuk asmara, tetapi penulis berhasil meramu banyak cerita dan menampilkan cinta yang lebih luas, cinta pada sesama manusia. Montmartre menghadapkan saya pada sisi manusiawi manusia, yang kadang terlewat begitu saja. Selain itu, informasi yang disajikan dalam novel ini juga cukup apdet, dan berhasil membuat saya tesenyum berkali-kali.

Informasi-informasi inilah yang membuat saya merasa seperti membaca sebuah jurnal perjalanan yang beraroma kisah merah jambu. Bagi penyuka novel berlatar traveling, Montmartre ini bisa banget dimasukkan dalam daftar bacaan yang ingin dibaca😀

Oiya, sebenarnya ada satu bagian, tepatnya satu paragraf dalam novel ini yang sangat istimewa untuk saya, karena …….biarkan ini jadi titik-titik saja…… Saking istimewanya, sampai-sampai saya menuliskan bocoran isi titik-titik tadi di Path *kedip2*

Apakah kalian sudah membaca Montartre juga?

14 thoughts on “Montmartre

  1. Mbak aku minjem mbak hahaha,,, aku dolek gratisan ae mbak *digemplang simbok*
    nek nulis review buku mbok dikasih detil bukunya, sing ngarang sopo, tuku nandi, regone piro, pirang halaman bhuahaha

    1. Whahhahahhahaaa, iya ya Lid. Kok aku lupa ga nyantumin itu #TepokjidateAlid

      Sik sik sik, tak tambahane info ne, sopo ngerti engko entuk cap ketjup di halaman pertama seko mbak Olen😆

      Pinjem? Boleeehhh … Jupuk ndek Tuban opo pamit mba Olen sik :p

      1. Wah! Soal rego adalah tergantung kamu belinya di toko buku mana Ar. Kemarin aku dapet di Gramed harga 55 ribu. Mungkin klo di Togamas dan toko buku online beda harga lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s