Tentang Pelayanan Kesehatan : Hati Nurani atau Birokrasi

mtf_wdtVU_553.jpg

PUSKESMAS, konon ini adalah kependekan nama dari Pusat Kesehatan Masyarakat. Fungsi diadakannya puskesmas adalah untuk membantu dan melayani masyarakat sekitar agar memperoleh pelayanan kesehatan dan pengobatan dengan cepat dan mudah.

Seharusnya sih begitu, tapi ….

Kadang, tetap saja terjadi praktik tidak menyenangkan yang terjadi di sana. Saat kondisi darurat berbenturan dengan birokrasi (yang dipahami secara sempit oleh pegawainya), ternyata keberadaan puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan tidak memberikan manfaat apa-apa. Pegawainya (dalam hal ini puskesmas Kebonsari) lebih memilih memegang erat sistem birokrasi daripada melaksanakan tugasnya sebagai pelayan masyarakat.

Seperti yang saya alami hari ini ….

Pagi ini saya mengalami kecelakaan kecil yang mengakibatkan robeknya kulit dan daging di pergelangan tangan dan pendarahan yang tidak kunjung berhenti.

Panik! Itulah yang pertama saya rasakan. apalagi ketika melihat luka sobekannya tepat melintang di daerah pembuluh darah arteri. Khawatir kondisi semakin parah dan darah yang keluar semakin banyak, saya pun bergegas memanggil adik sepupu dan meminta mengantarkan ke puskesmas terdekat.

Kenapa puskesmas? Karena saat itu sudah mendekati jam 10 pagi. Klinik dokter biasanya baru buka saat sore hari. Kalau tetap nekat ke rumah sakit, bukan tidak mungkin kami akan terjebak antrian pasien super panjang dan khawatir pergelangan tangannya semakin kenapa-kenapa *Duh! Drama banget ya?!* …. Jadilah puskesmas menjadi rujukan pertama untuk pengobatan, karena selain puskesmas ini yang paling dekat, kami juga tidak perlu lama antri dan luka bisa segera ditangani.

Akhirnya, sekitar pukul 10.15 kami sampai di puskesmas dan ternyata pelayanan loket sudah tutup. Langsung saya melobi ke ibu-ibu yang bertugas pada loket pendaftaran supaya bisa menemui dokter jaga. Menurut keterangan si ibu, dokter sedang ada tugas keluar hari ini. Saya pun menanyakan apakah ada perawat yang bisa ditemui, dan si ibu bilang ada. Kami langsung disarankan ke bagian poliklinik umum.

Ketika sampai di poliklinik, kondisi sepi. Kami mencari-cari pegawai yang (semoga) bisa ditanya tentang keberadaan perawat di sana. Lalu, ada seorang bapak paruh baya (yang duduk-duduk santai bersama dua ibu pegawai yang lain) menanyakan keperluan saya ke poli umum. Kira-kira, terjadi percakapan yang kurang lebih begini :

Bapak Judes (BJ) : poli sudah tutup mbak.

Saya si  Pasien Nelangsa (PN) : Iya pak. Tapi sama ibu di loket, saya boleh ke sini

BJ : Tidak bisa mbak. Kalau mau diperiksa, mbak harus daftar di loket dulu baru ke sini. Dan loketnya sudah tutup

PN : Apa tidak bisa pak? Saya cuma ingin mengecek kondisi luka saya. Tidak harus dikasih obat. Nanti saya beli sendiri di apotek 

BJ : oh tidak bisa mbak. Prosedurnya seperti itu. Harus daftar melalui loket, diberi surat pengantar ke poli. Nanti baru bisa diobati

PN : Saya cuma ingin mengecek aja pak. Kalau lukanya ringan, saya tinggal beli obat ke apotek. Kalau lukanya parah saya nanti langsung ke dokter

BJ : ya sudah. langsung ke dokter saja mbak. Ngapain mbak periksa di sini?  Mbak jangan menganggap remeh prosedur yang ada di sini

PN : …………………………………………….. *masih panik karena pergelangan tangan masih nyut-nyutan dan khawatir kehabisan darah*

Menerima perlakuan tidak menyenangkan yang menurut saya itu SOK BANGET, dan disaat yang sama khawatir akan kehabisan darah, tidak berpanjang-panjang debat (apalagi si adek sepupu sudah kayak cacing kepanasan siap mencak-mencak karena saking sebalnya sama si bapak), saya pun segera keluar dari puskesmas.

Untunglah di pertengahan jalan antara Puskesmas Kebonsari dan RSU Dr.Koesma ada klinik dokter yang buka, luka segera diperiksan oleh pak dokter yang baik hati, dan saya pun lega karena ternyata luka goresan tadi memang agak dalam tapi tidak sampai mengenai pembuluh arteri/nadi.  Alhamdulillah!

***

Sesampai di rumah, dan cerita ke simbah soal betapa hebohnya kami tadi, rasa dongkol pun muncul lagi. Saat pikiran sudah mulai jernih, jadi menyesal kenapa tadi tidak menanyakan nama si bapak yang arogan itu!

