Ekspedisi Menyapa Surga Tersembunyi di Indonesia

Indonesia kaya akan potensi pariwisata, termasuk didalamnya potensi alam dan budaya. Jika dikembangkan dengan baik, akan bisa mengangkat nama Indonesia ke dunia internasional. Namun, potensi-potensi ini belum sepenuhnya tersentuh, bahkan ada yang terbengkalai. Keterbatasan informasi, aksesibilitas yang sulit, serta kurangnya pengelolaan menjadi sederet alasan kenapa ada beberapa daerah yang potensial namun belum berkembang sektor pariwisatanya. Daerah semacam ini bak surga tersembunyi yang menanti untuk dikenali.

Adalah PT Astra Daihatsu Motor yang menyelenggarakan ekspedisi bertajuk “Terios 7 Wonders, Hidden Paradise” pada bulan Oktober lalu. Berbeda dengan hajatan setahun sebelumnya, Terios 7 Wonders, Sumatera Coffee Paradise, yang memiliki misi mengunjungi 7 daerah penghasil kopi di Pulau Sumatera, kali ini Daihatsu memilih untuk mengunjungi 7 “hidden paradise” di sepanjang Pulau Jawa hingga Pulau Komodo.

Selain perbedaan konsep acara dan destinasi, tahun ini Daihatsu juga membuka kesempatan pada para blogger untuk bergabung dalam ekspedisi Terios 7 Wonders. Bekerja sama dengan blogdetik dan viva, Daihatsu menggelar kompetisi menulis untuk menjaring para blogger. Dari kompetisi ini, muncullah 5 nama sebagai finalis : Bambang, Puput, Wira, Harris, dan Giri. Selain mereka, ada juga 2 blogger undangan, Mumun dan Lucianancy. Ingin berkenalan dengan mereka? Silahkan mampir ke sini😀

Ekspedisi Terios 7 Wonders sangat lekat dengan angka 7. Bersama 7 Daihatsu Terios, 7 Driver, 7 Blogger, 7 awak media, dan tim dari Daihatsu akan menjelajah 7 surga tersembunyi di Indonesia. Dimulai dari Sawarna di Jawa Barat, Desa Kinahrejo di Jawa Tengah, Tengger dan Baluran di Jawa Timur, Sade Rembitan di Lombok, Dompu di Nusa Tenggara Barat, hingga Pulau Komodo yang menjadi kandidat 7 keajaiban dunia tahun 2012.

Ekspedisi yang berlangsung selama 14 hari dan menempuh perjalanan lebih dari 2500km ini dimulai dari di Bellanova Sentul dan berakhir di Pulau Komodo 14 Oktober lalu. Ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise ini merupakan langkah besar untuk memperkenalkan potensi-potensi yang ada di Indonesia, tidak hanya potensi alamnya, tetapi juga kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Mari mengenal lebih dekat surga-surga tersembunyi yang ada di Indonesia.

Opening
Pelepasan Terios
(Foto oleh : Wira – http://www.wiranurmansyah.com/)

 

____________________________________________________________

TENTANG 7 HIDDEN PARADISE

____________________________________________________________

Sawarna

Sawarna menjadi tujuan pertama ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Wilayah yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten ini memiliki potensi serta pesona alam yang sangat menarik. Lokasinya yang relatif mudah dijangkau dari Jakarta membuat keberadaan daerah ini mulai dikenal warga Jakarta dan sekitarnya.

Pintu Masuk Desa Sawarna
Pintu Masuk Desa Sawarna
(Foto oleh : Bembi – http://simplyindonesia.wordpress.com/)

Sawarna sendiri merupakan sebuah desa wisata yang identik dengan pesona pantainya yang menawan, diantaranya Pantai Ciantir dan Pantai Tanjung Layar. Desa ini menjadi pintu gerbang sebelum mencapai kawasan pantai. Menawarkan konsep “Kawasan Wisata Ramah Lingkungan”,  seharusnya kendaraan bermotor tidak diperkenankan memasuki kawasan desa. Hal ini diperkuat dengan adanya jembatan selebar 1,5 meter yang memang pas untuk para pejalan kaki. Namun ternyata, banyak motor yang berlalu lalang dari dan ke desa Sawarna melalui jembatan gantung di pintu masuk desa.

Jembatan Gantung Desa Sawarna
Jembatan Gantung Desa Sawarna
(Foto oleh : Bembi – simplyindonesia.wordpress.com)

Pantai Ciantir merupakan salah satu destinasi utama di Sawarna. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencapai Pantai Ciantir dari Desa Sawarna. Seperti tipikal pantai selatan pada umumnya, Pantai Ciantir memiliki ombak yang kuat. Potensi inilah yang membuat para surfer – baik surfer lokal maupun surfer asing-  tertarik untuk mengunjunginya. Jika tidak hendak berselancar, menghabiskan waktu sambil menikmati pemandangan dari tepi pantai ataupun saung bisa menjadi pilihan.

