[Cerpen] Pertunjukan Terakhir untuk Aminah

Inaq Bangkol, Cupak, dan Amaq Bangkol dalam lakon teater Cupak Gurantang
Gambar dipinjam dari Lafatah

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore saat kukemasi perlengkapan pertunjukan dan memasukkannya kedalam tas. Tidak banyak yang kubawa, hanya beberapa topeng dan sebuah terusan putih bermotif polkadot hitam. Sekilas, kulirik jam dinding. Masih ada waktu 30 menit lagi sebelum pertunjukan dimulai.

 

Entah mengapa, bermain dalam pertunjukan kali ini tidak begitu kusukai. Seolah ada yang aneh. Tapi, sudahlah. Toh semua ini demi Aminah. Bocah yatim piatu yang hampir 2 tahun kurawat. Dia suka sekali menonton rekaman video pertunjukan-pertunjukanku yang kubawakan untuknya.

Ia jarang sekali bicara, tetapi sekalinya bersuara… sungguh! Aku tak sanggup mendengarnya. Suaranya yang lemah, apalagi ketika dia mulai mengerang kesakitan yang kemudian disusul dengan tangisan sungguh mengoyak hati.

Kata dokter ia sakit Lu… Lu… ahh! Aku lupa namanya. Susah sekali dihapal untuk ukuran orang tidak berpendidikan sepertiku. Rasa-rasanya, kalau pun aku berhasil menyebutkan nama penyakit itu dengan benar, lidahku ini pasti sungsang setelahnya.

Dalam ingatanku, selama merawatnya, baru pagi tadi kudengar ia lancar berbicara tanpa erang kesakitan. Sungguh sesuatu yang telah lama kuimpi-impikan, namun sekaligus menimbulkan tanda tanya besar dalam pikiranku. Pertanda apa ini? Apa maksudnya?

“Ayah,” katanya lembut. “Aku mau nonton ayah main di panggung langsung ya. Sekali iniii… aja.” Tangan halusnya menggenggam erat-erat telapak tanganku dengan penuh harap. Tatapan kedua bola matanya seolah menegaskan permintaannya.

Engkau mungkin heran mendengar ia memanggilku dengan sebutan “Ayah,” padahal jelas-jelas aku ini bukan bapak kandungnya. Ia pun tahu akan hal itu. Aku mengenal keluarganya sejak mereka pindah ke sebelah rumahku, Baru satu minggu kami saling kenal, kecelakaan maut merenggut nyawa kedua orang tua Aminah. Kecelakaan itu sekaligus mengubah statusnya menjadi seorang yatim piatu.

Dari kabar yang kudengar, berminggu-minggu ia menangisi kematian kedua orang tuanya. Semua tetangga telah mencoba segala daya dan upaya, namun hasilnya sama saja. Usaha mereka sia-sia. Anehnya, begitu aku mencoba menenangkannya, Aminah seolah mendapati kembali orang tuanya, dan itulah kali pertama ia memanggilku dengan sebutan “Ayah.”

Bila engkau bertanya, mengapa aku butuh waktu berminggu-minggu baru melakukan hal itu? Ini penjelasanku: karena pada saat kejadian orang tuanya meninggal, aku masih berada di luar kota. Membantu keluarga adikku yang sedang mempersiapkan pernikahan anak tunggalnya.

***

Lamunanku melayang semakin jauh, sementara bocah perempuan itu menanti jawabanku dengan raut muka yang memelas.

Begitu gejolak hatiku berhasil kukendalikan, kutatap wajah gadis kecil itu, dalam-dalam. Kedua telapak kasarku, kuusapkan lembut pada pipi-pipi cekungnya. “Iya. Hari ini Aminah boleh nonton pertunjukan Ayah. Pokoknya, duduk paling depan.” Bukan sekedar bualan, pernyataan ini tulus kubuat.

“Ayah…,” ujarnya lagi. “Tapi, aku maunya pergi duluan, ya?”

Deg!

