Tantangan Penjaga Gerbang Perbatasan RI di Pulau Timor

Pernah ada Timor Timur di Pulau Timor. Namun, keberadaannya kini tinggal sejarah. Wilayah yang dulu pernah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kini telah memisahkan diri. Pulau Timor memiliki ceritanya sendiri, cerita pilu tentang pergolakan sejarah lahirnya negara baru, Democratic Republic of Timor Leste.

Pulau Timor terletak di ujung timur rantai kepulauan Nusa Tenggara. Pulau yang memiliki luas 30.777 km2 ini dulunya merupakan pengekspor kayu cendana aromatik, madu, dan lilin. Potensi inilah yang menjadikan Pulau Timor bagian dari jaringan perdagangan Cina dan India di masa silam. Selain potensi sumber daya alam bernilai ekonomi, Pulau Timor juga memiliki keindahan alam yang memukau. Keelokannya bahkan sudah bisa disaksikan dari kaca pesawat, sesaat sebelum mendarat di Bandara El Tari, Kupang.

Berbicara tentang Pulau Timor, tentu tidak bisa lepas dari kondisi sosial ekonomi masyarakatnya. Potensi dan keindahan alam Pulau Timor sepertinya berbanding terbalik dengan kondisi masyarakatnya yang sebagian masih miskin, khususnya mereka yang tinggal di daerah terpencil. Sejak tahun 1999, di Pulau Timor terdapat dua negara, Republik Indonesia dan Timor Leste. Ada 3 kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, yaitu Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dan Kabupaten Belu dengan total garis perbatasan mencapai 268,8 KM. Sebagaimana terlihat di peta, ada satu bagian wilayah Timor Leste yang berada di tengah-tengah wilayah Indonesia. Wilayah ini disebut Distrik Oecusse. Perbatasan RI di Pulau Timor Keterikatan sejarah masa lalu, membuat masyarakat Timor masih sering berinteraksi dengan masyarakat Timor Leste, baik sekedar mengunjungi saudara ataupun berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika dulu mereka leluasa saat menyeberang antar wilayah, sekarang harus melewati serangkaian pemeriksaan di pos perbatasan dan menunjukkan surat-surat untuk bisa melanjutkan perjalanan.

Selain hilir mudik manusia, kawasan perbatasan juga menjadi pintu keluar dan masuknya barang dari dan ke dua negara ini. Ada beberapa jenis komoditas yang diekspor ke Timor Leste, seperti kebutuhan sehari-hari yang diproduksi di Indonesia. Selain itu, ada juga beberapa yang diimpor dari Timor Leste seperti kopi, kemiri, kopra, dan kacang  tanah. Pergerakan arus keluar-masuk barang di kawasan perbatasan ini cukup sering terjadi, baik yang  berada dibawah pengawasan pihak berwenang maupun yang dilakukan secara ilegal.

Pergerakan barang yang terjadi di perbatasan akan memberikan manfaat berupa tambahan devisa bagi negara apabila dilakukan secara resmi, tetapi bisa berpotensi memunculkan ancaman terhadap perekonomian bila dilakukan secara tidak resmi. Disinilah pentingnya keberadaan Pos Lintas Batas (PLB), Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB), serta fasilitas bea cukai, imigrasi, karantina, dan keamanan (CIQS) sebagai filter arus orang dan barang di wilayah perbatasan.

perbatasan
Gerbang Perbatasan RI – Timor Leste di Motaain

TUGAS BEA CUKAI DI PERBATASAN

Sebagaimana kawasan perbatasan pada umumnya, perbatasan Republik Indonesia – Timor Leste juga mengalami permasalahan berupa kemiskinan, keterbatasan sarana dan prasarana sosial ekonomi. Jika dibandingkan wilayah perbatasan di Timor Leste, NTT memiliki kondisi yang lebih baik, karenanya sebagian barang kebutuhan masyarakat perbatasan Timor Leste masih dipasok oleh masyarakat NTT, tentunya dengan harga jual yang lebih tinggi.

