Bertamu ke Maubesi

Cuaca siang itu agak mendung dan saya berharap tidak turun hujan karena perjalanan kami masih jauh. Sepertinya Gaule Jen (mas ojek kepercayaan adek) juga tidak membawa jas hujan yang bisa dipakai berdua. Lepas dari pos imigrasi Winni – Oecusse, kami harus berteduh menunggu hujan reda. Seringnya, hujan di Pulau Timor ini hanya berlangsung sebentar, tetapi sangat deras. Cukuplah bisa membuat kami basah kuyup jika nekat menerobos hujan sambil bermotor. Dan benar, belum ada sepuluh menit hujan sudah reda.

“Kita langsung pulang ke Kefamenanu bu?” tanya Jen yang  hendak menyalakan motornya. Oiya, dia memanggil saya ‘bu’ karena dia memanggil adek saya Pak Fajar #dijelasin.

“Oh enggak. Saya ingin ke desa pusat pengrajin tenun dulu,”

Sekilas ada ekspresi ragu di wajah Jen, lalu saya pun menyodorkan artikel tentang daerah bernama Maubesi yang sudah tersimpan di HP. “Kakak tau Desa Maubesi, kan?” saya pun memastikan Jen bisa membawa saya ke Maubesi.

“Nanti dicari sama-sama …”

 

Ternyata, itu adalah kali pertama Jen pergi ke Maubesi. Sebenarnya, jika dari arah Kefamenanu dia tahu rute yang  harus ditempuh untuk sampai ke sana, tetapi karena kami memulai perjalanannya dari perbatasan Winni – Oecusse, Jen harus mereka-reka rute yang paling memungkinkan untuk mencapai Maubesi.

Awalnya kami berencana akan makan siang  di daerah Winni, tetapi karena kami tiba di perbatasan lebih awal dari perkiraan dan saat itu masih terlalu pagi untuk makan siang, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Maubesi sambil mencari rumah makan di sepanjang jalan. Kecepatan motor selalu diperlambat saat melewati pasar dan permukiman penduduk, supaya kami tidak melewatkan jika ada warung  makan di sana.

Satu jam pertama menuju Maubesi, kami mulai kehausan dan kelaparan.  Usaha kami mencari rumah makan di sepanjang Winni – Maubesi berakhir sia-sia. Untunglah saya membawa roti dan 2 botol air mineral yang memang dibawa untuk berjaga-jaga kalau kami mengalami kondisi seperti ini. Sambil menunggu Jen beristirahat, saya pun berkeliling dan memotret beberapa lopo (sebutan untuk bangunan yang ada di depan rumah) dan rumah-rumah penduduk yang hampir seluruhnya masih berupa rumah tradisional yang beratap ilalang.

DSC00368

Kami pun melanjutkan perjalanan …

Setelah berjalan lurus mengikuti jalan beraspal, sampailah kami di pertigaan yang cukup ramai. Kami berharap bisa menemukan warung makan di desa ini, tapi lagi-lagi kami masih harus menahan lapar. Berdasarkan keterangan sepasang ibu anak yang saya temui di pertigaan ini, rumah makan terdekat ada di Kota Kefamenanu😦. Gagal menemukan warung makan, saya pun menanyakan keberadaan Desa Maubesi pada mereka berdua.

“Mbak lurus saja ke sana. Maubesi dekat.”

Seperti petunjuk si ibu, sekitar 30 menit dari pertigaan sampailah kami di Desa Maubesi. Bangunan pertama yang menarik perhatian tentunya Sonaf Maubesi, salah satu kerajaan yang (pernah) ada di daerah Timor Tengah Utara ini. Tidak jauh dari Sonaf Maubesi, kami mendapati sebuah rumah lengkap dengan lopo-nya. Ada beberapa orang yang duduk-duduk di sana, salah satunya sedang menenun. Saya pun meminta Jen berhenti, dan memberanikan diri menyapa pemilik rumah.

“Siang ibu. Saya Dian dari Kefa. Boleh saya mampir?”

Sang ibu, yang kemudian saya tahu bernama Maria Yolanda Eno, menyambut saya dengan ramah. Setelah mempersilahkan duduk, beliau pun banyak bercerita soal kain tenun ikat, kebudayaan dan kearifan lokal yang ada di Maubesi, sampai tentang siapa saja yang pernah singgah ke sana.

