Ada Apa dengan 27 November 2013 di Indonesia?

“Ada apa?”

Itulah pertanyaan saya sejak kemarin, ketika membaca isu-isu tentang dokter melintas deras di timeline twitter. Ada yang mempertanyakan komitmen dan profesionalisme dokter, ada yang menyindir, dan ada juga yang membela. Semua twit itu berujung pada rencana tanggal 27 November 2013, besok.

“Ada apa?”

Ternyata, besok (27 November 2013) akan ada gerakan solidaritas dokter seluruh Indonesia. Rencananya, seluruh dokter akan melakukan aksi “tafakur” nasional sehari. Namun, sebenarnya tidak semua dokter sih. Ada beberapa yang masih melaksanakan tugasnya, tetapi hanya di bagian Unit Gawat Darurat (UGD) dan pelayanan untuk masyarakat miskin.

Penasaran! Saya pun meluncur ke timeline @blogdokter untuk mengetahui awal mula gerakan ini. Syukurlah, admin @blogdokter meng-update informasi-informasi mengenai hal ini.

! Aksi solidaritas

Mendapati foto diatas, saya pun semakin penasaran tentang sebab musabab mereka melakukan aksi ini. Bagi saya, tidak mungkin dokter-dokter ini melakukan “tafakur”  karena alasan kesejahteraan. Lalu? Karena apa?

Pencarian saya pun berlanjut, sampai akhirnya menemukan link berita tentang Kronologi Penangkapan dr. Hendry Simanjuntak😦

Owh!

Ternyata para dokter ini sedang memperjuangkan nasib rekan sejawatnya, dr. Hendry Simanjuntak dan dr. Dewa Ayu S.P, yang  tertimpa kasus malpraktek atas meninggalnya Julia Siska Makatey dan sedang menjalani penahanan. Selain mereka berdua, masih ada dr. Henry Siagian yang namanya masih masuk dalam DPO.

Kasus malpraktek dalam bidang kedokteran bukan sekali ini saja terjadi. Sebelumnya, masih banyak kasus malpraktek lain yang juga berakhir di meja hijau. Namun, mengikuti berita-berita tadi membuat saya, sebagai orang awam, agak miris.

Kenapa?

Karena proses “penangkapan” para dokter ini hampir sama dengan kasus penangkapan para teroris. Bahkan, para koruptor yang sudah terbukti bersalah pun masih disikapi lebih lunak daripada para dokter ini!

Lalu bagaimana dengan nasib ketiga dokter ini? apakah mereka benar-benar bersalah? ataukah akan bebas? Saya pun belum tahu.

***

Gerakan sudah digagas, kegiatan sudah direncanakan, dan keputusan sudah diambil. Besok akan ada aksi solidaritas dari para dokter, dengan tidak melakukan praktik kerja dalam rangka tafakur nasional.
Jadi, sebaiknya jaga kesehatan baik-baik atau kita akan kebingungan mencari dokter sehari besok.

Bukan. Saya bukan memojokkan atau merespon negatif aksi solidaritas ini. Jika mahasiswa, buruh, dan guru boleh demo, kenapa dokter tidak? Bukankah semua orang/golongan memiliki hak yang sama. Selama kegiatan tersebut tidak merugikan atau membawa pada kerusakan, tidak ada salahnya untuk dimaklumi kan?

53 thoughts on “Ada Apa dengan 27 November 2013 di Indonesia?

  1. Damn so rude!

    Kalian pikir buruh pabrik? Saya jelas mencela, profesi kemanusian dalam bidang kesehatan (dokter, perawat, bidan, dll) utamakan kepentingan umum, kepentingan masyarakat. Mau ke arah mana IDI ini!?

  2. alamaak…gak tau mesti komen apa..jaga kesehatan sih jaga yah, tp kayak accident gitu kan ga ada yg planning, gimana tuh kl mendadak harus byk pasien yg masuk ER atau mendadak ada bencana alam di Indonesia yg bakalan byk korban butuh bantuan medis?

    1. Kalau yang ER tetep ada dokter jaganya mbak. Tapi yg bagian poliklinik kayaknya enggak ada😦
      Sama praktek2 dokter, besok pada tutup
      *langsung nelen vitamin*

  3. What a shame.. mereka seperti anak kecil yang kalau keinginannya tidak dituruti akan melakukan mogok makan😦

    siapa target mereka melakukan aksi ini? aku rasa para birokrat hukum itu tidak akan terkena dampak langsung, tapi masyarakat yang akan terkena dampak secara langsung.

    jika memang para dokter tersebut tidak melakukan malpraktik, harusnya IDI bisa memberikan pelayanan hukum kepada mereka. jika memang peraturan hukum di Indonesia belum sesuai dengan kode etik kedokteran, bukankah tugas IDI untuk dapat melakukan negosiasi atau lobi yang diperlukan.