Peluang yang menggiurkan ini tentunya menarik pihak-pihak tertentu untuk bertransaksi secara ilegal demi meraup keuntungan yang  lebih besar, mengingat barang yang diperdagangkan akan dikenai pajak jika melewati pos perbatasan. Disinilah pentingnya peranan Bea Cukai di kawasan perbatasan. Bea Cukai merupakan instansi pemerintah yang bertugas menjadi filter pertama keluar masuknya barang dari atau ke wilayah Indonesia. LOGO_BEA_CUKAI NEW Ada pun tugas-tugas Bea Cukai khususnya di wilayah perbatasan antara lain:

  1. Revenue Collector, mengoptimalkan penerimaan negara melalui pemungutan Bea masuk, cukai, pajak, dan penerimaan lain dari barang-barang yang melintas di perbatasan.
  2. Community Protector, memberikan perlindungan kepada masyarakat dengan mencegah terjadinya perdagangan ilegal (penyelundupan) di kawasan perbatasan dan melakukan penyidikan saat terjadi pelanggaran, seperti adanya perdagangan melalui “jalan tikus”.
  3. Facilitator, melakukan pengawasan keluar masuk barang dari dalam atau luar negeri supaya tercipta iklim usaha yang kondusif. Selain itu, dengan pengawasan yang optimal dapat mendorong pertumbuhan industri dalam negeri agar tidak tergerus produk-produk asing yang masuk ke Indonesia.

Salah satu tugas Bea Cukai adalah memeriksa dan memutuskan apakah barang yang melewati perbatasan diperbolehkan masuk ke wilayah RI atau justru akan ditahan karena tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang yang  berlaku.

Menurut Undang-undang No. 22 Tahun 1997 dan UU No. 35 Tahun 2009, narkotika dan psikotropika dilarang masuk ke wilayah RI. Ada juga beberapa jenis flora dan fauna yang dilarang masuk/keluar wilayah RI karena terancam punah, seperti yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990. Selain itu, Bea Cukai juga bertugas mengawasi adanya perdagangan senjata api dan melindungi benda cagar budaya yang melintas di perbatasan, baik darat, laut, maupun udara.

PERMASALAHAN BEA CUKAI DI KAWASAN PERBATASAN

Dalam menjalankan tugas dan perannya di perbatasan, Bea Cukai menghadapi berbagai permasalahan. Permasalahan ini berbeda antar wilayah perbatasan, sesuai dengan kondisi geografis, sosial, dan ekonomi masyarakat sekitarnya. Pulau Timor sendiri memiliki 3 batas matra, yaitu udara, laut, dan perlintasan di darat. Penyelundupan narkotika, senjata api, sampai hasil minyak bumi kerap terjadi di ketiga perbatasan ini.

Sebagai perbatasan dua negara yang baru saja terbentuk, perbatasan RI di NTT dengan Timor Leste masih mengalami permasalahan terkait dengan penjagaan perbatasan. Batas negara sepanjang 149,9 KM dari Motaain sampai Mota Masin, misalnya. Perbatasan ini hanya memiliki 5 pos lintas batas resmi, 1 kantor Bea Cukai Tipe B di Atapupu, 2 kantor bantu Bea Cukai Motaain dan Motamauk, serta 2 pos pengawasan bea cukai di Tusikain dan Haliwen. Kurangnya fasilitas penjagaan menjadikan pengawasan perbatasan di darat menjadi longgar dan memunculkan banyak “jalur tikus” di sepanjang wilayah ini. Peta Lokasi Kantor Bea Cukai Kabupaten BeluAda fakta yang cukup mencengangkan di kawasan perbatasan ini. Menurut keterangan Kepala Kantor Imigrasi Atambu, Anggiat Napitupulu, dari data intelijen TNI, jalur tikus yang ada di kawasan ini mencapai 42 di setiap jalur perbatasan Kabupaten Belu dan Timor Leste.

