Tentang Mas Moderator Capres-Cawapres

ini-sosok-zainal-arifin-mochtar-moderator-debat-capres-kpu
(Sumber : merdeka.com)

Senin, 9 Juni 2014 lalu, saya termasuk salah satu dari sekian juta penonton yang mengikuti acara debat capres dan cawapres. Mainstream? Biar saja😆 Ini bukan pemilu pertama saya, tetapi baru kali ini saya tetarik menyimak debat capres dan cawapres di televisi secara utuh.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, dunia Twitter bakal riuh komentar soal isi debat capres-cawapres. Bahkan jika tidak menyaksikan secara langsung pun, saya tetap bisa mengikuti jalannya acara secara detail karena banyak sekali orang  yang follow “melaporkan” langsung isi debatnya. Ada yang  serius, ada yang mengandung emosi, ada yang lucu-lucuan, dan ada yang hilang fokus …. seperti saya😆

Saat yang lain heboh soal penampilan capres-cawapres, saya malah fokus ke sang moderator, Zainal Arifin Mochtar.

direktur-pusat-kajian-anti-korupsi-pukat-ugm-zainal-arifin-mochtar-_120507163717-965
(Sumber : republika.com)

Sosok ini sangat baru untuk saya dan tidak pernah mendengar gaungnya sebelumnya. Ternyata beliau adalah Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) sekaligus dosen di fakultas hukum universitas yang sama. Keren ya🙂 Penampilan beliau malam itu mengingatkan pada sosok Anies Baswedan, yang juga baru saya kenal saat beliau menjadi moderator debat capres-cawapres  (Eh? Bener kan ya pak Anies pernah jadi moderator juga?).

Acara debat capres-cawapres merupakan acara yang penting bagi politik dan “masa depan” bangsa, karena dalam acara ini kandidat capres-cawapres diuji sebelum dipilih melalui pemilu. Tentunya, sosok yang ditunjuk menjadi moderator debat bukanlah sosok biasa. Ada serangkaian pertimbangan serta penilaian sebelum menunjuk seseorang untuk menjadi moderator, pun saat menunjuk mas Zainal Arifin Mochtar ini. (((MAS????)))

Tapi, kenapa malam itu beliau menuai kritik dan menjadi bulan-bulanan warga Twitter? Apakah beliau tidak melaksanakan tugasnya dengan baik?

Beliau pasti berusaha sebaik-baiknya melaksanakan tugas  sebagai moderator😀

Hanya saja, setelah diperhatikan … Ada hal-hal yang disorot saat beliau berada di atas panggung, yaitu tentang peraturan bertepuk tangan, pertanyaan yang berbelit. dan penggunaan satu kata yang menurut saya agak kurang tepat digunakan dalam forum seperti debat capres ini.

Sejak awal acara, beliau sering sekali mengingatkan penonton untuk tertib dalam bertepuk tangan sehingga tidak mengganggu jalannya acara debat. Apakah  ini salah? Tentu saja tidak🙂 Jika hanya sekali, mungkin penonton tidak akan seheboh malam itu menanggapi soal tepuk tangan. Tetapi malam itu, mas moderator mengulangi “nasehatnya” sampai berkali-kali. Kalau ada yang menyimak soal ini di Twitter malam itu, pasti twit-twit yang muncul lucu-lucu.

Pertanyaan yang panjang lebar dan agak berbelit menurut saya, juga menjadi salah satu hal yang dialamatkan ke mas moderator. Padahal tugas beliau kan menyampaikan pertanyaan dari pihak KPU, jadi isi pertanyaan diluar kuasa beliau. Tapi saya juga tidak tahu, apakah beliau diberikan ruang  untuk menyampaikan pertanyaan menjadi a la beliau, atau “hanya” membaca pertanyaan yang tercetak di kertas.

Menjelang bagian akhir, mas moderator ini juga menuai kritik baru. Kali ini soal pemilihan kata yang digunakan dalam membawakan acara. Mungkin beliau sangat grogi, sehingga tidak terpikirkan kosakata lain untuk mengganti kosakata yang beliau gunakan malam itu. Hanya  saja, kok ya beliau mengulangi penggunaannya sampai (kalau tidak salah) sebanyak 2 kali.

Alhamdulillah, saya tidak termasuk yang membully beliau. Tapi, kalau sedikit merusuh, iya😀 Seperti ketika men-cc akun beliau saat ada twit yang lucu-lucu, misalnya twit dari mbak Ika Natassa, hehhehe

Saya sebagai orang yang sering sekali terkena demam panggung, tentu sangat tahu perasaan grogi saat berbicara di hadapan banyak orang. Apalagi malam itu yang dibawakan adalah acara negara. Dari twit mas Dimas Novriandi, barulah  saya tahu  kalau beliau baru ditunjuk sebagai moderator hari itu. Terbatasnya waktu, tentu membuat persiapan beliau kurang optimal. Walaupun beliau terbiasa menjadi pembicara di banyak forum, menjadi moderator dalam debat capres-cawapres tentunya menjadi pengalaman yang berbeda.

Tentunya beliau tidak menyangka, respon penonton bakal seramai itu di Twitter dan tab mensyennya. Banyak yang menyampaikan kritikan, mulai dari yang lucu, pedas, sampai menghujat. Kritikan (walaupun sangat pedas) tentu bagus untuk mengembangkan diri. Tapi kalau yang  sifatnya menghujat dan sok benar, kok saya jadi pengen kasih kaca ke orang  yang menghujat tersebut ya #Eh

Sampai saat menulis ini, saya belum ngecek lagi akun Twitter mas moderator sudah aktif (menulis twit baru) lagi atau belum. Semoga setelah malam itu, masih bisa melihat beliau lagi muncul di televisi, syukur-syukur bisa ketemu langsung😀

Masmod, i’m with you …

29 thoughts on “Tentang Mas Moderator Capres-Cawapres

  1. aku ketinggalan kereta nih. bangun malem2, chat teman2 udah pada rame ngebahas debat ini. path juga udah pada ngebahas debat. akunya woles tidur dan ga minat nonton versi youtube-nya hehehe.

      1. aku emg ga tau sih klo mau ada acara debat ini…. dan kebetulan emg ga suka liat acara2 politik…. (tapi nggak golput loooh, hihihi)

  2. Iya masmod nya ganteng, msh muda pula. *komen dangkal* *biarin* hahaha

    Wajar klo dia grogi atau krg perfect, ndadak bgt ya ditunjuknya. Pengalaman pertama pula. Pressure nya pasti beda bgt ya mbak.

    1. Itulaaaaaaahhhh Sa, masmodnya ganteng ya #Eh 😆

      Seahli2nya orang ngomong, dia tetep perlu persiapan buat ngomong didepan umum, apalagi itu hal baru untuknya

  3. maklum lah mungkin beliau grogi krn eventnya besar. jadi moderator pun bukan perkara mudah tapi emang rada ganggu ya heheheh

    1. Iya, groginya kelihatan banget sejak awal acara dan sayangnya peringatan untuk tidak bertepuk tangan tidak disapaikan saat jeda iklan saja.
      Mungkin memang mas moderator perlu menambah jam terbang untuk acara semacam ini😀

  4. Pas liat moderatornya kok serasa pernah ketemu. Ternyata kayaknya memang pernah ketemu, dia temennya temenku yang anak hukum. Pantesan wajahnya gak asing hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s