Kompetisi Blog Apapun Apakah

win-guest-blogging-contest
Sumber : http://www.bloggingcage.com

Belakangan ada yang sangat santer dibahas di timeline saya, khususnya di tab mensyen. Pembahasannya riuh sekali! Sampai-sampai bisa menembus puluhan twit dalam sehari dengan tema bahasan yang sama. Bagi yang ada di lingkaran pertemanan yang sama dengan saya dan teman-teman itu, pasti tahu arah bahasan ini kemana 😀 #Kode

Ya, kami sedang membahas kompetisi blog yang cukup menghebohkan jagad per-travel writer-an dan blog *Oke,mungkin ini mulai lebay*

Kompetisi blog yang berhadiah jalan-jalan ke suatu destinasi atau hadiah berupa uang tunai (dan bonus lainnya) memang sedang marak diselenggarakan, mulai dari yang disponsori oleh pemerintah sampai pihak swasta. Tema yang diusung dan syarat keikutsertaan untuk kompetisi blog pun beragam. Media promosi yang digunakan untuk menyebarluaskan info lomba juga bermacam-macam, mulai dari media cetak, elektronik, sampai media sosial. Luasnya jangkauan informasi ini tentunya menarik minat para blogger dari seluruh Indonesia untuk turut serta pada kompetisi tersebut.

Banyaknya peserta yang mengikuti kompetisi blog tentunya memunculkan iklim kompetisi yang cukup ketat. Mereka dengan berbagai latar belakang dan kepiawaian menulisnya tentu tidak asal saat mengikutsertakan tulisannya pada lomba blog.

Diperlukan ide, analisa, sampai strategi untuk bisa memenangkan sebuah kompetisi blog. Tidak hanya itu, beberapa orang teman (blogger) yang saya kenal bahkan rela mengorbankan waktunya berhari-hari untuk fokus mengerjakan satu artikel/postingan yang akan diikutsertakan pada lomba. Berlebihan? Enggak ah. Kan MAN JADDA WA JADA 😀

Membaca pengumuman kompetisi blog – memikirkan ide – mengumpulkan informasi – menulis – posting! Tahap selanjutnya adalah menunggu pengumuman sambil membaca postingan kompetitor lain. Sembari menunggu, tentunya para blogger ini siap dengan segala kemungkinannya, baik kemungkinan menang atau pun sebaliknya.

Tentu ada sebersit rasa kecewa saat tahu yang memenangkan kompetisi itu ternyata orang lain. Namun, rasa kecewa yang sebersit ini biasanya ditanggapi dengan asyik bahkan dijadikan motivasi untuk bisa membuat postingan blog yang lebih baik lagi nantinya. Dengan catatan, kalahnya secara terhormat dan dengan cara yang jujur. Namun, beda cerita kalau kalahnya karena faktor eksternal yang benar-benar ada diluar kuasa kita sebagai peserta, misal kongkalikong pihak penyelenggara, juri, dan penyedia sponsor 😀

Kalau kalah gara-gara alasan di kalimat terakhir dari paragraf atas, SAKITNYA ITU DI SINIIIIIII *tunjuk dada sendiri* <<< Njuk kelepasan curcol

Balik lagi ke bahasan paragraf pertama postingan ini, saya bukan peserta kompetisi blog tersebut, tetapi ikut gemas dan geram ketika tahu ada praktik kecurangan di sana. Apalagi ketika membaca twit-twit yang  membahas tentang kecurangan yang dilakukan panitia langsung di hadapan para finalis. Ada peserta yang anteng tapi dalam hati gondok juga, ada yang ngetwit dengan isi agak frontal, dan belakangan sudah ada beberapa yang ngetwit soal kritik sambil dibawa bercanda. Ya, ternyata drama tidak hanya terjadi dalam cerita sinetron, tetapi di kompetisi blog juga #Eh

Apakah saya jadi skeptik untuk mengikuti lomba blog lagi?

