Okaerinasai ^_^

Jalan-jalan di kota sendiri, itu adalah hal yang sangat jarang saya lakukan. Walaupun jarak tempat tinggal saya masih dalam radius walking distance dengan beberapa obyek wisata di Tuban, tetapi saya jarang sekali mampir ke sana. Ramainya peziarah, panjangnya antrian becak wisata, sepinya Museum Kambang Putih, tenangnya Klentheng Kwan Sing Bio, meriahnya tampilan Masjid Agung Tuban, cantiknya Pesantren Perut Bumi, dan sepoi-sepoinya angin di Pantai Boom menjadi pemandangan biasa yang dekat dengan keseharian di kota ini yang seringnya terlewat begitu saja.

Sampai ketika …

Saya saling berbalas mensyen dengan @Noerazhka dan mbak @usemay, dan tercetuslah ide untuk berjalan-jalan di Tuban😀 Masih via Twitter, saya pun menjawil mbak @Liamenaz untuk mengajaknya bergabung dengan kami, menghabiskan akhir Minggu di Tuban. Alhamdulillah bisa, dan fix kami akan kluyuran berempat.

Ternyata, rangkaian percakapan kami masih belum berhenti sampai di situ. Ada @fahmianhar dan @Halim_san yang terlibat didalamnya. Fahmi berhalangan dan Halim sedang galau, memilih ikut ke Tuban atau langsung meluncur ke Bali. Obrol obrol obrol, berbagai hasutan ditebar, dan akhirnya Halim pun memutuskan untuk bergabung dengan kami akhir Minggu itu. Asyik!

Dalam 10 tahun terakhir, ini kali pertama saya menjadi “tuan rumah” untuk teman-teman yang bertandang ke Tuban. Merancang itinerary, adalah hal yang pertama saya lakukan. Bingung? Pastinya😆 Saya merasa tidak ada yang istimewa dengan kota Tuban. Waktu kami 2 hari 1 malam, jadi hanya cukup untuk digunakan berkeliling wilayah kota.

30 November, adalah hari yang kami sepakati untuk bertemu. Setelah saling mengabarkan via SMS dan Twitter, saya dan mbak @Liamenaz menjemput mereka bertiga di alun-alun Tuban. Seperti biasa, berinteraksi dengan mereka selalu terasa menyenangkan.

Setelah beristirahat dan menaruh barang di rumah, kami pun langsung meluncur ke Pondok Perut Bumi. Walaupun lokasi pondok tidak terlalu jauh dari rumah, namun saya terakhir kesana 2 tahun yang lalu X_X. Saat itu, kami masuk bersamaan dengan rombongan jemaah pengajian. Agak ngeri juga membayangkan akan berjubel dengan banyak orang di bawah tanah.

Ketika rombongan jamaah lain mengikuti pengajian di bagian dalam masjid, kami berlima memilih untuk sekedar berkeliling area dalam pondok, didampingi oleh salah satu santri. Tidak banyak yang bisa kami jelajahi saat itu karena kondisi di dalam sedang ramai, dan saya pun baru tahu (esok lusanya) bahwa masih ada ruangan lain (masuk ke bawah tanah lagi), yang ornamen ruangannya sangat cantik namun saat itu sedang ditutup.

Ada peraturan “Dilarang memotret” di pintu masuk.  Ketika kami konfirmasi ke santri yang jaga, ternyata diperbolehkan memotret selama di sana, kecuali bagian dalam masjidnya. Usut punya usut, kami pun jadi tahu alasan dilarang memotret di dalam masjid. Alasannya bisa diterima😀

???????????????????????????????
Pondok Perut Bumi
(Foto oleh : Halim)

Masih berhubungan dengan ruangan bawah tanah. Setelah dari Pondok Perut Bumi, kami pun meluncur ke Goa Akbar, goa yang ada di bagian bawah kota. Goa ini cukup besar dan memiliki aliran sungai bawah tanah. Penerangan yang seadanya cukup membuat waspada supaya tidak terpeleset. Walaupun memiliki banyak lorong, kami tidak khawatir tersesat karena memang sudah disiapkan jalan berpagar untuk wisatawan berkeliling di bagian dalam goa.

