Surat Terbuka Untuk Kepala Puskesmas Kebonsari

Assalamualaikum

Ibu Noor, sekali lagi saya meminta maaf atas ketidaknyamanan terkait soal salah satu postingan blog, yang membahas keluhan saya terhadap Puskesmas Kebonsari Tuban.

Sepertinya surat ini akan panjang isinya. Saya berharap, ibu (& juga masyarakat yang mengikuti kasus ini) tidak keberatan membaca apa yang saya tulis. Walaupun bukan lulusan magister sastra/bahasa, tetapi saya akan mencoba menulis sebaik yang saya bisa, supaya informasi dan klarifikasi di sini dapat mudah dipahami oleh semua. Saya senang, karena pada akhirnya saya bisa berbincang langsung dengan ibu, walaupun hanya via telepon. Sungguh, butuh kebesaran hati seorang pemimpin untuk menyelesaikan permasalahan seperti ibu kemarin. Saya dan teman-teman sangat salut dengan tindakan ibu. Sebelumnya, bolehkan saya menceritakan ulang soal kejadian waktu itu? Tentunya dengan lebih singkat dan bahasa yang sederhana.

Pagi itu, pergelangan tangan saya terkena pecahan piring. Jika pecahan piring mengenai bagian tubuh yang lain, tentunya saya akan lebih santai mengatasi luka tersebut. Yang membuat saya panik adalah luka tersebut melintang tepat di daerah nadi dan terjadi pendarahan. Sebagai orang yang tidak tahu banyak soal penanganan luka, saya langsung panik ketika melihat darah yang keluar yang keluar dari bagian pergelangan tangan. Karena merasa kondisi tersebut darurat, saya pun langsung minta antar ke Puskesmas untuk dibantu mengecek luka. Sesampai di Puskesmas, loket sudah tutup, ibu sedang ada dinas luar. Jadi, saya pun mencari pegawai puskesmas yang bisa menolong saya. Lalu, terjadilah percakapan yang saya tulis di postingan terdahulu.

Yang membuat saya kecewa, bahkan sampai mengeluhkan situasi tersebut di blog adalah saya tidak mendapatkan jawaban mengenai kondisi luka saya hari itu, padahal saya sudah meminta tolong untuk hanya melihat luka saja. Jika luka tersebut parah, maka saya akan ke dokter/rumah sakit. Jika luka tersebut tidak parah, maka saya akan ke apotek.

Sampai perbincangan via telepon dengan ibu kemarin Sabtu, ada satu hal yang masih menggantung yaitu pemahaman soal darah mengucur. Pada postingan terdahulu, saya menuliskan pengandaian seperti ini : “Lalu saya pun berandai-andai, jika dan hanya jika tadi lukanya benar-benar sampai menembus pembuluh arteri dan darah keluar sampai bercucuran, akan seperti apa nasib saya?”. Mohon maaf jika pengandaian saya terlalu hiperbolis, dan berujung pada mempertanyakan apakah pegawai akan melakukan hal yang sama atau segera bergerak membantu saya (jika dan hanya jika luka saya menembus arteri).

Mungkin bagian kalimat itulah yang membuat pegawai Puskesmas Kebonsari keberatan, dan menganggap tulisan saya mengada-ada, karena memang saat itu darah saya tidak bercucuran. Kalimat tersebut hanya sebuah perumpaan, untuk kondisi yang lebih parah daripada kondisi saya saat itu.

Yang terjadi adalah darah saya memang keluar cukup banyak, tetapi masih bisa terbendung oleh kapas, dan belakangan (setelah mendapat klarifikasi dari seorang teman dokter via email), barulah saya tahu bahwa luka tersebut hanya menembus pembuluh vena, dan hanya perlu tindakan ringan untuk mengatasinya.

Masalahnya, saya tidak tahu seberapa parah kondisi luka saat itu. Pihak Kebonsari pun tidak memberikan keterangan apa-apa, sampai pada akhirnya saya meninggalkan Puskesmas Kebonsari dan mencari dokter praktik yang sekiranya dapat membantu saya mengobati luka tersebut.

Mungkin pegawai puskesmas berbaik sangka, bahwa saya akan bisa menangani kondisi itu dengan baik, walau pun tanpa diberikan pengarahan. Karena (mungkin) menurut standar mereka, luka tersebut tidak termasuk ciri-ciri luka berat yang memerlukan tindakan medis dengan segera.