Kali ini aku tak sanggup lagi menjawab pertanyaannya. Ada desir aneh yang seketika membuat tubuhku menggigil. Aku hanya mampu memeluk tubuh ringkih itu erat-erat, tanpa bersuara.

***

Pertunjukan malam ini harus berjalan sempurna. Aku ingin Aminah bahagia. Aku ingin ia melupakan kesedihan dan sakitnya, paling tidak untuk hari ini.

Sekali lagi kulirik si penanda waktu. Kali ini bukan jam dinding penghias ruang, tapi jam bertali hitam di pergelangan tangan kananku. Jarumnya terasa cepat bergeser, waktu pementasanku semakin dekat.

Segera kuambil sepeda yang usianya hampir sama denganku, lalu kukayuh kuat-kuat untuk mengejar waktu. Aku tidak boleh terlambat! Aminah sudah menunggu di depan panggung.

***

Hampir saja! pekikku dalam hati. Sepeda tuaku kugeletakkan begitu saja di samping pintu, persis di sebelah ruang serbaguna, di mana para pemain biasa mempersiapkan diri. Situasinya memaksaku untuk meletakkan  sepeda kesayangan itu alakadarnya. Tak lagi berguna standar 2 yang biasa menopang rangka tuanya. Aku harus segera mempersiapkan diri. pertunjukan akan dimulai 5 menit lagi!

Tergesa-gesa aku memasuki ruang serbaguna dibelakang panggung. Sudah ada Kampret, Cimet, dan Pelo di sana, lengkap pula dengan kostum dan topengnya. Setelah meneguk segelas teh hangat di meja dekat kaca, aku mempersiapkan diri. Kubongkar semua perlengkapan yang kubawa tadi.

Terusan putih bermotif bulatan-bulatan hitam yang kata orang, namanya polkadot, kugunakan secepatnya tanpa melepas lagi kaus dan celana pendek usang yang sudah kusandang sejak dari kemarin.

Terkesan jorok memang, tapi apa boleh buat, pakaian yang kupunya memang hanya dua. Yang sepasang lagi, belum kering dicuci.Harap maklum. Kehidupan seperti apa yang bisa engkau harapkan dari menjadi artis pertunjukan kelas kampung.

Setelah semua hampir siap, aku dilanda kebingungan. Bingung memilih topeng mana yang akan kukenakan malam ini.

Ban,Ban,Di. Ketiban dadi!

Sambil memilih topeng-topeng yang ada, aku merapal mantra layaknya Heri porter. Bukan! Bukan pesulap hebat yang itu, ya. Ini Heri yang lainnya. Harry Porter antar kampung. Porter dalam artian sesungguhnya. Seorang kuli panggul. Yang hobinya merapal mantra setiap kali ongkos jasa yang diterimanya dianggap tidak sepadan dengan tenaga yang telah dikeluarkan itu.

Beberapa kali berputar, telunjukku berhenti di atas topeng putih berbentuk wajah membulat – lengkap dengan rambut palsu yang warnanya putih-putih juga.

Sekarang, aku siap tampil.

***

Tirai panggung perlahan terbuka. Butuh 30 detik hingga ia membuka sepenuhnya. Panggung yang semula kurasa lapang, entah mengapa, tiba-tiba terasa amat sempit. Keringatku bercucuran deras kali ini. Dan itu bukanlah sesuatu hal yang biasa! Aku telah mementaskan lakon yang sama, lebih dari 10 tahun lamanya. Mengapa kali ini tiba-tiba saja aku seperti seorang pemula!? Tak ada satu script pun yang bisa kuingat. Bahkan garis besar cerita pun tidak! Ya, Tuhan, ada apa gerangan denganku? Mungkinkah gara-gara Aminah? Atau karena penonton yang membludak? Bukan! Aku yakin ini bukan karena penonton. Aku yakin ini lebih karena Aminah.