Awalnya begitu, tetapi ketika mengingat perjalanan beberapa teman yang menjadi pemenang lomba, saya jadi menarik nafas lega. Masih ada kok kompetisi blog yang penilaiannya dilakukan berdasarkan kualitas tulisan. Kenapa saya bilang begini? Karena beberapa teman … saya ambil contoh dua orang teman dulu ya (yang lain nanti bisa menyusul ditambahkan), Ari dan mas Bembi, yang berhasil menjadi pemenang walaupun mereka tidak punya “bekingan” dan followernya belum menembus angka ribuan.

Lalu, bagaimana kalau pemenang lombanya adalah mereka-mereka yang sering menang lomba, memiliki follower ribuan, stats blog tinggi, dan alexa rank yang bagus?

Hheeemmmmmm … saya menyebut itu sebagai variabel bayangan (untuk tambahan penilaian). Kalau itu terjadi, saya biasanya langsung menganalisa apa motif dan tujuan penyelenggara kompetisi blog yang biasanya berakhir pada kesimpulan …. Ah! Sudahlah. Ini bukan soal siapa pemenangnya, tapi soal bagaimana penyelenggara lomba melakukan penjurian.

Btw, blogger yang memenuhi kriteria :  sering menang lomba, memiliki follower ribuan, stats blog tinggi, dan alexa rank bagus ini memang keren ya? Pastinya butuh usaha, ketekunan, dan semangat yang terjaga baik sehingga bisa mencapai titik tersebut.

Oiya, kemarin saya menulis ini di lapak sebelah => Jadi, topik paling hot sesiangan tadi di temlen sini adalah : “sebelum ikut lomba blog, pastikan dulu jurinya siapa. Klo OK, baru ikut” :)), dan twit tersebut mendadak laris disambar teman-teman. Asyiknya, walaupun kadang nyerempet ke kalimat-kalimat yang nyinyir, tetapi ujung-ujungnya tetep jadi lucu-lucuan dan berhasil memancing tawa kami.

Ppsssttt, tema ini sepertinya masih akan hangat sampai besok. Ga ada salahnya menyetalking isi obrolan kami seharian kemarin supaya tahu versi lengkap dari isi postingan ini 😀 <<< Halah! Ternyata modus biar distalkingi

70 thoughts on “Kompetisi Blog Apapun Apakah

    1. Subhanallah Daniiiiii … iya ya, klo ikut lomba blog, otomatis kan kita apdet blog, dan itung2 nambah postingan baru juga 😆
      Tapi aku pernah menghapus postingan lomba yg kalahnya gara2 dicurangi panitia. Enak aja dpt promosi gratisan hihihiihi

      1. Nah kalo dipikir gitu bener juga sih ya, promosi gratis. Makanya saya jarang ikut lomba yang saya sendiri belom nyobain dan gak terlalu sreg ama produknya.. 😀

  1. Ternyata gak lomba2 fashion / modelling aja yg kongkalikong yah??
    Mgk mereka ambil blogger “seleb” untuk menaikkan rank mereka (pihak penyelenggara lomba) juga biar cpt terkenalnya

    1. Nah, kemarin pada bahas sama temen2 jg Cha. Pihak penyelenggara butuh orang yg dinilai bs mempromosikan mereka dengan baik.
      Tapi ini masih bisa dimaklumi sih, namanya jg motif ekonomi. Yang bikin gedeg2 itu, ada panitia yg nyata2 curang (ya walopn itu dilakukan konon karena terpaksa oleh keadaan)

    1. Kalau kalah kompetisi blog dari blogger yang tulisannya jauh lebih keren (dan layak menang), itu beda cerita sih mas. Biasanya yang seperti ini justru yang membangkitkan motivasi biar lain kali bs lebih baik lagi hehehhehe

  2. Kalau aku sih percaya mbak tiap tulisan punya rejeki masing-masing. Strategiku ikut lomba jg gak semua lomba aku ikuti. Misal lomba hadiah jalan2 yang kira-kira kalau aku menang gak bisa berangkat karena waktunya gak pas, pasti aku lewatkan. Kalau ada lomba yang aku punya ide cukup bagus untuk dieksekusi jadi tulisan, biasanya aku bakal ikut. Apalagi kalau peserta lombanya tidak banyak dan lihat hasil tulisan peserta lain aku merasa bisa mengungguli, biasanya yang kayak gitu aku jg ikut. Btw, makasih lho udah nge-ping blogku 😀

    1. Nah itu … Nah ituuuuuu
      Setiap tulisan punya rejekinya masing-masing, dan rejeki tidak akan tertukar. (Kmrn bahas2 sama Om Danan, rejeki memang tdk akan tertukar, tp cara ndapetin rejekinya itu ada dua : cara halal dan cara haram).