    Melakukan tafakur nasional? itu bukan jawabannya…

    1. Menurut Husni (@Justhityou), sebelumnya pihak IDI sudah melakukan berbagai upaya pendekatan hukum untuk kasus ini. Namun ternyata, tidak membuahkan hasil. Dan lagi, kasus ini akhirnya menjadi “kasus bersama” karena ada kemungkinan2 dokter lain mengalami hal yang serupa.
      Ketika membaca live twit Husni, aku bisa memakluminya mbak, karena dokter pun manusia biasa, sama dengan yg lainnya.
      Tapi …..
      Ketika membaca status temanku (yg lain yg juga dokter), aku sediiiiiihhhhh. Seolah2 di statusnya dia semacam memberi “hukuman” di kalimat keduanya😦 Maksudnya bawa2 hakim, pengacara, polisi, dan LSM ini apa?
      ini status si teman :
      ==> Besok izinkan kami, sehari saja menjadi manusia biasa, kami istirahat sejenak dari menjadi dokter, agar hati kami tenang, keluarga kami tidak kecewa melihat usaha kami menolong sesama dibalas dgn cacian, hujatan dan penjara. Besok biar pak hakim yg menulis resep, biar pak jaksa yg memeriksa, pak pengacara yg mengoperasi, pak polisi yg meredam amarah pasien dan keluarga, pak LSM yg menjelaskan kepada keluarga kalau pertolongan yang diberikannya gagal. Semoga anda semua mampu menjalani apa yg kami lakukan selama ini.

  4. Faktor kecelakaan, kematian, dari pasien. Bisa jadi bukan karena masalah atau faktor yang ditimbulkan oleh kemampuan dokternya. Banyak faktor yang berpengaruh. Harusnya, mungkin, kita yang awam juga, tidak langsung menyalahkan.

    Dari sisi dokter juga, kurang lebih sama. Edukasi dan sosialiasi satu sama lainnya harus cukup sering digalakan. Jangan sampai terus ada masalah yang sama. Ini kesalah-pahaman yang terus berlanjut.

    1. Betuuullll!!! Dokter juga manusia biasa, bukan Tuhan yang maha menyembuhkan segala penyakit.
      Kalau ditelisik, kasus dokter tidak berhasil menyembuhkan pasien itu ada banyak, kegagalan2 juga ada beberapa, tapi yang kena kasus malpraktek hanya segelintir saja.

      Sepertinya, selama komunikasi antara dokter dengan keluarga pasien bagus, tuduhan malpraktek sangat kecil untuk dilayangkan. Ketika keluarga pasien dilibatkan dalam pengambilan keputusan2 sulit agar tidak terjadi kesalahpahaman, mereka akan lebih “mudah” menerima resikonya.
      Tapi jika komunikasi buruk, dan tiba2 terjadi hal yg tidak diinginkan, sebagai orang awam, keluarga pasien bisa saja berteriak soal malpraktek

      Menurutku sih begitu mas😦

      1. Komunikasi pasien dan doktor di Indonesia memang belum begitu baik. Seringkali juga lebih banyak perbedaan pendapatnya.

        Tindakan medis yang harus diambil untuk penyakit-penyakit tertentu terkadang mungkin cukup sulit diterima. Tapi, ya, keawaman kita ini sering menyebabkan tindakan yang seharusnya diambil itu malah terhambat.

        Dari perjalanan pembelajaran sarjana kedokteran sampai akhirnya praktik sendiri nantinya juga cukup lama prosesnya. Kalau dokter kita anggap salah mengambil keputusan, rasanya kita juga jadi terlalu mengeneralisir masalah yang besar dengan penjelasan yang terlalu sederhana.

        Masih banyak pekerjaan rumah kita untuk praktik medis di Indonesia.

      2. untuk menjadi dokter tentunya bukan perjalanan yang singkat dan mudah. Ada banyak yang perlu dipersiapkan, salah satunya bagaimana berkomunikasi dengan pasien.

        Dan sebagai orang awam, kita tentu mengandalkan dokter yang lebih paham soal suatu penyakit. Dan tugas dokterlah menyampaikan temuannya pada pasien.

        Jadi inget film Patch Adams dan bagaimana dia bersikap pada pasien2nya

      3. Saya ingat satu ungkapan di Grey’s Anatomy.

        “Jangan pernah menjanjikan apa pun kepada pasien. Karena segala sesuatu bisa terjadi selama proses medis.”

      4. Iya, sama seperti yg diungkap Dokter Husni kemarin. Dokter tidak bisa menjanjikan kesembuhan. Yang bisa dilakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk membantu pasien supaya bisa sembuh.