Terdapat beberapa wilayah yang  menjadikan sungai sebagai batas negara RI – Timor Leste. Berbeda dengan sungai-sungai di wilayah lain, sungai di Pulau Timor cenderung kering dan dangkal, sehingga sangat mudah dilalui baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan bermotor. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh para pelintas batas ilegal untuk mengangkut barang yang akan diperjualbelikan.

???????????????????????????????
Kondisi Umum Permukaan Sungai di Pulau Timor

Selain pos perbatasan darat, Kabupaten Belu juga memiliki pos perbatasan laut, yaitu Pelabuhan Atapupu. Pelabuhan yang terletak di Kecamatan Kakulukmesak ini dilengkapi dengan fasilitas kantor Bea Cukai Tipe B serta kantor imigrasi, di mana keduanya berfungsi sebagai penjaga sekaligus pengawas perbatasan—yang dengan keberadaannya berhasil menggagalkan beberapa tindak penyelundupan.

Pelabuhan seluas kurang lebih 26,800 m2 ini memiliki lokasi yang strategis dan dekat dengan Timor Leste, sehingga wajar saja bila kemudian ia menjadi pusat perekonomian di kawasan ini. Banyaknya jumlah kapal yang sandar, turut berimplikasi pada ramainya aktifitas bongkar-muat barang di pelabuhan. Potensi inilah yang melatari pemerintah mengembangkan Pelabuhan Atapupu menjadi pelabuhan internasional di masa mendatang.

Atapupu
Kantor Bea Cukai Atapupu (Sumber: http://kppbcatapupu.blogspot.com/)

Terbatasnya SDM Bea Cukai di kawasan perbatasan, menuntut petugas yang ada untuk bekerja semaksimal mungkin, mengingat banyaknya titik-titik kebocoran antar dua wilayah. Luasnya cakupan wilayah kerja tidak diimbangi dengan ketersediaan SDM, tidak menjadi alasan untuk lengah. Terbukti, beberapa kali petugas Bea Cukai Atambua berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika, psikotropika, senjata rakitan, dan BBM. Selain itu terdapat pula barang kebutuhan sehari-hari yang diselundupkan melalui “jalur tikus” di beberapa wilayah perbatasan.

Seperti halnya perbatasan di Kabupaten Belu, perbatasan di Kabupaten TTU dengan Distrik Oecusse juga memiliki permasalahan yang hampir sama, tentang penjagaan wilayah perbatasan serta maraknya penyelundupan. Ada hal yang perlu diperhatikan di kawasan ini, terkait dengan arus lalu lintas barang dan Bea Cukai, khususnya tentang penyelundupan sembako, BBM, mobil, sepeda motor, serta kondisi ekonomi kawasan perbatasan.

Perbatasan di Kabupaten TTU dengan Distrik Oecusse yang melintang sepanjang 114,9 km ini memiliki 5 Pos Lintas Batas resmi, dan 2 diantaranya sudah dilengkapi dengan kantor Bea Cukai (perbatasan di Wini dan Napan). Selain Pos Lintas Batas dan Bea Cukai, kawasan perbatasan ini juga memiliki 8 titik lokasi yang masih menjadi sengketa perbatasan.

Tubunana, Noel Ekat, dan Naijamuti merupakan tiga titik yang sampai saat ini masih menjadi sengketa masyarakat lokal berupa kasus perebutan tanah tanam/pemakaman). Sedangkan 5 titik lainnya di Oelnasi, Nefo Nunpooh, Subina, Bahop, dan Pistana merupakan wilayah yang diakui sebagai zona bebas diantara dua negara. Peta Lokasi Kantor Bea Cukai Kabupaten TTU Selain masalah perdagangan ilegal, perdagangan resmi yang ada di pasar-pasar perbatasan juga perlu mendapat perhatian karena di pasar ini terjadi transaksi barang dan jasa dari kedua negara. Terdapat 3 Pasar Perbatasan di wilayah Kabupaten TTU – Timor Leste, yaitu Pasar Napan, Pasar Wini,dan Pasar Haumeni Ana.