Desa Maubesi yang menjadi kota kecamatan Insana Tengah dikenal sebagai salah satu sentra tenun ikat di wilayah Timor. Berjarak 18 km dari Kota Kefamenanu dan dilalui oto yang menuju ke Atambua, Maubesi sangat mudah dijangkau.

Ada hal umum yang biasa dijumpai di daerah ini, yaitu bangunan rumahnya yang  terdiri dari 3 bangunan : lopo, rumah induk, dan WC. Lopo terdapat di bagian paling depan. Berbentuk ruang terbuka beratap ilalang, yang  bagian langit-langitnya disekat untuk dijadikan gudang penyimpanan makanan. Biasanya, Lopo ini difungsikan untuk menerima tamu (seperti kami), menenun, bersantai, melaksanakan acara-acara adat, dan tempat berkumpulnya keluarga. Untuk bangunan rumah induk, hampir sama dengan bangunan rumah pada umumnya, lengkap dengan kamar tidur dan dapur.

Dari cerita Ibu Maria, tahulah saya bahwa setiap wanita di Maubesi diwajibkan bisa menenun. Jika sedang tidak bercocok tanam, kita dapat menjumpai wanita-wanita ini menenun di lopo yang ada didepan rumah masing-masing. Biasanya kegiatan menenun ini dilakukan mulai pagi sampai sore hari. Konon, tenun ikat Maubesi  termasuk yang terbaik di Pulau Timor. Tenun ikat ini memiliki ciri khas yang membedakan dengan tenun ikat daerah lain. Satu yang saya paham, kain tenun ikat Maubesi ini berbeda dengan tenun yang saya punya di rumah. Motifnya sama, luar-dalam🙂

Butuh waktu 1 minggu hingga 1 bulan untuk menyelesaikan sebuah kain tenun ikat, tergantung dari kerumitan motifnya. Saya sempat mengira, benang-benang  yang digunakan untuk kain tenun ini dipintal secara tradisional. Namun, masyarakat Maubesi biasa menggunakan benang yang bisa dibeli di toko. Mereka menyebutnya Benang Toko. Soal harga, tenun ikat Maubesi cukup bervariasi, mulai Rp 500.000,- sampai Rp 7.000.000,-. Untuk pemasarannya, masyarakat biasa menjualnya di Pasar Maubesi yang hanya ada setiap hari Kamis. Selain itu, biasanya ada agen-agen atau pembeli yang datang langsung ke rumah pengrajin untuk membeli tenun. Sayangnya saya datang ke sana sehari lebih awal, jadi tidak bisa melihat langsung kemeriahan pasar Kamis di Maubesi.

Sembari mengobrol, saya meminta ijin untuk melihat nenek yang sedang menenun dari dekat. Saya penasaran dengan teknik dan bagaimana mereka memasukkan motif ke dalam kain tenun.

???????????????????????????????

Yang saya suka dari rumah ibu Maria, semua dibiarkan apa adanya. Rumah ini memang difungsikan untuk rumah tinggal dan bukan untuk menyambut wisatawan/pembeli yang datang. Semua yang ada di dalam lopo sangat sederhana, termasuk alat tenun yang dipakai nenek yang disangkutkan seadanya di salah satu sudut lopo. Lantai tanah, kursi panjang, dan balai kayu di dalam lopo menunjukkan kesederhanaan pemiliknya. Berada di sini dan berbincang dengan keluarga Ibu Maria, membuat saya bisa merasa lebih dekat dengan keseharian masyarakat Maubesi.

???????????????????????????????

Suami Ibu Maria yang ikut menemani kami siang itu menunjukkan beberapa kain tenun yang sedang dalam proses pengerjaan. Alat-alat tenun yang berupa bilah-bilah bambu masih terpasang di sana. Kamera yang masih “ON” pun saya arahkan ke kain tenun yang dipegang beliau, dan …… Halo! Keponakan tertua ibu Maria tiba-tiba muncul dari balik kain dan minta difoto. ???????????????????????????????