Bocah perempuan yang kutitipkan di bangku paling depan itu menunjukkan gejala kolaps.Ya, Tuhan! Jangan! Kumohon, jangan! Doaku dalam hati.

Min, kau janji menjaganya selama dia menonton pertunjukan ini, kan? Tepati janji itu! Karena, itulah satu-satunya alasan yang membuatmu bisa berada di tempat ini. Duduk di sebelahnya. Pada jajaran bangku yang paling depan pula. Sebagai ganjaran engkau boleh menonton pertunjukan ini secara gratis.

Rasanya, aku ingin ikut menghambur ke bangku deretan terdepan sana, supaya bisa melihat kondisi Aminah dari dekat. Tapi niat itu urung kulakukan. Bagaimana pun, pertunjukan ini harus tetap berjalan. Setidaknya selama beberapa menit kedepan.

Aku sangat mengkhawatirkan kondisi Aminah, namun aku juga tidak mau mengecewakan teman-temanku dan penonton yang lain. Argh!

***

Perlahan, telingaku menangkap suara tabuh gamelan dari bagian kanan panggung. Tanda pertunjukan segera dimulai. Aminah, bertahanlah.

Perlahan kupejamkan kedua mataku. Tujuannya cuma satu, untuk kembali mengingat-ingat script yang seketika menghilang entah ke mana.

Semakin dalam…

Semakin dalam…

Tirai gelap yang membutakan alam pikiranku, lamat-lamat mulai menunjukkan kalimat-kalimat dialog pertunjukanku yang semula hilang. Aku tersenyum lega. Namun, belum lagi genap satu kalimat berhasil kuingat dengan sempurna, terdengar suara orang berteriak panik. Entah halusinasi atau bukan, sepertinya teriakan itu ditujukan kepadaku, dan itu jelas membuyarkan konsentrasiku.

“To! Turuuunnn! Aminah To!…” warna suaranya aku kenal betul. Itu suara Parmin. Orang yang kupercaya untuk menjaga Aminah selama pertunjukan malam ini.

Parmin berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Ia tidak mempedulikan lagi banyaknya orang di gedung pertunjukan yang memperhatikannya. Semua mata tertuju pada dirinya yang sedang mengguncang-guncangkan tubh Aminah, sambil sesekali memeriksa denyut nadi di tangan gadis kecil itu.

Semua orang seketika itu pula menghambur ke barisan depan. Ada yang berniat ingin memberi pertolongan, jika ada pula yang hanya ikut-ikutan karena rasa penasaran.

“Aminah meninggal, Toooo !” suara Parmin semakin histeris. Kalimat terakhir ini kudengar seperti petir yang menyambar-nyambar. Ada sensasi berat sekaligus ringan yang kurasa saat mendengar teriakan Parmin. Aku seperti pasak bumi. Aku seperti bandeng tanpa tulang. Aku seperti…

Tidak! Kalimat itu tidak boleh benar! Dia harus salah! Setidaknya jangan saat ini.

“Aaarggghhh!!!”

Mengapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku walau sedikit saja, padahal Aminah sangat membutuhkanku berada di dekatnya.

Air mataku mengalir deras tanpa suara isak. Bila Aminah telah tiada, lantas apa gunanya aku ada disini? Mataku terpejam semakin dalam. Keduanya terasa berat untuk kupaksa membuka. Tak lama setelah teriakan terakhir itu, tubuhku terasa lebih ringan dan aku tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.

 

======================================

Pertunjukan Terakhir untuk Aminah merupakan cerpen hasil kolaborasi dengan mas Bem kemarin malam. Berawal dari cerita tentang ananda dan Belanda, lalu tercetuslah ide membuat cerpen dengan writing prompt gambar hasil pinjam dari postingan Lafatah. Perjanjian awalnya , kami hanya akan membuat cerpen dengan 500 kata. Namun akhirnya, cerpen ini tembus 1.200 kata. Antara ceriwis dan terlalu bersemangat sepertinya beda tipis ya ehhehhee😆