???????????????????????????????
Lorong di Goa Akbar (@Liamenaz)

Klentheng Kwan Sing Bio, menjadi tujuan kami selanjutnya. Begitu masuk area parkir, @Noerazhka langsung menanyakan nama “Bio” di klentheng ini, Menurutnya, Kwan Sing Bio terlalu besar untuk ukuran “Bio”. Barulah saya tahu bahwa klenteng pun memiliki tingkatan-tingkatan, dan “Bio” biasanya digunakan untuk nama tempat peribadatan yang ukurannya kecil.

Mengunjungi klentheng Kwan Sing Bio sudah belasan kali saya lakukan, namun hari itu ada beberapa hal baru yang dijumpai selama di sana. Selain nama “bio”, ada patung-patung di bagian dalam klentheng yang ternyata melambangkan shio-shio (X_X). Sembari berkeliling, iseng kami menanyakan banyak hal pada Halim, termasuk nama patung-patung dewa yang ada di sana. Dan, jawabannya cukup mencengangkan😆

Malam harinya, kami memutuskan untuk melipir ke bagian barat kota, mengunjungi pameran UKM. Syukurlah teman-teman saya ini para pejalan, jadinya tidak kaget lagi ketika diajak berjalan kaki cukup jauh dari area parkir sampai ke gedung pameran. Bukan isi pamerannya yang membuat acara malam itu berkesan, tetapi komentar teman-teman yang takjub dengan animo warga Tuban untuk datang ke pameran lah yang benar-benar saya ingat malam itu.

Saya belum pernah mengunjungi pameran-pameran di kota lain, tetapi pameran di Tuban memang selalu ramai pengunjung🙂

???????????????????????????????
Tebak, teman-teman saya yang mana?
@PameranUKM

Kami masih “malas” kembali ke rumah malam itu, jadilah nongkrong-nongkrong sambil nyemil menjadi agenda tambahan. Warung yang nyempil di sebelah stasiun menjadi pilihan. Selain tenang, gazebonya juga enak untuk leyeh-leyeh sembari curhat bertukar cerita. Ada banyak hal yang kami perbincangkan malam itu, mulai soal kancah dunia persilatan beserta para pendekarnya di Twitter, travel blogger, pengalaman jalan-jalan, lagu-lagu galau, dan tentunya obrolan tentang “anu”😆 Duh! Mereka selalu saja nyerempet-nyerempet, baik online maupun offline.

Rencananya minggu pagi kami akan berburu sunrise di Pantai Boom. Namun apa daya, karena sesuatu, kami pun baru bisa kesana setelah sarapan. Tidak dapat sunrise, sunlight pun jadi #Eh.

???????????????????????????????
Halim & mbak Usemay
@Pantai Boom

Setelah sehari sebelumnya mengajak mereka berkeliling sebagian Kota Tuban, antusiasme luar biasa baru saya jumpai ketika …………………………………. mereka melihat antrian becak yang mengular sampai area Makam Sunan Bonang😆 Katanya, mereka belum pernah melihat antrian becak sepanjang itu di kota lain, hehhehheee.

Antrian becak ini cukup rapat, bahkan seringkali menutup akses masuk Museum Kambang Putih. Tetapi, becak-becak ini akan memberi jalan tanpa diminta ketika tahu ada pengunjung museum yang hendak masuk. Hal yang sama juga terjadi pada kami pagi itu, sempat berhenti sebentar di tengah jalan menunggu bapak-bapak itu menggeser becaknya untuk memberi jalan pada kami berlima.

Baru kali ini, mengunjungi museum menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk saya😀 *serius*. Ternyata, mengunjungi museum dengan teman-teman yang tertarik dengan sejarah serta wawasan sejarahnya luas akan berbeda daripada ketika mengunjungi museum seorang diri. Tidak hanya kami, bapak petugas museum pun antusias menjelaskan sejarah Majapahit dan peninggalannya di Tuban. Diskusi itu cukup seru, sampai-sampai ada 2 orang lain yang bergabung dengan kami di sana😆

???????????????????????????????
Diskusi @Museum Kambang Putih

Hari menjelang siang ketika kami memutuskan untuk makan siang warung Belut Jangkar yang ada di daerah Prunggahan. Konon, dulunya daerah ini adalah pusat kota Tuban kuno. Namun sayangnya, peninggalan kota kuno ini tidak lagi dapat ditemui. Kami sempat berhenti meneduh karena hujan cukup deras dan tidak ada satu pun yang membawa jas hujan dari rumah. Berkat mbak @Liamenaz, kami tidak tersasar ketika ke sana.

