Tentang Chic

Malam Minggu kemarin, menjadi malam Minggu kelabu bagi sebagian orang, termasuk saya. Malam Minggu yang biasa dilalui dengan ceria, mendadak berubah menjadi lebih sendu, apalagi setelah membaca banyak RT yang berseliweran di TL. Ya! Malam Minggu lalu, Majalah Chic resmi mengumumkan kalau mereka berhenti edar.

Syok? Pastinya. Saya pernah menjadi pembaca setia majalah ini. Isinya asyik, dan konten-konten di dalamnya sangatlah menarik. Bahkan, saya tertarik dengan blog, juga karena majalah Chic. Selain rubrik review blog, ada dua yang menjadi favorit saya di majalah ini, yaitu Editor’s Note dan cerita bersambung-nya Ismet (Cerbung ini ada di edisi lama).

Dulu, majalah Chic belum dipasarkan sampai Tuban. Jadi, saya baru bisa membeli majalah ini saat sedang kelua kota. Ke Surabaya atau Malang, misalnya. Selalu dan selalu, Editor’s Note Mba Chandra Widanarko menjadi bagian pertama yang saya baca. Tulisannya tidak terlalu panjang, tapi sangat mengena di hati. Sampai pada suatu ketika, Editor’s Note itu diisini oleh nama lain. Masih sama bagusnya, tetapi saya rindu membaca tulisan Mba Chandra. Syukurlah, Mba Chandra masih menulis untuk majalah ini. Saya lupa nama rubriknya, tetapi tulisan Mba Chandra ada di bagian terakhir majalah. Sejak itu, halaman terakhir menjadi halaman pertama yang saya baca setiap membeli majalah Chic, hehehehe.

Majalah ini memang diperuntukkan bagi wanita usia awal 20-an sampai pertengahan 30-an, mereka yang sedang mempersiapkan karies, dan juga yang sedang merintis karier. Tentu saja majalah ini sangat cocok untuk saya saat itu, yang baru saja lulus kuliah. Ulasan di dalamnya sangat membantu menambah wacana, sekaligus hiburan. Saking senangnya dengan majalah ini, tidak ada bagian yang terlewat dibaca, bahkan sampai daftar isi😀

Seiring bertambahnya usia, saya pun tumbuh (ya iyalah, namanya juga makhluk hidup). Kebutuhan saya pun berkembang, termasuk soal kebutuhan informasi. Saat menginjak usia 27 tahun, majalah Chic jadi terasa “terlalu muda” untuk saya. Kebutuhan informasi sudah jauh berbeda dibandingkan saat awal dua puluhan, saat saya pertama mengenal Majalah Chic. Akhirnya, sejak itu saya sudah tidak lagi membaca majalah Chic, tetapi beralih ke majalah wanita lain.

Walaupun sudah  lama tidak menjadi pembaca Chic, kabar soal majalah ini berhenti edar tetap membuat saya terkejut sekaligus sedih. Biar bagaimana pun, majalah ini pernah menemani saya saat awal usia 20-an.

Terimakasih Chic, karenamu saya belajar banyak hal, karenamu juga saya mengenal orang-orang  keren seperti mba Reda Gaudiamo dan mb Chandra Widanarko.

Sayonara, Chic!😦

32 thoughts on “Tentang Chic

  1. aku merasa tertipuuuu, kemaren kan ikut acaranya cooking class yang diadakan Chic sama tenten. Dari biaya pendaftaran 120ribu itu termasuk langganan majalah Chic 3 bulan. Ditunggu2 sampe minggu lalu kok ga pernah dikirim majalahnya, eh ternyata kemaren baca di berita kok ya dia berhenti beredar, cedih😦

    1. Pengmumannya kayak mendadak dangdut gitu ya Dit. Harusnya, kan ada pemberitahuan sejak beberapa edisi sebelumnya.Kmrn jg ada yg ngetwit, sudah langganan setahun, baru dpt bbrp edisi, majalah sdh tutup.

      Rasanya kok eman2, majalah sebagus Chic musti berhenti edar. Tapi kan kita tidak tahu pasti alasan kenapa tutup.

      1. Lhoooo … Makin panjang daftarnya😦

        Iya, padahal Kompas Gramedia itu kan penerbit besar ya mbak, dan channelnya sudah dimana2.
        Tapi memang, jaman sudah bergeser. Pola orang mencari informasi juga makin beragam.

      1. Ternyata nama besar si payung tidak menjadi jaminan si majalah bakal bertahan ya? Pasar teteup faktor utama.

        Apalagi yg baca majalah kan jumlahnya lebih terbatas drpd yg baca koran.

  2. majalah bobo masih ada ga?
    jangankan di Indonesia, di amrik saja banyak majalah besar yg berhenti edar. konten sekarang lebih digital sih yak.

    dulu beli majalah, jaman sekarang bayar langganan majalah online, tapi informasi apapun skrg byk gratisan di internet sih yak

    1. Nah itu dia Lid. Sekarang informasi yang ada di internet benar2 melimpah. Butuh info apa, tinggal ketik kata kunci, dan klik!
      Majalah online juga sudah banyak banget pilihannya.

      Kalau Bobo, sepertinya masih sih. Eman2 klo majalah ini ikut menghilang, soalnya kalau buka internet, anak2 lebih banyak mainnya daripada baca2 (kecuali ada tugas sekolah)

  3. Hmmmm walaupun saya lelaki, tapi saya beberapa kali membaca majalah ini, karena pacar saya berlangganan. Persaingan media cetak memang semakin keras, satu per satu mulai tumbang.

    1. Iyaaaa … Dan berkebalikannya, media-media online mulai menjamur dan peta persaingan juga semakin ketat.

      Kayaknya prinsip Change or Die berlaku buat media2 ini. Mereka yg fleksibel thd perkembangan (pasar dan teknologi) lah yg akan bertahan *kayak pengamat ekonomi aja, ya? hihihihi*

  4. aku langsung syok..sumpah baru tau kalo chic berhenti edar..maklum akun twitter udah dipenuhi sma sarang laba2 saking jarangnya dijenguk..padahal aku berempat sma teman sekantor rencananya mau langganan majalah chic awal tahun depan😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s