Di sini, ada gap informasi yang cukup besar antara saya sebagai pasien yang tidak banyak tahu soal kesehatan, dengan pihak puskesmas yang berlatar belakang medis. Semua pihak merasa benar, menurut sudut pandangnya masing-masing tentunya, dan belum menemui titik temu sampai hari Sabtu. 

Kecewa! Itu yang saya rasakan saat itu.

Gara-gara kekecewaan tersebut, saya pun menuliskan keluhan yang ternyata berdampak tidak baik pada citra Puskesmas Kebonsari. Kejadian tidak menyenangkan dengan salah satu pegawai, sudah membuat  saya menilai kinerja Puskesmas Kebonsari secara keseluruhan, padahal saya baru periksa ke sana hari itu.

Saya mendapatkan respon untuk cukup banyak dari netizen, ada sebagian yang saya kenal, ada juga yang beru saya kenal setelah membaca postingan tersebut. Selain mendapat respon via blog, media sosial, saya juga mendapat klarifikasi detail mengenai kondisi tersebut via email dari seorang teman yang berlatar belakang medis. Klarifikasi lengkap tersebut menjelaskan tidak hanya tentang bagaimana kondisi luka saya saat itu, penanganannya, tetapi juga menceritakan tentang kegiatan dan betapa puskesmas sering kekurangan SDM untuk membantu pasien.

Ibu …

Sebagai pasien yang tidak banyak tahu soal kesehatan, yang saya butuhkan adalah sebuah klarifikasi dari pihak yang berkompeten soal ini. Membaca kiriman email dari teman tersebut, saya pun jadi lebih memahami pertimbangan pihak Puskesmas Kebonsari, walaupun tetap menyayangkan kenapa tidak menginformasikan tentang kondisi saya hari itu.

Melalui postingan ini, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak Puskesmas Kebonsari.

Apalagi setelah mendapat klarifikasi yang cukup lengkap dari ibu kepala puskesmas,  dr. Noor Istichawari. MM.Kes. baik via telepon maupun kolom komentar blog. Kesediaan ibu untuk datang ke rumah menyelesaikan permasalahan ini (walaupun pada akhirnya tidak bertemu dengan saya), tidak mempersulit saya menghubungi ibu dan menyediakan waktu untuk berbincang via telepon, bahkan bergerak aktif menuliskan klarifikasi detail via kolom komentar, tentunya itu semua mencerminkan kualitas kepemimpinan ibu yang tidak hanya berwibawa, tetapi juga bijaksana dalam menghadapi permasalahan.

Ibu Noor, paragraf di atas bukan pujian, tetapi pendapat saya pribadi tentang ibu. Mengingat saat ini tidak semua pemimpin mau terjun langsung menyelesaikan permasalahan dengan masyarakatnya, tindakan ibu sungguhlah luar biasa.

Mengetahui ibu adalah seorang lulusan Magister Manajemen Kesehatan, tentunya hal ini menjadi nilai lebih, bahkan jaminan untuk saya, bahwa saat ini sedang berhadapan dengan orang yang sangat ahli di bidang kesehatan, dan tentunya dapat diandalkan. Karena itu saya yakin, penguasaan ibu terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan pastilah sangat baik. Terbukti dari bagaimana ibu memberikan penjelasan tentang hal-hal yang saya pertanyakan di postingan sebelumnya.

Melayani pasien tidak hanya soal mengobati, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan informasi pada pasien. Benar begitu, ibu? Mohon koreksi kalau saya salah mengartikan.

Dari obrolan via telepon kemarin, barulah saya tahu bahwa tanggungjawab pegawai Puskesmas Kebonsari bukan main beratnya. Begitu mendengar dan membaca klarifikasi dari ibu, saya jadi tahu benar bahwa kesalahan saya sangatlah besar. Kekecewaan pada satu orang, sudah menodai kerja keras banyak orang di Puskesmas. Apalagi setelah tahu, bahwa jam kerja pegawai Puskesmas Kebonsari yang sebelumnya saya nilai sangat santai, ternyata berkebalikan. Saya juga baru tahu kalau  selain berdinas di dalam puskesmas, para pegawai juga aktif berdinas di luar, juga datang langsung ke wilayah-wilayah binaan. Ternyata, pihak kebonsari sangat aktif “menjemput bola” dalam hal memberikan pelayanan.

Informasi dari ibu, terkait jam buka dan tutup loket tentunya sangat berguna untuk kami, masyarakat yang berada di lingkup wilayah pelayanan Puskesmas Kebonsari.