Tengah hari, nenek menghentikan aktivitas menenunnya dan masuk ke dalam rumah. Ketika saya berpamitan, ibu Yolanda mencegah dan minta menunggu nenek sebentar. Saya sempat bingung, karena sebelum masuk ke rumah nenek tidak mengatakan apa-apa pada kami. Beberapa saat kemudian, nenek pun keluar. Kali ini dengan membawa setumpuk kain tenun. Beliau mempersilahkan saya melihat dan mencoba kain tenunnya, walaupun tahu saya tidak berencana membeli kain tenun milik mereka.

Ada satu  kain tenun yang sudah berbentuk rok dan saya naksir berat. Berkali-kali menimang dan mencobanya di badan. Bagus!. Begitu saya tanyakan harganya dan ibu Maria menyebut angka 7 juta, saya pun meletakkan kain tenun di kursi lagi, hehhehhe. Orang Jawa menyebutnya “ono rego, ono rupo”. Kain ini memang pantas dijual dengan harga yang tinggi karena hampir keseluruhan bagian kain dihias motif kecil-kecil dan rapi. Ternyata, ibu Maria butuh waktu lebih dari 1 bulan untuk membuatnya.


???????????????????????????????

Jam di HP sudah menunjukkan pukul 2. Pantas saja rasa lapar saya semakin menjadi karena memang sejak pagi belum terisi. Sepertinya Jen pun sama laparnya dengan saya😆 Kami pun berpamitan dan akan kembali ke Kefamenanu. Sebelum benar-benar pamit, saya meminta tolong Jen memotret kami berenam sebagai kenang-kenangan.

“kalau mbak ke sini lagi, jangan lupa mampir. Nanti sa ajari mbak menenun” pesan Ibu Maria.

Tentu ibu …

Belajar menenun langsung di lopo, sepertinya akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan😀

*brb mencari sponsor perjalanan ke Maubesi*

 

21 thoughts on “Bertamu ke Maubesi

  1. “kalau mbak ke sini lagi, sonde lupa mampir. Nanti sa ajari mbak menenun” pesan Ibu Maria.
    G enek boso ” sonde lupa mampir”, eneke jangan lupa mampir.
    Sonde = tidak

      1. Kl ke maubesi..mampir aja ke rumah. Keb org tua sy di maubesi. Tanya aja rmh Pak Petrus desanto atau toko mausufa. Org maubesi tau kok mba. Nginap aja di rmh…

      2. Waaahhhh! Makash Sintia ^_^

        Lain kali saya mampir ke rumah, sekalian ke Sonaf Maubesi.

        Sintia tahu? Ini adalah keramahan khas orang Timor yg saya suka dan membuat saya erasa “pulang” ketika berada di sana. Saat jauh dari rumah, keramahan orang2 Timor membuat saya merasa akrab dengan daerah sana.

        Senang bisa menyapa Sintia di sini

  2. WAAOOOW KEREEEEN!! om tdk mengira td itu om sangka sebuah cerita novel, dan bukan catatan perjalanan awardeean, om terkecoh oleh kosa kata ‘maubesi’ ‘gaule jen’ ‘imigrasi wini’ dan istilah luar jawa lainnya. start cerita ada kata ‘mendung’ ‘tukang ojek’ wah ini pasti cerita horor! sumprit om terkecoh. begitu sampai narasi : “Siang ibu. Saya Dian dari Kefa. Boleh saya mampir?” om mulai full tanda tanya, ini Dian pasti! tapi kalimat “…dari Kefa” menyurutkan pemahaman om, sebuah tanda tanya besar membawa om ingin melanjutkan membaca. (biasa mantan penyelidik haha…) akhirnya terkuak, om berhadapan dgn seorang penulis yg nonjok (ungkapan om kepada istilah berbobot yg melebihi kapasitas). yes, i verry like about your reportase.

    1. Makasih OM Rud sudah mampir ke sini lagi ^_^

      Awal tahun lalu, saat nganter adek ke Kefamenanu, saya sekalian jalan2 ke daerah perbatasan dan desa Maubesi ini Om. Seenang sekali bisa ketemu banyak hal dan dapat pengalaman baru.

      Pas di sana, terbantu sekali dengan koneksi internet yg lancar di kawasan pertamasan RI – Timor Leste (Wini – Oecussi), jadi bisa mengumpulkan tambahan informasi selama jalan2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s