Matur nuwun ya mas BEM, walaupun karanganku agak-agak kacau, tapi kamu bisa mengimbanginya. Jadilah cerpen ini lebih enak untuk dibaca😀

Maturnuwun ya Lalu, yang sudah mengijinkan gambar Cupak Gurantang-nya dipinjam😀

25 thoughts on “[Cerpen] Pertunjukan Terakhir untuk Aminah

  1. aminah nonton videonya melalui apa?
    berdasarkan cerita, ayahnya itu tidak kaya, bajunya saja cuma dua pasang…. tapi punya jam tangan seh…. mungkin handphone kali yah

    *halah…. nanya sendiri jawab sendiri*

    1. Waaaahh, makasih banyak Bang Jampang untuk pertanyaan yang kuanggap masukan ^_^
      Dan iya, ternyata masih banyak celah sana sini yang terlewat ga diamati, dan plotnya juga banyak yang masih melompat sana-sini.

      HHeemmm, nganu … karena HP dan jam tangan sudah bukan lagi barang mewah dan semua bisa punya, makanya pas nulis2 ini hal itu dianggap wajar dimiliki seniman yang hanya punya dua baju X_X
      Lain kali kudu lebih memperhatikan detail profil tokohnya.

      Sekali lagi, makasih ya Bang Jampang. Masih harus banyak belajar nih, soalnya ini kali pertama bikin tulisan fiksi

      1. Hahhahhhahaahahaha, bang Jampang ini :p

        Tulisan ini tetap dibiarkan seperti ini saja buat kenang2an, supaya nanti ketahuan “perubahannya” gimana.
        Kayaknya bakalan ketawa2 sendiri kalau baca tulisan ini 2 tahun lagi hehhehhe

    1. Makasih mbak Yusmeeeii😀
      Aku masih harus banyak belajar. Ini aja bisa nulis beginian gara2 ada partner tandem. Semoga dia gak kapok hahahhaha

      Sering2? Eeeerrrr, aku mau nulis soal Tuban dulu. Masa ketinggalan sama kalian. Duh! yang Kupang juga belum selesai. DUh! Yang Pati Ayam juga. Duh! Kok akeh ya

  2. Kalau boleh tahu, cerpen ini sempat di endapin dulu nggak?

    Yah, sayang aja ada plot hole seperti yang dibilang om Jampang di atas…🙂 over all bagus kok. Apalagi pemilihan profesi si tokoh🙂

    1. boleh boleh boleh, boleh tahu kok😆 *Dijawab*

      Cerpen ini sempet diendapin semalam, tapi ga sampe 24 jam sih. Dan iya, kemarin memang ada detail yang terlewat dan memunculkan tanda tanya pembaca. Tapi senaaaang, karena ada yang merespon cerpen perdana ini.
      Trimakasih yaa Chandra ^_^

      Oiya, untuk pemlihan profesi tokoh, itu saya yang nyari gambar dan mas Bem yang mengeksekusi idenya.

    2. Sis…saya suka nulis puisi. Bisa tolong nilai puisi saya tdk? Hehehe…
      Yang saya upload baru 1 sih. Maklum baru baru nge blog. Hehe😀

      Saya tunggu folback dan kritikannya😀

      Makasi

      1. Ses Ruzz…. maaf banget. Puisi sy saya simpen lg, krn mau sy edit dl. Setelah dibaca berulang2 Ternyata msh jauh dr sempurna. Maafkan ya…. tp tetep di folback dong! Hehehe….

      2. Hehehhehhhe gapapaaaa
        Nanti klo tayang, kabar2 ya Ndra😀
        Sudah ku folbek dan mampir kesana juga.
        Cuma komenku gagal terkirim kayaknya. Koneksi inet agak kacau tadi

  3. kerennnnnnnnn.. ceritanya keren banget kak.. menyentuh hati. sempat kepikiran ini kisah nyata, taunya hanya cerita. hampir menetes air mataku waktu ngebaca cerpen ini, hehe kereennnnnn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s