      Makasih juga yaa Ar obrolan2nya semalem. Isi postingan ini nggak “kelompencapir” banget kan? Masih alusan kan bahasanya? #Dibahas

  3. Hahahaha, sampe dibahas di blogpost loh ! Penting bingits ..

    Terlepas dari semua keriuhan tentang kecurangan lomba di Negeri Wonder-something itu, saya masih percaya banyak penyelenggara lomba yang beneran mempertimbangkan kualitas tulisan kita, Mba .. Dan ya kembali lagi, rejeki ngga bakal tertukar .. Trus kalo lagi nyesek kaya kemaren itu, saya selalu baca judul blog saya, Berbagi Lewat Kata .. Berbagi, itu niat awalnya, ya sudah .. Hehehehe ..

    *macak bijaksana*
    *ngekep Mas Krisna*

    1. Aku kan terinspirasi dari orolan kalian yang di timeline semalam itu lho Zah. Jadi sambil nyimak, sambil nulis postingan ini.

      Jadi keinget twit mbak Febby soal peserta blog yang tulus, jangan2 kita termasuk yg ga tulus ya? Kan pamrih pengen dapet hadiah juga hahahhahha

  4. Subhanallah, topik ini emang hits bingits deh. Tapi aku setuju sama Ari. Tulisan punya pembaca dan takdirnya sendiri. Pernah bikin postingan yang gak banyak dibaca, tp belakangan ada sopir taksi dan pemandu perjalanan yg terharu baca tulisan tersebut. Bagiku itu sesuatu banget. Lebih dari sekedar hadiah jalan-jalan dan uang tunai. Tapi klo dapet hadiah halan2 heratis dan duit gak nolak juga sih. Intinya memang utk skrg2 jadi agak selektif kalau mau ikut lomba blog lagi hehehe. Yg penting, jangan sampai patah semangat buat terus menulis dan ngeblog 🙂

    1. Subhanallah Adie ^_^
      Iya, ketika tulisan kita ternyata berkesan bagi pembaca, itu luar biasa yaaaa. Mau dong link postingan yang itu.

      Kesimpulan dari lapak sebelah kemarin memang seperti itu, sekarang lebi pilih-pilih lagi dan klo bisa intip yang jadi juri siapa #Eh

    2. Tulisan-tulisanku juga banyak yg gak dibaca orang tuh Di. Tapi yang paling seneng adalah walaupun dibaca sedikit orang, tapi dari sedikit yg baca itu bisa terinspirasi, tersentuh, atau bisa terharu sama tulisan kita itu rasanya priceless. 😀

  5. Kalo aku ikut lomba2an iseng aja soalnya kalo ada Ari pasti dia yg unggul *lhooo* 😉

    Btw 2 hari lalu ada nawarin paket follower tp koq nggak sreg ya yg begitu2. Terserahlah org mau follow atau nggak, nulis jalan terus

    1. Hahahahaa *komentar pertamanya bikin pengen nowel Ari*

      Iya mbak, follower itu bukan dibeli, tapi datang sendiri karena konten kita bagus dan menarik. Kalau banyak2an follower dari hasil membeli, apa ga kayak menip diri sendiri? #Eh

      Ppsstt, kmi jg bahas2 soal paket follower ini kmrn

    2. Huahahaha.. kok aku?!! Tapi kayaknya mbak Olive rejekinya sedang bukan dari lomba kali. Rejekinya dari sumber yang lain, undangan jalan2 gratis atau jadi pembicara misalnya 😀

      Setuju, nulis jalan terus!

  6. Wah rame yaaaa aku sampek ketinggalan gara-gara ngurusi kumbahan haha

    Klo nyari yg seleb knp gak dari awal diajakin aja mereka tanpa bikin kuis2 gitu, ah tapi mereka kan (penyelenggara) juga mau promosi gratisan di blog para peserta hahaha. semakin banyak tulisan semakin terpromosi.

