#Surat: Terharu di Pasar Kefamenanu

IMG_20140129_125645

Untuk ibu penjual garam di Pasar Lama Kefamenanu🙂

Ibu, masih ingat dengan saya? gadis berkerudung biru muda, berjaket abu-abu, yang sibuk membidikkan kamera sambil sesekali bertanya disana 2 minggu yang lalu ? :) Saya masih ingat sekali dengan ibu,. Siang itu ibu menyambut  dengan ramah, tidak keberatan berbincang walaupun saya tidak membeli satu pun barang dagangan ibu.

Tawa ibu terdengar begitu lepas ketika sadar saya diam-diam membidikkan lensa kamera ke arah ibu. Reaksi kaget, malu, dan senang yang berlanjut pada sapaan ramah yang membuat saya berani melangkah ke kios untuk melihat dari dekat barang dagangan ibu.

“Lho? ini garam bu?” Begitu saya mengawali perbincangan waktu itu. Lalu, ibu pun bercerita tentang barang dagangan yang belakangan saya tahu diambil dari Kupang yang berjarak 5 jam perjalanan dari Kefamenanu. Jauh sekali!

Awalnya saya menduga ibu juga dari Kupang yang sengaja berjualan di Kefamenanu. Namun ternyata dugaan saya salah. “Ibu asli Timor nak”, begitu yang ibu katakan waktu itu. Di pasar lama Kefamenanu ibu hanya menjual satu jenis barang dagangan, garam. Setiap hari, ibu menggelar lapak sejak pagi sampai sore, bahkan tidak jarang berjualan sampai malam hari ketika pasar ramai.

Saya kaget begitu tahu harga garam-garam yang ibu jual. Untuk satu tas anyaman besar (yang saya lupa berapa berat kiloannya) ibu menjual dengan harga 10 ribu, dan untuk satu tas yang kecil ibu menjual dengan harga 5 ribu. Harga yang menurut saya sangat murah karena garam sebanyak itu baru bisa habis saya gunakan dalam hitungan beberapa bulan

Siang itu, sinar matahari sangat terik dan pasar agak sepi. Jarang terlihat pembeli hilir mudik di tengah pasar, begitu juga di lapak ibu. Wajah ibu terlihat sumringah begitu saya mendekat dan bertanya, mungkin saja ibu berharap saya akan menjadi salah satu pembeli garam ibu hari itu. Saya benar-benar ingin membeli garam waktu itu, namun memikirkan bagaimana membawanya ke Jawa membuat saya mengurungkan niat. Maafkan saya ibu …

Walaupun saya tidak jadi membeli garam-garam itu, namun senyum ramah dan kehangatan tidak hilang dari sikap ibu. “Tidak apa-apa nak”, jawaban ibu memang singkat namun berhasil membuat saya terharu. Jarang sekali saya bertemu dengan pedagang seperti ibu.

Maafkan saya lupa menanyakan nama ibu dan desa tempat ibu tinggal.

Terimakasih ibu, sudah menyediakan waktunya dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya siang itu. Semoga dagangan ibu selalu laris diserbu pembeli, sehingga ibu tidak perlu menunggu dagangan sampai malam lagi.

Saya berharap bisa bertemu lagi dengan ibu jika berkunjung ke Kefamenanu lagi nanti.

Salam …

 

19 thoughts on “#Surat: Terharu di Pasar Kefamenanu

  1. Nama pasarnya bagus ya, Kefamenanu. Kira-kira artinya apa ya?

    Salah satu spot menarik di setiap daerah adalah pasar tradisionalnya. Apalagi kalau bisa ngobrol sama warga setempat, banyak cerita unik yang tidak bisa kita dapatkan di manapun..

    1. Kefamenanu ini nama ibu kota kabupaten di Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT ^_^

      Iya benar!!! Setuju banget tentang pasar tradisionalnya. Karenanya tiap kemana gitu pasti nyempetin mampir ke pasarnya walaupun ga beli apa2 hehehhhee😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s