Melawan Aviophobia Bersama Air Asia

I really love to travel, but really hate to fly

 Kalimat diatas cocok untuk disematkan sebagai slogan saya dalam traveling. Ya! Saya adalah seorang penderita aviophobia, yang mana sangat takut untuk terbang. Melihat banyak berita kecelakaan pesawat, cerita-cerita turbulensi yang dahsyat, dan melihat pesawat terbang malam hari cukup membuat  kaki saya gemeteran, ketakutan. Itulah kenapa, saya selalu mendahulukan moda transportasi lainnya saat hendak traveling ke suatu tempat, dan pesawat menjadi alternatif pilihan terakhir.

Bertahun-tahun, selalu seperti itu. Saya cepat mengiyakan rencana traveling yang bisa dijangkau dengan perjalanan darat atau pun laut, tetapi berpikir dua kali saat diajak naik pesawat. Tawaran promo tiket murah belum bisa menggerakkan hati saya saat itu untuk memilih naik pesawat.

Sampai suatu ketika, seorang kenalan baik datang ke rumah. Ternyata, beliau baru pulang dari long trip berkeliling negara-negara di Asia. Beliau tidak membawa buah tangan yang bisa saya makan/pakai/pasang, tetapi membawa segudang cerita yang mampu menggelitik saya untuk melakukan perjalanan lebih jauh, tentunya dengan menggunakan pesawat. Beliau yang sudah usia pensiun saja sanggup traveling kemana-mana, saya yang masih belum menginjak kepala 3 masa tidak sanggup?

Ketakutan tebesar saya bukanlah soal meninggalkan zona nyaman, tersesat di tempat baru, atau pun tidak cocok dengan kuliner lokal, tetapi tentang bagaimana saat saya harus terbang dengan pesawat.

Seperti tantangan untuk diri sendiri, saya pun mengumpulkan informasi dari teman-teman tentang maskapai yang sering mereka gunakan. Sebagian besar dari mereka merekomendasikan Air Asia, teman perjalanan saya juga merekomendasikan maskapai yang sama. Akhirnya, saya pun mantap memilih Air Asia untuk penerbangan perdana.

14 September 2012 adalah kali pertama saya naik pesawat, dan untuk kali pertama juga keluar negeri.

! air asia 3

Gugup? Tentu saja 😀

Seminggu sebelum hari H pikiran sudah berkecamuk, antusias bercampur khawatir menjadi satu. Hampir setiap malam saya mimpi buruk, entah pesawat yang sudah take off mendadak landing, pesawat yang dinaiki terjun bebas menghantam tanah, dan mimpi buruk-mimpi buruk yang lainnya. Tetapi, saya tidak mungkin mundur. Tiket sudah dipesan, penginapan sudah dibooking, itinerary sudah disusun, uang saku sudah disiapkan, dan barang bawaan sudah ditata dalam ransel.

Tibalah hari H saat saya harus terbang ke Bangkok. Saya pun memasuki kabin pesawat dengan harap-harap cemas, mencari nomor kursi yang sudah dipesan, dan mempersiapkan diri untuk penerbangan selama 2 jam 45 menit. Bismillahirrohmanirrohiim …

Syukurlah penerbangan perdana saya berlangsung lancar dan tidak mengalami turbulensi. Apakah saya masih ketakutan saat berada di atas? Tentu saja 😀 Namun, kehadiran para pramugari yang cukup sering berjalan di kabin membuat saya agak tenang, karena dengan mereka hilir mudik di sana berarti penerbangan stabil dan aman.

Penerbangan terasa lebih menyenangkan saat saya akhirnya memberanikan diri melongok keluar jendela pesawat. Apa yang ada diluar pesawat membuat saya takjub. Biasanya melihat awan-awan dari bawah, saat itu akhirnya saya bisa melihat awan-awan tersebut dari atas. 

Lamat-lamat terdengar pemberitahuan bahwa pesawat kami akan segera mendarat di bandara Suvarnabhumi. Tanda mengencangkan sabuk pengaman sudah menyala, dan perlahan pesawat terasa menurunkan ketinggian. Dari kursi sebelah, mbak Endah memberi tanda untuk saya melihat ke arah luar jendela. Pemandangan kota Bangkok saat malam hari terlihat indah dari balik jendela pesawat, awalnya hanya kerlip kecil lambat laun membentuk pola dengan beberapa titik cahaya yang bergerak rapi di sana. Dan iya, saya jatuh cinta pada kota ini sejak pandangan pertama.