    Aku juga pernah hapus tulisan lomba yg gak menang, bukan karena sakit hati tapi lebih karena gak relevan di blog aja bhuahaha

    Yasudahlah, kayak mas ari aku ikutan lomba liat jadwal tripnya, klo gak bisa ya gak ikutan, padahal belum tentu menang wakakakaka… embuhlah wis aku bingung ah… aku poleh penasaran haha… bah engkok nek nganggur sampean tak wasap ngegosip iki haha…

    btw followerku akeh loh, tapi bot semua wakakakakkakaka…

    1. Lapak sebelah jaaaauuuhhhh lebih rame Lid. Hapeku sampe ga berhenti bunyi kemarin hahhahhahaa
      Aku sering ikut lomba, dan sering kalah (hahhahhaaa), tapi ga pake hapus2 postingan kecuali klo belakangan diketahui penyelengganya curang. Cuma skrg sudah ga berani ngehapus postingan lagi karena ternyata ngaruh ke SEO google search.

      Oyiii oyiii, engko nek pas selo, tak critani ples kukasih lihat sisa kehebohan kemarin hiihihihii

  7. Poin yg aku tangkap dari semua kejadian ini, lomba blog bukan lomba menulis. Ini, kombinasi, ada tulisan, trafik, populeritas penulis , sampai penilaian kepribadian.kok kepribadian, iya kamu musti jadi sosok yg asyik diajak jalan dan bisa mempromosikan produk maksimal. Kalo tulisan kamu bagus tapi tidak mewakili produk untuk apa diajak jalan.

    “Mas, mbak aku nggak cuma asyik diajak jalan , diajak bobo yo gelem” kode dengan agen dan para sponsor….

    1. Maksudmu Ooooommm? Hahhahahhaa
      Masa iya klo lagi jalan ga butuh bobo? :p #dibahas

      Iya ya, sekarang selain serentetan persyaratan dan ketentuan, juri juga menambahkan pertimbangan lain dalam penilaian.

  8. Dulu. Dulu banget (biar kesannya serius). Aku ikutan lomba itu cuma kepingin ngerusuhin peserta lain. Iseng. Biar mereka dapet tambahan saingan.
    Eh! Kok ya ndilalah malah menang.
    Dan begitu menang, kok, jadi ketagihan.
    Akhirnya di lain waktu, lebih serius garap artikel. Khusus! Biar menang.
    Eh! Kok ya ndilalah malah gak menang-menang.
    Akhirnya ya sudah. Pasrah bin legowo aja. Ikutan lomba Cuma dijadiin motivasi sampingan biar blog keisi (alibi belum menang-menang lagi).

    Back to topic ‘kecurangan.’

    Sebenarnya untuk mengetahui penyelenggara lomba X punya agenda “udang di balik bakwan” apa enggak, cukup gampang. Kita tinggal ‘membaca’ pola beberapa penyelenggaraan lomba sebelumnya—yang diadakan oleh penyelenggara yang sama.
    Pertanyaan-pertanyaan di bawah bisa dijadikan acuan untuk membaca ‘pola’ tersebut:
    • Siapa penyelenggara lombanya? Perusahaan? Pemerintah? LSM? Komunitas?
    • Ke mana arah tujuan diadakannya lomba tersebut? Profit atau non-profit? Kualitas atau popularitas?
    • Siapa kira-kira target ‘pemenang’ lomba mereka? Low profile atau high profile blogger (commonly: in term of followers and/or offline channel)?
    • Sudah berapa tahun blog mereka (peserta pemenang) dibangun?
    • Dan kayaknya… asik juga nih kalo dibuat artikelnya sendiri :p

    1. Brarti, biar menang lomba blog, nggarap artikelnya ga usah terlalu serius ya, tapi bikin yang asyik2an aja buat ngerusuh peserta yang lain 😆

      Omong2 soal membaca pola, setelah setaun mengikuti rekam jejaknya (trus akhirnya dikecewakan), akhirnya ga ikutan hajat yg diselenggarakan oleh mereka (you know who i mean lah). Ternyata rekam jejak itu terulang lagi tahun ini. Ck ck ck ck