Mungkin karena cuaca yang mendung, warung ini tidak terlalu ramai dan kami bisa memperoleh tempat duduk tanpa harus mengantri. Selama di sana, mbak @usemay beberapa kali berteriak kaget ketika melihat kucing-kucing lewat. Agak tidak tega, tapi saya sempat tertawa beberapa kali #DikeplakMbakYusmei. Konon, belut Jangkar ini sangat pedas. Tapi, @Noerazhka bisa dengan santai menghabiskan belut di piringnya tanpa harus kibas-kibas kepedesan seperti saya dan mbak @Usemay. Selesai makan, saya, mbak @Liamenaz, dan @Halim_san seperti diaba-aba, berebut masuk dapur dan membuat keributan kecil di sana😆 Terimakasih yaaa Lim traktiran belutnya (^_^).

Kampung batik Mbongkol menjadi tujuan jalan-jalan terakhir kami siang itu. Karena cuaca mendung dan agak gerimis, kami tidak menjumpai warga-warga di sana membatik atau menjemur kain batik yang selesai diwarna. Akhirnya, langsung menuju ke salah satu pengusaha batik menjadi pilihan, karena waktu kami pun semakin terbatas. Di sini, kami berlima berbelanja batik, tentunya dengan harga yang jauh lebih miring daripada harga toko. @noerazhka, mbak @Usemay, dan @Halim_san agak takjub dengan harganya, dan memutuskan membelinya untuk cinderamata.

Jam satu pun berlalu, kami segera menuju ke tempat berbelanja oleh-oleh, mengantarkan @Halim_san dan mbak @usemay membeli miniatur ongkek. Kami benar-benar diburu waktu siang itu, karena @Halim_san masih akan ke Lasem dan mbak @Usemay ada penerbangan ke Jakarta esok paginya dari Solo. Setelah pulang, berkemas, dan berpamitan dengan mbah, kami pun menuju terminal lama, menunggu bus arah Semarang.

Setiap perjalanan memiliki ceritanya masing-masing, pun ketika berjalan-jalan di kota sendiri. Bersama mereka, saya pun bisa menikmati kota Tuban dengan cara yang berbeda. Kota yang sehari-harinya terlihat biasa, ternyata memiliki daya tarik yang tidak biasa. Terimakasih @Noerazhka, mbak @Usemay, mbak @Liamenaz, dan @Halim_san untuk jalan-jalannya yang menyenangkan😀 Maafkan karena menyambut kalian dengan seadanya. Senaaaaang banget ketika masakan-masakan itu “laris” dan tidak berefek mual mulas setelahnya padahal pas masaknya agak-agak salah resep😆

Sampai ketemu lagi di trip selanjutnya yaaaaa #GroupHugs

39 thoughts on “Okaerinasai ^_^

  1. Waaa aku masuk blog mb Dian lagi dng kemeja sama pas nongkrong di alun2 dulu haha. Sebenarnya aku bawa jas hujan mba, tp nanggung mau dipakai jrn dah mau sampai di belut jangkar whehe. Ayo ke solo mb Dian😉

    1. Hoallaahh, aku dan halim pas buka jok motor ga nemu jas hujan yg bs dipake mbak hihihihi
      Aku baru tahu klo dari belut Jangkar, bisa nembus Merik mb X_X
      Solo? Maaauuuuu … Tahun depan ya mbak, nyiapin hati dulu😆 #Eh

    1. Gimana gak mencengangkan Lim? Aku sudah hampir percaya kamu hapal dewa2 itu sebelum akhirnya dibilangi kalau tahunya dari serial Sun Go Kong! Eeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr😆

  2. Nyesel aku moco postingan iki.. Iri maksimal. Padahal kan aku pengen melu.. Bukan pengen melu jalan-jalan ning Tuban sih.. Tapi melu ngobrol tentang “anu” secara langsung :p Huahahahaahaaaa

    1. Wwuuiihh Ar, nek dirimu melu aku iso loro weteng setiap saat setiap waktu goro2 kemekelen 😆
      Hamosok, pas ngobrol malam2 sudah dibahas, eh besok paginya pas di pantai, dibahas lagi!!!
      Aku kan dadi pengen nyebur nang pantai hhahahhahhaa

      1. Kalau mau makan rajungan, jangan lupa bawa tisue sama permen yaaaa.
        Pengalaman kemarin, aku sama temen2ku makan rajungannya sampe nangis2 gara2 saking pedasnya hhahahhaa😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s