Apakah drama aviophobia sudah berakhir? Belum 😀

Detik-detik menjelang pendaratan menjadi detik-detik yang paling mendebarkan. Saya takut! Saya takut pesawatnya terpeleset di landasan, saya takut roda pesawat tidak dapat keluar, dan saya takut kecepatan pesawat tidak cukup baik sehingga menghantam permukaan bumi saat mendarat. Berlebihan? iya, aviophobia saya sudah separah itu.

Syukurlah, bayangan-bayangan diatas hanyalah rentetan ketakutan dari seorang penderita aviophobia. Pendaratan pesawat di Suvarnabhumi malam itu berjalan dengan sangat baik dan lebih cepat 5 menit dari perkiraan sebelumnya.

Sawadde khaa Thailand 😀

! air asia 4

Ketakutan-ketakutan yang sempat saya alami terbayar sudah dengan pengalaman seru selama 5 hari di Thailand. Banyak hal yang saya dapatkan selama di sana. Benar kata teman saya, melakukan perjalanan itu membuat kita menjadi lebih kaya, kaya dalam hal pengalaman dan pemikiran. Untuk kali pertama akhirnya saya bisa merindukan Indonesia, rindu mendengar suara adzan, dan merasakan kekuatan sapaan “Assalamualaikum” saat bertandang ke tempat asing.

Jika saya tetap memanjakan perasaan dengan menuruti ketakutan-ketakutan terbang, bukan tidak mungkin saya tidak akan mengalami hal – hal di atas. Perjalanan ke Bangkok ini menjadi pembuka perjalanan-perjalanan saya yang lainnya. Pengalaman penerbangan pertama yang menyenangkan, membuat saya berani menginjakkan kaki ke tempat-tempat lain dan merasakan pengalaman yang berbeda.

Terhitung beberapa bulan sejak kepulangan dari Bangkok, saya kembali terbang dengan Air Asia, kali ini ke Kuala Lumpur. Selain karena kesan pertama yang menyenangkan, promo tiket murah juga menjadi pertimbangan perjalanan kali ini. Ya, akhirnya saya berani merapatkan barisan dengan teman-teman yang bersemangat berburu tiket murah 😀 Dan ternyata, berburu tiket juga menjadi bagian yang tidak kalah menyenangkan saat kita mempersiapkan diri untuk melakukan sebuah perjalanan ya?

Sekarang, jika harus terbang, saya tetap menempatkan Air Asia sebagai pilihan pertama. Jika Air Asia tidak beroperasi dalam rute yang saya tempuh, barulah saya melirik pilihan lainnya. Yang saya suka dari Air Asia, maskapai ini memang maskapai low cost budget yang sering menawarkan tiket murah bahkan sampai nol rupiah, namun di saat yang sama Air Asia selalu memberikan pelayanan yang terbaik, memastikan seluruh pesawatnya layak terbang, memiliki pilot-pilot yang berpengalaman, dan tentunya mengutamakan keselamatan penumpangnya.

Terimakasih Air Asia karena telah memberikan pengalaman terbang yang menyenangkan, dan membuat saya lebih berani lagi menginjakkan kaki ke tempat-tempat baru, tempat-tempat yang sebelumnya hanya masuk angan-angan dan tidak kunjung direalisasikan.

!Air asia

***

Postingan ini diikutsertakan dalam lomba blog 10 tahun AirAsia di Indonesia.

10 thoughts on “Melawan Aviophobia Bersama Air Asia

  1. Kok sama sih kok sama sih kok sama siiih? *dilempar tiket airasia*. Hahahaha. Dulu pertama kali terbang juga dengan airasia. Gak keluar negri sih, tapi gegara terbang sama airasia jadi ketagihan naik pesawat. hahahaha. Cepet dan harganya beti ama kereta. 😀

  2. Jadi inget dgn tv series “the a team”, dimana slhsatu anggotanya sngt takut ketika hendak naik pesawat shg anggota lainnya terpaksa ‘membiusnya’ kala hendak trbng.

    sukses utk lombanya !

  3. Waaa Air Asia juga andalanku ke LN. Pas pulang dari Bangkok Mb Dian cukup tenang. Pengendalian emosi-nya bagus hehe ato aku yang kurang peka ya #hammer. Piss mba. Aku juga deg2an sih, tapi pas liat pramugarinya yang tenang jadi ga terlalu panik 🙂

    1. Hahahahhahhaa sekalem itukah penampakanku mbak?
      Itu aku tegang banget! Apalagi pas denger ibu2 pengajian yg duduk di belakang bilang Allahu Akbar.
      Dan, dirimu masih bisa minum kopi pas aku pegangan kursi erat2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s