Jadi bertanya-tanya sendiri, apa segitu sempitnya mereka memahami peraturan dan birokrasi. Lalu saya pun berandai-andai, jika dan hanya jika tadi lukanya benar-benar sampai menembus pembuluh arteri dan darah keluar sampai bercucuran, akan seperti apa nasib saya? Mungkin saja bisa pingsan di tempat gara-gara berdebat sampai kehabisan darah.

Peraturan memang dibuat untuk dipatuhi, Tetapi jika untuk kondisi emergency dan menyangkut keselematan seseorang, manakah yang harus dipilih? Mematuhi birokrasi ataukah mengikuti hati nurani untuk memberikan pertolongan pertama pada yang  membutuhkan.

Saya bukannya mengujuk-ujuk untuk melanggar birokrasi, tetapi agak menyayangkan sikap dari pegawai Puskesmas Kebonsari tadi. Saat  itu masih jam 10 pagi, yang mana jam ini masihlah jam kerja, dan banyak pegawai negeri (di tempat yang) lain masih berjibaku dengan pekerjaannya, bahkan sampai sore. Mereka para pegawai Puskesmas Kebonsari sudah bersantai sambil bercanda di jam itu. Jika ada pasien yang mendadak ke sana dalam kondisi darurat, apa iya harus ditolak mentah-mentah tanpa dilihat dulu kondisinya. Apakah terlalu merepotkan mereka yang sedang bersantai sekedar melihat kondisi si pasien? Apa meluangkan waktu sedikit untuk memeriksa pasien itu terlalu merugikan mereka?

Tidak usahlah repot-repot menuliskan resep atau memberikan pengobatan yang nantinya akan mengurangi inventaris puskemas, cukuplah mereka mengecek kondisi dan memberikan saran pasien harus kemana dan menjelaskan bagaimana penanganan pertama untuk luka/sakitnya.  Ini tidak melanggar peraturan kan?! Menurut saya, ini masalah mau atau tidak mau saja!

Setahu saya, pegawai negeri itu ada jam kerjanya. Jika loket Puskesmas Kebonsari sudah tutup sejak jam 10.00, bukan berarti mereka juga harus pulang jam 10 kan? Bukan berarti mereka tidak bisa menolong pasien yang datang ke puskesmas setelah lewat dari jam 10 kan? Kalau tidak terpaksa, si pasien juga tidak akan nekat kesana setelah jam itu.

Mereka memang bekerja dibawah instansi pemerintah dan dibiayai oleh pemerintah. Ada atau tidak ada pasien, mereka pasti tetap menerima penghasilan tetap setiap bulannya. Tapi bukan seperti itu caranya bekerja. Bukankah pemerintah seharusnya tidak menggaji mereka dengan sia-sia?

***

Baiklah!

Anggap saja saya yang salah karena kecelakaannya terjadi saat mendekati jam 10, kok tidak jam 9 saja kejadiannya (EH!). Anggaplah saya salah sudah menggantungkan harapan setinggi langit pada sistem pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas Kebonsari. Anggap saya salah karena sudah beranggapan semua orang yang bertugas sebagai pegawai kesehatan yang tugasnya melayani masyarakat adalah orang-orang yang tergerak hati nuraninya. Anggaplah saya ini salah karena sudah menjadi korban film tentang para dokter dan para perawat yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang lain. Anggaplah saya yang salah karena baru tahu kalau birokrasi itu lebih penting daripada menyelamatkan nyawa orang.

Sepertinya memang saya yang salah😦😦😦😦

Seperti kata iklan, kalau tidak salah ya tidak belajar😀

Dari kesalahan ini, saya jadi tahu kalau nanti ada apa-apa, puskesmas ini masuk daftar terakhir yang akan di rujuk. Saya juga jadi tahu, ternyata bukan hanya saya yang mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari pihak Puskesmas Kebonsari. Saudara sepupu saya bahkan sempat mengirimkan tulisan tentang pelayanan puskesmas ini ke Surat Pembaca di koran. Selain itu, saya jadi disarakan tentang apa susahnya sih meluangkan waktu sedikiiiit saja untuk membantu orang lain. Selama kita bisa dan mampu, kenapa tidak? Toh yang dikorbankan itu waktu pribadi.

***
Pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dengan pelayanan kesehatan?

Semoga hanya Psukesmas Kebonsari ini saja yang bermasalah ya. Semoga di tempat-tempat lain, pelayanan kesehatannya sudah baik dan berstadar internasional! *Mimpi aja dulu. Gapapa kan?*

139 thoughts on “Tentang Pelayanan Kesehatan : Hati Nurani atau Birokrasi

  1. Hai mbak Dian, salam kenal
    Terseret kesini setelah nonton mata najwa malam ini
    Wow banget sampe ngos-ngosan baca komentarnya yang panjang-panjang
    Lalu menarik nafas lega karena masalag sudah terselesaikan dengan baik

    1. Selamat pagi mba Arni ^_^
      Trimakasih ya sudah mampir ke sini dan baca semua komennya sampe ngos2an, hehhehehhehe
      Alhamdulillah sudah selesai masalahnya. Ibu kepala Puskesmasnya baik, kooperatif, dan berlapang dada menerima postingan ini sebagai kritikan 🙂

  2. Hai mbak Dian salam kenal
    Terseret kesini setelah nonton mata najwa malam ini
    Wow banget deh sampe ngos-ngosan baca kolom komentarnya yang super panjang-panjang
    Lalu menarik nafas lega karena masalah sudah terselesaikan dengan baik🙂

  3. Selepas kita reformasi, kebebasan berpendapat tidak boleh di renggut oleh siapa saja.
    Meminjam, istilahnya Mas Goenawan Mohamad, “Kita tidak akan pernah menang, jika kemenangan itu adalah sebuah kesewenang-wenangan.”