Jam kerja : 6 hari kerja dalam 1 minggu (ytanpa ishoma)

Senin – Kamis : 07.00 – 14.00

Jumat : 07.00 – 11.00

Sabtu : 07.00 – 13.00 

Selain melayani pasien di kantor puskesmas, Puskemas Kebonsari juga mengayomi beberapa desa/kelurahan dan sering melakukan kunjungan langsung, memiliki sekolah binaan mulai dari TK dan PAUD, SD SMP, bahkan SMA. Melakukan program pelayanan masyarakat seperti posyandu, posyandu lansia, posbindu, pos UKK, dan juga mengayomi 5 pos di pesantren.

Selain itu, ibu juga bercerita bahwa Puskesmas Kebonsari sering menangani kasus-kasus darurat, walaupun sudah melewati jam kerja puskesmas, seperti kasus seorang anak sekolah yang mengalami kecelakaan pada jam pulang sekolah, yang mana pada jam tersebut loket sudah tutup, tetapi si anak tetap mendapatkan perawatan yang baik bahkan sampai ada tindakan ekstraksi kuku, walau pun si anak tidak mempunyai KTP dan uang. Di lain waktu, pernah juga pihak ibu tidak segan mendatangi pasien langsung ke rumahnya, mengingat pasien tersebut sudah lanjut usia dan lumpuh.

Membaca penjelasan ibu, dan saya pun akhirnya tahu bahwa Puskesmas Kebonsari juga melayani HOME CARE (hot line : 0356 324589), yang mana program ini akan sangat berguna untuk kondisi-kondisi darurat seperti ketika seseorang yang hendak melahirkan. Tim ANC yang  terdiri dari 5 orang ini tentunya selalu berusaha sebaik mungkin memberikan pelayanan pada pasien.

Kebijakan HOME CARE ini menurut saya adalah terobosan hebat dan membuat pihak Puskesmas Kebonsari menjadi lebih dekat dengan masyarakat yang berada di wilayah naungannya.

Selain beberapa hal tersebut, tentunya ada banyak kebaikan lagi yang dilakukan oleh pihak Puskesmas Kebonsari yang tidak saya tuliskan di sini, tetapi bisa dibaca di klarifikasi pada kolom komentar postingan sebelumnya.

Ibu tahu, penjelasan ibu tersebut bisa mengurangi kekhawatiran kami soal penanganan pasien kondisi darurat yang datang ke puskesmas. Kami jadi tahu, bahwa bagaimana pun kondisinya, kami tetap akan mendapatkan perawatan yang layak, sekiranya memang kondisi tersebut darurat dan membutuhkan penanganan yang cepat.

Sungguh ibu, ini adalah hal yang baru untuk saya, dan sekarang sadar bahwa kesalahan pandangan saya soal kinerja puskesmas sangat besar. Saya pun jadi bisa memaklumi keberatan pihak Puskesmas Kebonsari atas pencemaran nama baik di postingan saya terdahulu.

Saya menuliskan postingan tersebut mewakili individu dan tidak berniat mencemarkan nama baik instansi Ibu. Sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena hal yang kecil, saya justru membuat keluhan yang berujung pada pencemaran nama baik Puskesmas Kebonsari. Semoga pihak Puskesmas Kebonsari mau memaafkan kesalahan saya ini.

Ibu tahu?

Berbincang dengan ibu sangatlah menyenangkan. Saya bisa mendapat klarifikasi dan penjelasan detail tentang apa-apa saja yang saya pertanyakan sebelumnya. Penjelasan ibu tidak defensif, dan di saat yang sama juga tidak menyudutkan saya yang menuliskan keluhan via blog. Ibu justru memperlakukan saya dengan baik dan mengajak berbincang layaknya keluarga yang saling mengharap pengertian.

Keramahan dan kebaikan Ibu langsung mengingatkan saya pada para bidan dan perawat yang aktif keluar masuk kampung untuk memberikan pelayanan langsung pada masyarakat.

Karakter “hangat” seperti inilah yang membuat kami merasa tenang, diayomi, dan yakin bahwa kami punya pihak-pihak yang bisa diandalkan untuk membantu  jika suatu saat menghadapi masalah yang terkait kesehatan.