  • Pasar Napan terdapat di Kecamatan Bikomi Utara, dibuka sebulan sekali ada hari Jumat minggu keempat. Pasar ini berkembang cukup pesat, ditandai oleh bertambahnya jumlah penjual dan pembeli yang mencapai 5000 orang. Tingginya arus barang dan transaksi inilah yang menarik banyak pedagang bahkan dari luar kedua wilayah ini untuk untuk datang ke Pasar Napan. Lalu permasalahan pun mulai muncul, yaitu iklim usaha yang  tidak sehat serta meningkatnya kegiatan penyelundupan saat pasar berlangsung.
  • Pasar Wini terdapat di Kabupaten Insana Utara. Berbeda dengan Pasar Napan, Pasar Wini masih belum dioperasikan untuk perdagangan antar negara. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang ada di perbatasan Wini sedikit dan minta terhadap Pasar Wini juga rendah. Karenanya keberadaan pasar ini tidak efektis dan tidak terawat.
  • Pasar Haumeni Ana  berlokasi di perbatasan Desa Haumeni Ana dengan Sub Distrik Pasabe – Ambenu, sehingga pasar ini sering didatangi oleh masyarakat dari sudistrik ini untuk membeli kebutuhan sehari-harinya. Seperti halnya Pasar Napan, perkembangan Pasar Haumeni Ana juga cukup pesat. Jumlah penjual dan pembelinya mencapai angka 3000 dan peredaran barang serta uang di pasar ini cukup tinggi. Pesatnya pertumbuhan pasar memunculkan permasalahan baru. Masuknya masyarakat dari Sub Distrik Pasabe – Ambenu ke wilayah RI tanpa menggunakan Pass Lintas Batas (PLB) tetapi hanya melapor ke pihak penjaga perbatasan, mengakibatkan tidak terkontrolnya arus barang dan uang di kawasan ini.
???????????????????????????????
Salah Satu Pasar di Kabupaten TTU

Diantara Kabupaten Belu dan Kabupaten TTU, Kabupaten Kupang lah yang memiliki wilayah perbatasan paling kecil. Kawasan perbatasan ini terdapat di Amfoang Timur. Konflik yang paling sering terjadi di kawasan ini berupa sengketa lahan dan garis perbatasan antar negara.

Di Kabupaten Kupang, terdapat 4 kantor Bea Cukai, yaitu di Pelabuhan Laut Tenau, Bandar Udara El Tari, Kantor Pos Bea Kupang, dan Pos Pengawasan Bea dan Cukai Tenau. Kupang menjadi pintu masuk utama barang-barang  ke kawasan Pulau Timor. Hal ini ditandai oleh adanya kantor bea cukai di kawasan pelabuhan laut, udara, dan darat.

Dibandingkan dua wilayah perbatasan yang lain di Pulau Timor, jumlah kasus di perbatasan darat Kupang – Timor Leste lebih sedikit. Namun, sebagai pintu gerbang utama, tanggung jawab kantor Bea Cukai di Kupang lebih besar, karena lingkup tanggung jawabnya lebih luas.

Peta perbatasan Kantor Bea Cukai Kupang

 PERANAN BEA CUKAI SEBAGAI PENJAGA PERBATASAN RI DI PULAU TIMOR

Bea Cukai sebagai salah satu penjaga gerbang perbatasan terdepan, bertugas untuk membentengi dan menjaga stabilitas ekonomi di Indonesia. Tugas Bea Cukaidalam m elindungi ekonomi Indonesia di perbatasan negara antara lain melakukan pengawasan terhadap arus barang  baik yang  keluar maupun masuk ke wilayah Indonesia.

Kasus-kasus yang  kerap terjadi menunjukkan betapa pentingnya peranan Bea Cukai bagi Indonesia. Bersama-sama dengan pihak berwajib (yang lain), Bea Cukai juga menjadi penegak hukum di wilayah perbatasan. Berada di garda depan perbatasan negara bukanlah tugas yang mudah, apalagi terkendala minimnya sarana prasarana serta SDM yang ada.