    1. Kejadian ini (& juga kejadian2 lain yang dibahas di Mata Najwa semalam), semoga bisa dijadikan pelajaran, untuk semua pihak.
      Kita sebagai masyarakat, bs belajar untuk lebih baik dalam menyampaikan kritikan
      Dan pihak yang dikritik bisa belajar bersika dewasa dalam menerima kritikan. Tidak karena alasan tersinggung, langsung membabi buta memenjarakan orang lain.
      Makasih ya Bang Cupuh, sudah mampir ke sini

  4. Subhanallah, kelar juga baca komen dan postingan klarifikasinya mbak..
    Saya pernah mengalami hal yg sama, bedanya kalo saya langsung marah di tempat saat itu juga. ngomelin petugas jaga, kasir dan suster kena semprot semua soalnya waktu itu saya kena TB plus tipes, wes lemes hampir pingsan padahal di rumah sakit gede. akhirnya ditolong sama suster dari lab trus dibawain kursi roda.

    Blogger jaman sekarang powernya gede banget kan mbak, jadi punya pengaruh besar dalam penyampaian informasi masalah apapun, bahkan sepertinya info dari blog lebih dipercaya, salut sama mbak yang berani nulis tegas kayak begini.

    btw, aku pernah kemah di Rengel, Tuban mbak jaman SMA dulu, salam kenal🙂

    1. Saya juga ga nyangka mbak, kalo postingan ini bisa terbaca sama pak Nukman ^_^
      iya,di jaman digital ini, akses informasi sangat cepat.

      Semoga yang terjadi di sini bisa dijadikan pelajaran untuk lebih banyak pihak, supaya ga terulang lagi permasalahan yang sama.

      Oiya, sebenarnya yang menuntut bukan ibu kepala Puskesmas, justru beliau yang mengambil jalan tengah, makanya bisa damai ^_^

  5. Mbak Dian…kemarin pagi aku telp (aduuh…sambil garuk garuk kepala..kok ndak diangkat?hehe..). Jiah.. masuk mata najwa ya..aku loh ndak nonton, tapi karena pada ramai membicarakan akhirnya aku buka you tube nya.. tapi kok jadi aku yang dibilang menuntut ya? Nah.. akhirnya kami buat maklumat pelayanan dan tak pasang gede gede mbak..terus hak pasien juga udah ditambah dengan hak untuk mengeluarkan pendapat melalui media elektronik. Karena pada dasarnya kami senang kok mbak dengan kritik dan masukan dari masyarakat karena itu akan membuat kami menjadi lebih mengerti kekurangan kami, dan kami juga berharap masyarakatpun bisa mengerti bahwa kami juga manusia biasa yang tidak mungkin tanpa salah sebagaimana manusia yang lain, semoga kritikan dan saran itu bisa disampaikan dengan santun. (itu harapan dan juga do’a kami..)

    1. Selamat siang Bu Noor. Saya kemarin juga nggak nonton Mata Najwa, trus pas mau buka via Youtube, koneksi internet juga tidak mendukung.

      Akhirnya saya dikasih potongan video khusus yang menyebut nama saya, bu.
      Saya juga kaget kemarin, soalnya Bu Noor tidak mengeluarkan statement apa pun soal tuntutan.
      Yang sempat menuntut kan bukan Bu Noor, tapi salah satu bawahan ibu di Puskesmas Kebonsari.
      Apa saya bikin klarifikasi baru lagi ya soal ini.
      Karena masalah di postingan ini kan sudah selesai

  6. Saya tidak menyangka, kejadian ini mendapat perhatian dari banyak pihak, termasuk nara sumber Mata Najwa episode ini🙂 *terharu*

    Ada satu klarifikasi yang ingin saya sampaikan di sini, bahwa yang menggugat ke ranah hukum bukan kepala Puskesmas Kebonsari, ibu Noor Istichawari, tetapi salah satu pegawai Puskesmas Kebonsari (bisa dilihat di kolom komen postingan ini).
    Ibu Noor, sebagai kepala Puskesmas, sudah melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan ini, dan alhamdulillah sekarang sudah selesai.

    Untuk klarifikasi yang lebih lengkap, bisa membaca postingan saya yang ini https://awardeean.wordpress.com/2014/12/15/surat-terbuka-untuk-kepala-puskesmas-kebonsari-tentang-sebuah-titik-temu/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s