Terima kasih Ibu, untuk klarifikasinya yang bahkan sampai 2 kali. Terimakasih untuk pengertiannya. dan sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak Puskesmas Kebonsari untuk kelalaian saya sebagai pasien dalam menuliskan keluhan. Tolong sampaikan salam hormat dan permohonan maaf saya yang sebesar-besarnya pada beliau-beliau yang di sana nggih,Bu🙂

*****

Saya ingat, kemarin ibu bercerita bahwa njenengan menganggap semua masyarakat yang ada di bawah pengayoman wilayah kerja Puskesmas Kebonsari adalah keluarga, termasuk saya yang sudah membuat keonaran. Terima kasih untuk kebaikan ini.

Sebagai keluarga, boleh saya bercerita sesuatu, sekaligus menyampaikan masukan?

Sekali lagi mohon maaf, ibu. Bukan bermaksud lancang untuk memberikan nasehat, tetapi sekedar masukan dari saya dan teman-teman yang semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk lebih memajukan lagi Puskesmas Kebonsari.

Harapan kami, pelayanan kesehatan di negara ini semakin maju dan lebih mudah diakses, salah satunya tentu Puskesmas Kebonsari yang sempat menjadi obrolan hangat diantara kami.

Minggu lalu, blog saya sangat ramai dikunjungi pembaca karena ada diskusi menarik di kolom komentar postingan soal Puskesmas Kebonsari. Kami yang kesehariannya dekat dengan internet dan mengakses informasi lewat internet, menjadi familiar dengan aneka jenis keluhan, kritikan,dan juga permasalahan terkait penyedia jasa dengan konsumennya.

Untuk soal keluhan penulis, mereka mungkin berpendapat bahwa ini adalah kejadian umum yang memang sering terjadi, tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga bidang lainnya. Moda transportasi, salah satu contohnya.

Namun, ada hal yang membuat kami semua – pembaca blog awardeean.wordpress.com – tercengang!

Tanggapan pertama dari pihak Puskesmas Kebonsari pada komentar berikut (mohon maaf ibu, nama saya samarkan, untuk kebaikan bersama), yang alih-alih melakukan klarifikasi terlebih dulu, tetapi justru langsung memberikan wacana somasi terkait pelanggaran UU ITE.

! respon

Membaca komentar tersebut, kami seperti terhisap mesin waktu, berasa kembali ke masa orde baru, yang mana setiap ada permasalahan seringnya diselesaikan dengan membungkam melalui jalur hukum. Kami kaget sekaligus juga berpikir. Puskesmas yang seharusnya menjadi lembaga yang dekat dengan masyarakat, mengayomi, juga menjadi bagian dari keluarga, justru terlihat sebagai sebuah instansi yang kaku dan anti kritik.

Ada banyak kritik yang disampaikan untuk Puskesmas Kebonsari. Kritik ini bukan soal bagaimana kinerja pihak puskesmas menangani sakit pasien, Tetapi kritik-kritik tersebut lebih pada bagaimana sebaiknya pihak puskesmas bersikap saat menghadapi keluhan pasien. Lebih lengkapnya, bisa dibaca-baca lagi di kolom komen postingan terdahulu.

Saya mohon maaf karena sudah memposting tulisan soal keluhan pelayanan di blog, sehingga membuat ibu dan pihak Puskesmas Kebonsari kaget.

Bukan bermaksud lancang apalagi mencemarkan nama baik pihak puskesmas. Itu semata-mata reaksi saya sebagai pasien yang merasa kecewa, dan sebagai blogger pemula, saya pun menuliskan keluhan melalui blog. Ini mungkin kali pertama pihak ibu mendapat keluhan dari media online, karena biasanya saran/kritik masuk melalui kotak saran yang ada di puskesmas.

Dalam bayangan saya (juga teman-teman), pihak puskesmas  akan mengklarifikasi dan memberikan taggapan terlebih dahulu, seperti yang biasanya dilakukan oleh banyak penyedia jasa lain (baik swasta maupun pemerintah), sehingga permasalahan dapat segera diselesaikan dengan baik. Yang membuat banyak pihak tertarik, bahkan beberapa diantaranya (saya belum kenal sebelumnya) ikut berkomentar, adalah soal keputusan somasi tersebut.

Jika diperhatian, sejak tanggal 9 Desember 2014, komentar-komentar yang muncul di postingan tersebut memiliki benang merah yang sama. Mempertanyakan sikap pihak yang dikritik terhadap pengritik.