Di perbatasan, para petugas Bea Cukai berjibaku dengan berbagai permasalahan lokal dan bekerja lebih keras agar tetap bisa menjaga kedaulatan RI. Luasnya wilayah kerja dengan berbagai permasalahannya, membuat Bea Cukai lebih banyak fokus pada pengawasan wilayah perbatasan. Banyak hal yang perlu dilakukan oleh Bea Cukai di kawasan perbatasan, banyak permasalahan yang butuh diselesaikan, serta banyak perbaikan yang bisa dilakukan untuk bisa menjalankan tugas dengan lebih baik.

  • Permasalahan lintas batas. Petugas Bea Cukai di perbatasan perlu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, khususnya di titik-titik dimana kantor Bea Cukai tidak ada di sana, sehingga tetap dapat memonitor wilayah perbatasan. Selain itu, dapat dilakukan upaya penambahan jumlah personel Bea Cukai agar pengawasan di perbatasan lebih optimal.
  • Maraknya penggunaan mata uang asing di perbatasan. Pesatnya perkembangan pasar perbatasan mengakibatkan peningkatan penggunaan mata uang asing di kawasan ini, baik oleh penduduk Timor Leste maupun penduduk lokal. Sebagai penegak stabilitas ekonomi, Bea Cukai perlu melakukan pengawasan terhadap kegiatan pasar perbatasan supaya arus transaksi yang ada masih dalam tahap normal dan tidak menggeser peran mata uang lokal. Selain itu, Bea Cukai juga dapat memperketat pengawasan terhadap jenis komoditas yang ada di Pasar Perbatasan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penyelundupan barang-barang yang bertentangan dengan undang-undang.
  • Penyelundupan. Banyaknya kasus penyelundupan yang terjadi di kawasan perbatasan membuat Bea Cukai harus lebih ketat lagi melakukan pengawasan terhadap sirkulasi barang. Disamping itu, Bea Cukai juga perlu menjalin kerjasama dengan penjaga perbatasan yang  lain untuk meminimalkan terjadinya pelanggaran hukum dan penyelundupan barang-barang yang di larang masuk  ke wilayah RI. Adanya pelanggaran dalam hal kepabeanan, menuntut petugas Bea Cukai bertindak tegas danam menegakkan hukum, supaya tidak terjasi lagi kasus yang serupa. Penelitian LPEM-UI menunjukkan bahwa negara mengalami kerugian sekitar 16 trilyun pertahun akibat adanya penyelundupan. Bisa dibayangkan, jika kasus ini berhasil ditangani dan diatasi dengan baik, akan berpengaruh positif pada penerimaan negara.

Kinerja Bea Cukai yang ditunjukkan melalui penanganan berbagai kasus mulai dari penyelundupan maupun penangkapan barang dan transaksi ilegal sudah berhasil dilakukan dengan baik. Namun, bisa jadi di masa mendatang muncul kasus-kasus lain baik kasus baru maupun pengulangan kasus lama. Karenanya beradaan Bea Cukai  khususnya di wilayah perbatasan perlu mendapat perhatian serta prioritas, supaya dapat membantu menegakkan stabilitas sejak dari wilayah perbatasan.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 

 ***

Referensi :

12 thoughts on “Tantangan Penjaga Gerbang Perbatasan RI di Pulau Timor

    1. Hahahhahahhahaa makasih mbaaaa ^_^

      Coba nanti kalo aku bikin postingan khusus buat mbak Febby, bakalan kayak gimana ya komennya?
      Soalnya sudah sejak setahun kemarin mau posting itu, tapi belum jadi2 X_X

    1. Iyaaa … Aku ikutan bareng Farchan & mas Bembi. Kmrn sebenernya mau nanya2 soal ini padamu Ar, tapi ga jadi. Soalnya lagi sibuk sekolah sama ndampingi Nenny. hehehehehe
      Doakan kami bertiga menang yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s