  5. kalo saya melihatnya lucu saja sih,… sebenarnya ini perkasus kok. kebetulan dokternya yang ketimpa kasus pun termasuk dokter senior. gimana kalo yang ketimpa kasus itu dokter junior yang males bersosmed, akankah mendapatkan aksi solidaritas yang sama? dan mungkinkah semua dokter se-Indonesia selain yang diperkecualikan ikut mogok semua? Gak mungkin jugalah. Jadi saya menyikapi biasa saja. gak ada dokter masih ada perawat, tabib, tukang pijat, dll… pesannya jangan lupa ya Dok, bawa alat operasi atau P3K kali aja ada yang pingsan gara-gara pasiennya lari keluar negeri :p

    1. Ga ada dokter, praktek bekam pun jadi ya cak?😆 Bukankah menurut rasul, berbekam itu pengobatan yang utama. Selainnya, pengobatan sampingan *Eh, iya gak sih?*

      Aku sih berharapnya, hari ini dapat terlalui dengan baik, dan tidak ada orang sakit yang terbengkalai😦

  6. Well, istri saya jadi korban cancelled appointment yang dikarenakan aksi tafakur nasional ini tanpa terinformasi, jauh-jauh menembus macetnya Jakarta tapi ternyata dicancel. Nasib bukan penggila twitter dan medsos emang gini sih ya. But I think, its worth to do. Gak tau jugak sih ya. Mbuhlah bingung.. Hihihi

    1. Kemarin istrinya janjian langsung dengan dokter? Atau via rumah sakit?😦
      Kalau gak buka timeline Twitter, juga gak bakalan tahu ada aksi ini Dan.
      Harapanku, semoga seharian ini bisa terlalui dengan baik

    1. Sama Non sebenarnya. Kalau meliha aksi “tafakur” yang meninggalkan kewajibannya, kok rasanya itu terlalu berlebihan. Tapi ketika membaca penjelasan Husni @justhityou, jg maklum apa yang dijadikan pertimbangan.
      Tapi …..
      Sebel juga ketika ada dokter yang bersikap sinis, dan memposting tulisa yg bernada seolah2 apa yang mereka lakukan hari ini adalah “teguran/hukuman” untuk masyarakat dan juga negara, biar kita merasakan tanpadokter kita bisa apa. Ada loh yg begini. Ada juga yg bijak

      1. aku sih belon baca jelas kasusnya ya tapi kalo jadi rame2 gini. cuman mereka egois juga kan ya, dimana itu semua dokter waktu beneran ada kasus mall praktek, harga obat yang mahal banget, pelayanan yang seadanya sampe bikin diagonasa yang gak bener2 juga hehe. Kita di Indo kalo pergi ke dokter kan gak cukup satu orang, sampe beberapa orang gitu supaya bisa beneran pasti🙂.

        semoga dokter2 yang beneran baik, gak mata duitan, pinter dan bijak semangkin banyak deh di indonesia

      2. Setahun lalu, ada tanteku yg jadi korban salah diagnosa. Sedih😦
        Ketika di rumah sakit sini, si tante didiagnosa kena TBC. Tapi pas diopname sampai seminggu, kondisi makin parah.
        Akhirnya keluarga sepakat memindahkan tante ke RS di Surabaya. Cuma butuh satu hari untuk tahu sakit tante sebenarnya apa.
        Dan ternyata, tanteku kena Kankres Pankreas stadium akhir, dan saat itu sudah terlambat untuk diobati. Ga sampai 4 hari di Surabaya, tante meninggal. Padahal usianya masih 31 tahun.
        Sebagai orang awam, tentu kami sangat percaya pada dokter.
        Tapi …………………..😦

  7. nah ini dia … lagi hot banget emang yah, mau komen apa yah, takut salah. Yang jelas lebih baik jaga kesehatan deh … Bagaimanapun kita gak bisa percaya sepenuhnya kan ama dokter, toh takdir ada di tangan Allah SWT …

  8. Walaupun mogok kenyataannya masih banyak kok dokter yang pada akhirnya tetep aja ngelayanin pasien. Dokter nggak setega itu ama pasien; tapi masih banyak aja yang kata-katanya buruk kepada dokter. MasyaAllaah.

    Dokter dihujat apakah lantas mereka harus diam saja diperlakukan seperti itu? Tidak, kan🙂

    1. iya Fathia, tidak semua dokter “mogok” kerja kemarin, hanya sebagian besar saja yang begitu. Syukurlah masih ada sebagian kecil dokter yang tetap mengabdi. Contohnya di salah satu rumah sakit di Jakarta, semua dokternya tetap membuka pelayanan kesehatan.

      Namun, alangkah bijaknya “perjuangan” para dokter ini dilakukan tanpa mengesampingkan tugas dan tanggungjawabnya serta pasien2nya. Misalnya, melakukan “aksi demo” dengan serentak mengenakan pita hitam sbg simbol perjuangan?

    1. Wah! Sudah dibikin postingan ya😀
      Kemarin baru baca livetwit-nya Husni.
      Kalau membaca tulisan Husni, saya paham alasan para dokter ini melakukan aksi ini.
      Hanya saja, tidak semua dokter seperti Husni😦 Ada beberapa oknum dokter (yg saya temui) justru menunjukkan reaksi arogan seperti “Kalau enggak ada dokter, kalian bisa apa”. Begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s