Ibu Noor, sejak hari itu, isu mulai bergeser. Bukan lagi soal saya yang salah tanggap atas pelayanan di Puskesmas Kebonsari, tetapi lebih ke masyarakat berhadapan dengan instansi kesehatan. Banyak orang menyayangkan munculnya somasi tersebut tanpa terlebih dahulu diawali dengan klarifikasi (Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapat klarifikasi langsung dari ibu).

Sebagai badan resmi milik pemerintah, pihak Puskesmas Kebonsari tentunya paham betul soal tata cara dalam memberikan klarifikasi pada khalayak dalam bahasa tulisan, meliputi poin-poin pembahasan maupun penggunaan tata bahasa yang sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Maaf nggih ibu, bukan bermaksud untuk tidak sopan ataupun menggurui, siapalah kami yang banyak tidak tahunya soal kesehatan. Tetapi, perkenankan kami memberi masukan soal teknologi informasi, juga internet, yang mana dua hal ini sudah menjadi keseharian kami.

Kami sebagai children of technology, merasakan betul manfaat internet, dimana dunia berasa dalam genggaman dan bisa diakses hanya dengan sekali “klik”. Informasi apapun bisa dengan mudah didapatkan dari internet dan pola komunikasi pun semakin berkembang.

Perkembangan ini mau tidak mau akhirnya berpengaruh pada bagaimana cara orang menyampaikan kritikan/keluhan/saran. Jika dahulu orang-orang lebih memilih menyampaikan kritikan melalui surat pembaca koran atau pun kotak saran yang ada di instansi tersebut, sekarang banyak yang mulai memanfaatkan internet untuk menyampaikan keluhan/kritikan.

Jika menggunakan kotak saran, pemberian saran/kritikan hanya dapat disampaikan ketika kami berkunjung ke kantor instansi. Bagaimana jika kami ingin memberikan saran terkait sesuatu yang kami temui, di saat yang sama kami tidak ada waktu untuk mampir ke kantor, sedangkan saran tersebut bisa diterapkan untuk pengembangan instansi tersebut?

Saat ini, banyak sekali perusahaan maupun BUMN yang membuka portal online dan media sosial mereka untuk umum, supaya keluhan-keluhan, kritikan, serta saran dari masyarakat dapat cepat sampai dan ditanggapi.

Selain itu, jika disampaikan di ranah online, interaksi juga terjadi di sini. Ibu sudah menyaksikan sendiri, bagaimana kami berinteraksi dan berkomunikasi dengan perwakilan dari pihak Puskesmas Kebonsari di postingan terdahulu? Tidak perlu menunggu 2 minggu untuk kami bisa melanjutkan diskusi.

Kelebihan lain dari menggunakan portal online adalah pihak pemberi saran/kritik bisa menerima tanggapan tersebut secara langsung, dan di saat yang sama informasi tersebut juga akan tersebar ke pihak yang lain, yang siapa tahu juga membutuhkan informasi serupa. Seperti contohnya, klarifikasi selengkap-lengkapnya dari ibu Noor soal jam kerja pegawai Puskesmas, program-program binaan, program HOME CARE lengkap dengan hot line-nya, dan banyak program lainnya.

Bisa dibayangkan, jika pihak Puskesmas Kebonsari mulai membuka portal online, baik berupa blog, twitter, email, dan juga facebook fanpage, akan lebih banyak lagi informasi yang bisa sampai ke warga. Ada banyak tips-tips soal kesehatan yang bisa dijadikan rujukan terpercaya saat kami ingin mengobati luka kecil secara mandiri, ada banyak testimoni dari pasien puskesmas, dan ada banyak  program yang bisa diceritakan di blog yang bisa diakses oleh siapa pun dan kapan pun.

Jika semua hasil kerja yang biasa dilakukan secara offline tersebut bisa diangkat di ranah online, program-program serta edukasi publiknya semakin bagus, dan hal-hal berkaitan dengan itu bisa diakses oleh masyarakat luas (tidak hanya warga binaan), kami yakin Puskesmas Kebonsari ini nantinya bisa menjadi salah satu puskesmas terbaik dan menjadi teladan bagi yang lain.

Jika ibu ingin tahu lebih banyak soal blog, bagaimana mengelolanya, apa saja manfaatnya, dan kenapa informasi di blog bisa diakses oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia, saya dan teman-teman siap diajak berdiskusi soal ini.