      Oiya, poin terakhr itu keren banget lho kalau jadi direalisasikan. Ayo ditulis! #Eh

  9. […] dunia travel blogger di Indonesia sedang kisruh dengan adanya perlombaan blog dengan hadiahnya liburan road trip namun melalui proses yang gak jujur, maka weekend ini kita baru aja melepas seorang teman pejalan dan team nya yang berangkat menuju ke […]

  10. oooh…masih cerita soal mr.BanyakKongkalikong yah 😀 wkwkwkwk
    puk puk mbak, sabar yah… sopo salah seleh :p
    roda itu muter n Gusti Alloh mboten sare mbak …

    1. Hahahahhaha iyaaa Isna ….
      Dan obrolan2 soal itu masih mengalir sampai sekarang. Apalagi Alid habis khilaf bikin huruhara 😆

      ncen bener ya Is, Gusti Allah iki mboten sare

  11. Wah baru tahu nih.. Ketinggalan berita udah lama ga ngecek twitter dan bacain reader hihi… Jd penasaran ini lomba apa dan siapa yg menyelenggarakan.
    Setelah dipikir2..kayaknya aku belum pernah ikut lomba blog. Kenapa yaa.. mungkin aku agak susah nulis kalau disuruh2 nyamain sama tema haha… *blogger moody*

    1. Isi postingan ini pernah sangat hot di temlen, sampai2 tab mensyenku penuuuhh *padahal ga ikutan lomba*

      Yang jelas hadiah lomba ini traveling ke suatu tempat, rame2 hehhehhehe

      Belakangan aku malah apdet blog klo g ikut lomba, hix *tutup muka*

  12. sayang banget kalau penjuriannya tak jujur. penyelenggaranya nggak mikir panjang. padahal yang rugi kan mereka, bakal nggak dipercaya lagi sama orang2…. btw, saya dapat linknya dari blog mbak Fe (cerita4musim). salam kenal ya mbak Dian.

    1. Halo Mba Messa, salam kenal 😀

      Iya mbak, harusnya pihak marketing sama yang menangani media sosialnya berpikir panjang. Ini sudah tahun kedua mereka mencurangi peserta kompetisi *parah kan?*
      Dan kemarin ada blogger (yg konsen sbg travel blogger) yang memblacklist perusahaan ini, bahkan ada jg yg hampir nulis di surat pembaca koran.

      1. Hhemmmm, bukan perusahaannya sih mbak. Tapi lebih ke tim yang menangani perlombaan ini. Harusnya tim ini belajar bagaimana caranya memegang komitmen sebagai penyelenggara acara

    1. Hhhahahhahhaa kok bisa ga PD Dit? Tulisanmu kan baguuusss

      Stalking? Twit2 rumpian yg soal ini sudah ketmbun2 twit lain. Tapi coba aja meluncur ke akunnya Alidabdul, dia kmrn habis khilaf 😆

      1. Kalo penyelenggara yg ini, mereka sudah dua kali Dit. Dan mereka main curangnya kasar, jadi ketahuan sama semua peserta.
        Kecuali klo mereka main belakangnya pake cara halus ya, mungkin ga sefrontal itu reaksinya

  13. Wah, baru tahu ada tulisan ini~ Bahas yang kemaren ya hihiiii Karena aku ikutan jadi aku tahu ada beberpa versi cerita sih~ pro dan kontra~ Tapi dari yang aku tahu sepertinia memang ada blunder di salah satu pihak ^^ wes ndak usah dibahas yang itu~

    btw diskusinya menarik~ mau nyamber ah 😀 boleh ya? pertama nyamber komentarnya kak danan :

    “Poin yg aku tangkap dari semua kejadian ini, lomba blog bukan lomba menulis. Ini, kombinasi, ada tulisan, trafik, populeritas penulis , sampai penilaian kepribadian.kok kepribadian, iya kamu musti jadi sosok yg asyik diajak jalan dan bisa mempromosikan produk maksimal. Kalo tulisan kamu bagus tapi tidak mewakili produk untuk apa diajak jalan.
    “Mas, mbak aku nggak cuma asyik diajak jalan , diajak bobo yo gelem” kode dengan agen dan para sponsor….”

    Dari pengalaman sama beberapa info yang aku dapet, era digital n socmed sekarang ini banyak brand promosinya beralih ke digital media, jadi membuat lomba adalah salah satu cara mereka untuk promosi, tentunya hak brand yang menginginkan eksposure/view yang banyak. Kadang sebagian besar lomba memang pemenangnya malah udah ditentuin sebelum dimulai :p atau kuota untuk pemenang cuma dikit 1 atau 2, sisanya memang pasti ikut 🙂 Jadi perhatiin bener sebelum ikutan lomba, kalau ngarep banget mending jangan ikut, mending iseng ikut buat nambah konten sama eksposure aja.

    nambahin lagi yang ini yak :

    “Btw, blogger yang memenuhi kriteria : sering menang lomba, memiliki follower ribuan, stats blog tinggi, dan alexa rank bagus ini memang keren ya? Pastinya butuh usaha, ketekunan, dan semangat yang terjaga baik sehingga bisa mencapai titik tersebut.”

    travel blog ku, catperku.com gak sering menang lomba sih, tapi sering ikutan. soalnya postnya lumayan buat naikin SEO 😄 menang kalah pikir belakangan. ngebuildnya dari nol perlu 3 tahunan, 1 tahun++ buat social media accountnya. eheeee. Jadi bisa dibayangin usahanya 😀

    duh gara2 malam ga bisa tidur jadi ngelantur 😛 *maap*

    1. Waahhhh, masih ada yang baca postingan lama ini, hehhehhehe
      Makasih Fahmi, sudah mampir ke sini 😀 Selain komen mas SimplyIndonesia, ini komen terpanjang yang pernah mampir di blog ku.

      Iya, setelah ngobrol dengan beberapa teman (blogger), memang saat lomba, pihak juri memiliki variabel penilaian tambahan, yang sebelumnya tidak dijelaskan saat pengumuman lomba. Misal : Peserta lomba minimal Alexa Rank-nya sekian, visitornya sekian, jago motret dll. Tapi kembali lagi, itu semua kan HAK pihak penyelenggara yang ingin eksposure/view yang banyak untuk produknya, dan menurutku tidak apa-apa.

      Tapi …………….

      Omong-omong soal HAK, bukan hanya panitia lomba yang punya HAK, tetapi peserta juga punya. Seperti penjelasanmu tadi => “Kadang sebagian besar lomba memang pemenangnya malah udah ditentuin sebelum dimulai” <= itu apa tidak sama dengan mengambil/melanggar HAK peserta lomba (memperoleh kesempatan yang sama) untuk menang? Hheemmmmm, menurutku, ini sudah tidak jujur, bahkan termasuk penipuan publik. Jika sudah menentukan pemenang sebelum lomba dimulai, kenapa harus ada lomba? Kenapa harus menipu untuk bisa memperoleh keuntungan? #DuhAKuPolosBangetYa

      Sebagai blogger (yang pernah ikut lomba blog juga), perlombaan yang pemenangnya sudah ditentukan sejak awal (bahkan sebelum lomba dimulai) itu menurutmu gimana Fahmi?
      Ditunggu pencerahannya yaaaa 😀 *Malah ngajak diskusi*

      1. “Kadang sebagian besar lomba memang pemenangnya malah udah ditentuin sebelum dimulai :p atau kuota untuk pemenang cuma dikit 1 atau 2, sisanya memang pasti ikut” <- NAH. Poin ini yang mungkin bisa melukai banyak perasaan blogger yang ikutan lomba karena merasa dicurangi. Gak fair. Kecuali di awal semua peserta lomba dikasih tahu tentang kondisi ini. Menurutku sih gitu.. 😀

      2. Kalau ngasih tahu sejak awal, apa ga sama dengan harakiri di depan khalayak ya? *ditanyain*

        Tapi sepakat dengan Ari, kalau kondisinya sudah dijelaskan sejak awal misal ada anulir pemenang yang harusnya 10, ternyata diganti jadi 3, peserta berhak tahu.
        Toh, peserta yang ikut juga berusaha memenuhi persyaratan dari pihak panitia. Masa panitia ga bisa memegang kata2nya sendiri?