Oiya, saya sampai lupa memperkenalkan teman-teman saya yang sudah berinteraksi dengan pihak Puskesmas Kebonsari sejak minggu lalu. Mereka adalah para blogger yang jam terbangnya sudah tinggi. Wilayah tempat tinggalnya pun beragam, dari berbagai pulau di Indonesia, dan juga dari luar Indonesia. Jika ada waktu senggang, monggo mampir juga ke “rumah” mereka di blog masing-masing. Ada banyak cerita seru dan juga pengalaman yang dibagi di sana.

Oiya ibu, teman-teman saya titip salam untuk pak H. Dadang Dwi Utomo, S.Kep,Ns,MM.Kes. Mereka bilang, mereka kangen ngobrol sama Pak Dadang. Mungkin kalau pak Dadang punya blog juga, boleh kami mampir? Tentunya pak Dadang punya banyak ilmu tentang kesehatan yang bisa dibagi pada kami.

*****

Saya bersyukur sekali permasalahan ini dapat diselesaikan dengan baik. Pihak ibu mau berbesar hati memberikan klarifikasi via telepon dan blog, bahkan meminta maaf soal ketidaknyamanan kemarin, sekaligus memaafkan kesalahan saya sebagai pasien yang dinilai terlalu lancang menuliskan keluhan via blog, tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke pihak puskesmas.

Berharapnya, akan menjadi pembelajaran untuk banyak pihak, baik pihak masyarakat sebagai pasien, maupun yang  berlatar belakang medis. Setidaknya – sebagai pasien – kami bisa mendapatkan pencerahan dan lebih tahu soal Puskesmas, dan pihak Puskesmas juga bisa berlatih menghadapi pasien jenis baru (yang mengandalkan media online untuk menyampaikan keluhan), mengikuti perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, dan juga semakin bersahabat  dengan masyarakatnya sebagai warga binaan yang butuh bimbingan.

Sekali lagi, terima kasih ibu, karena ditengah-tengah kesibukannya sudah menyediakan waktu untuk memperhatikan, menyelesaikan kasus ini dan membaca surat terbuka dalam postingan ini. Saya pribadi, banyak belajar dari kejadian yang berkaitan dengan ini.

Terimakasih ibu, sampaikan salam hormat saya pada pegawai-pegawai di Puskesmas Kebonsari.

 

Hormat saya,

 

– Dian –

17 thoughts on “Surat Terbuka Untuk Kepala Puskesmas Kebonsari

  1. Terimakasih mbak dian atas tulisannya…mhn maaf bila saya agak gaptek dan tidak selalu membuka internet karena kesibukan saya (hehe…gaya ya…maaf..). sehingga keluhan di bulan oktober baru bisa ditanggapi di bulan desember..
    Semoga dengan ini masalah dianggap selesai nggih…kita buka lembaran baru saja yang indah..

    1. Terimakasih bu Noor untuk waktu dan juga kebijakannya. Saya pun banyak belajar soal ini. Semoga saya bisa menjadi pasien, rakyat, dan juga blogger yang lebih baik lagi.

      Senang bisa mengenal ibu ^_^

      1. Aku kaget juga Non, trus untungnya kemarin kedua pihak saling mendekat.

        Ibu kepala sampai bikin klarifikasi, dan beliau juga tidak mempersulit ketika aku menghubungi beliau via telepon, ngobrolin soal kejadian itu.

        Bersyukur banget akhirnya semua selesai ^_^

    1. Salam kangenmu sudah kutitipkan lewat bu Noor Yan😉

      Biasanya yang dari hati, juga akan sampai ke hati. Semoga kangennya ga bertepuh sebelah tangan ya #DikataJatuhCinta #DicemplunginMusi

    1. Waaahhh, “kabar”nya sampai ke Dita juga ya? Padahal kmrn sengaja ga sebar2 link dimana2.

      Makasih sudah ikut baca & nyimak kolom diskusinya. Alhamdullillah sudah beres sekarang #hugs

  2. nimbrung ya deean, …wah wah wah duwowo banget tulisannya, i dk pake kacamata plus lagi. (usul! ganti teksnya yg gedhe ya deean) asline i ikut hepi banget walo mataku cemut2 gara2 ukuran teks yg super mini di sini. hahaha… yes yes yes. yo wis lah i ga perlu komen byk2, tp intinya adalah bahwa sebuah institusi harus ada public relationsnya agar hubungan internal & external ok! dan Ibu Noor telah menjadi seorang publict relations yg baik yg perlu dicontoh siapa saja, termasuk pak Dadang. jg saya pribadi. salam MERDEKA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s