      3. Itu kejamnya dunia marketing 😄 hasil yang paling penting hehe. Jadi kalau ikutan lomba, niat nya gini aja iseng,biar makin terkenal karena dilihat ikut lomba, nampah tulisan diblog baru menang. Setelah berkali – kali kalah itu yang aku pake. kalah tidak masalah, menang alhamdulillah ehehee 😀

      4. itu dia Fahmi. Kalo marketing ketemu “kejar target”, kadang suka sruduk2 ya. Hehehhehee

        Hehhehee, aku pun kalah ga masalah kok, kan sudah siap dengan kemungkinan itu sejak awal 😀

        Ikut lomba karena iseng? Kupikir2 dulu aja, hehhehe. Eman2 waktu dan tenaganya.

        Mendingan ikut lomba dempul2an, soalnya bisa nambah portofolio, juga nambah jam terbang. Selain itu, ngerjainnya juga sambil bersenang2
        *Mbak Dempul Mode ON*

  14. Wah, menarik nih diskusinya. saya boleh ikutan ya. Spesialnya pada bagian;
    “perlombaan yang pemenangnya sudah ditentukan sejak awal (bahkan sebelum lomba dimulai)”

    Mungkin ini beberapa komentarku, Jika Aku Menjadi…

    Penyelenggara: “Ya, suka2 gw dong. Wong acara, juga acara gw. kalian mau ikut, sukur. Gak ikut pun juga gapapa.”

    Buzzer pilihan: “Alhamdulillah. Akhirnya usaha keras gw ngebangun image, kebayar. Seenggak2nya gw gak perlu ikutan lomba untuk bisa nikmatin hadiahnya.”

    Blogger kebon. Blogger baru. Alay: “Sialan! Udah capek2 nulis, kagak menang. Padahal tulisan gw juga ga jelek2 amat, perasaan. Kan, diketik. Bukan tulisan tangan.”

    Blogger kawakan: “Wah! Ini sih gak bener, nih. Berarti prediksi gw kemarin tepat! Untung gak jadi ikutan.” Atau, “Wah, sial. Gw lupa ngeliat polanya! Mana terlanjur ikutan, lagi. Ya sudah, gpp. Ini untuk yang terakhir kali. Ke depannya, gw bakal coret Penyelenggara X.”

    Pura-pura Pengamat: “Seandainya strategi penyelenggara ini ditujukan untuk propaganga bela negara, saya kira, saya setuju-setuju saja. Sungguh kasihan mereka-mereka, blogger-blogger baru, yang tidak tahu apa-apa. Cita-cita menang mereka harus kandas begitu saja di tangan penyelenggara lomba, pemberi harapan palsu.”

    Orang yang kebetulan lewat, gak tau apa2, dan KEPO: “Eh!? Rame nih. Ada apaan yak?”

    Orang terakhir ini biasanya akan membaca beberapa komentar yang ada terlebih dahulu. Kalau dirasa menarik, baru dia akan baca artikel sebenarnya dari awal sampai akhir – lanjut terus ke kolom komentar – terus… kok, ya gatel kalo gak ikut2an komentar.

    Tujuannya biasanya cuma satu; biar eksis aja. Walau pun gak tau letak permasalahannya di mana. Dan sialnya… orang itu kok saya. T_T

    1. Whhahahhahhahaaa, sudah hampir nuduh gitu, ternyata di paragraf terakhir malah ngaku 😆

      Brarti aku termasuk blogger kawakan dong, yg komentarnya “Wah! Ini sih gak bener, nih. Berarti prediksi gw kemarin tepat! Untung gak jadi ikutan.” Atau, “Wah, sial. Gw lupa ngeliat polanya! Mana terlanjur ikutan, lagi. Ya sudah, gpp. Ini untuk yang terakhir kali. Ke depannya, gw bakal coret Penyelenggara X.”
      Padahal kan …. aku itu blogger baru yang masih lucu dan lugu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s