Surfer lokal sedang beraksi di Sawarna
Surfer Lokal
(Foto oleh : Puput – http://backpackology.me/)

Selain Pantai Ciantir, Sawarna juga memiliki Pantai Tanjung Layar. Nama Tanjung Layar berasal dari bentuknya yang berupa tanjung (daratan yang menjorok ke laut) dengan dua karang yang membentuk layar. Di masa Hindia Belanda, tanjung ini dikenal sebagai Java’s Eerste Punt atau ujung pertama Pulau Jawa bagi yang berlayar dari arah barat. Pantai ini terletak cukup jauh dari pintu masuk Desa Sawarna, sekitar 1,9 Km.  Berbeda dengan Pantai Ciantir yang sepanjang pantainya didominasi pasir putih, pantai Tanjung ini didominasi oleh gugusan karang baik besar maupun kecil. Pantai Tanjung Layar ini menjadi salah satu lokasi yang wajib dikunjungi di Sawarna. Pemandangan lautan yang berpadu dengan gugusan karang yang terserak inilah yang menjadikan Pantai Tanjung Layar menjadi obyek fotografi favorit bagi pengunjung di sana.

Sunset Pantai Tanjung Layar
Sunset Pantai Tanjung Layar
(Foto oleh : Bembi – http://simplyindonesia.wordpress.com/)

Selain Desa Sawarna, Pantai Ciantir, dan Pantai Tanjung Layar, sebenarnya kawasan Sawarna masih memiliki obyek wisata lain seperti : Pantai Lagoon Pari, Goa Lalay, Pantai Karang Bokor, Pulau Manuk, dan Goa Cangir. Banyaknya potensi wisata serta berbagai daya tarik alamnya membuat Sawarna layak menyandang predikat sebagai hidden paradise of Indonesia. 

Mejeng di pantai, photo by @DaihatsuInd
(Foto oleh : @DaihatsuInd)

***

Desa Kinahrejo. Merapi

Desa Kinahrejo yang terletak di Lereng Merapi ini menjadi tujuan kedua ekspedisi Terios 7 Wonders. Lokasinya yang dekat dengan puncak Gunung Merapi menjadikannya sering dipilih sebagai base camp oleh para pendaki. Di desa ini pula (alm) Mbah Maridjan – juru kunci Gunung Merapi  – tinggal.

Dulu, kawasan ini merupakan pedesaan yang asri dengan ekosistem alamnya yang masih terjaga. Namun, letusan Gunung Merapi beberapa tahun silam telah mengubah seluruh wajah desa ini menjadi luluh lantak terkena timbunan lahar dan serangan Wedhus Gembel. Desa Kinahrejo tidak lagi bisa ditempati oleh penduduknya karena kondisinya memang sudah tidak memungkinkan.

Rumah Mbah Maridjan, juru kunci Merapi, yang hancur diterjang awan panas kini menjadi obyek wisata wajib di Desa Kinahrejo
Rumah Mbah Maridjan
(Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

Selain Desa Kinahrejo. para sahabat petualang Terios 7 Wonders juga berkunjung ke Museum Sisa Hartaku yang terdapat di Dusun Petung, Desa Kepuharjo. Museum ini dulunya adalah sebuah rumah milik keluarga Riyanto. Berbeda dengan museum pada umumnya, Museum Sisa Hartaku dibiarkan tampil apa adanya dengan debu dan barang-barang yang diletakkan begitu saja untuk menghadirkan suasana pasca letusan.

Museum sisa hartaku
(Foto oleh: Bembi – http://simplyindonesia.wordpress.com/)

Upaya menggiatkan kembali kawasan Lereng Merapi tidak hanya terbatas pada pengelolaan kawasan Desa Kinahrejo dan sekitarnya, tetapi juga menghidupkan kembali kesenian rakyat yang hampir punah akibat letusan Merapi. Kesenian yang dimaksud adalah Tari Jathilan. Pelibatan para seniman Jathilan pada acara CSR Daihatsu di Lereng Merapi merupakan salah satu upaya untuk membuat seni tari ini tetap lestari.

Tari Jathilan di kaki merapi
Tari Jathilan
(Foto oleh: Wira – http://www.wiranurmansyah.com/)

Merapi memang tidak seperti dulu lagi. Beberapa desa yang menjadi saksi bisu keganasan Merapi kini berubah menjadi desa mati. Namun, kawasan yang sempat mati suri pasca erupsi mulai bangkit kembali. Lereng Merapi menampilkan sesuatu yang baru. Timbunan material letusan Gunung Merapi yang tertimbun lahar menjadikan jalur di sepanjang lereng Merapi menjadi jalur offroad yang menantang untuk ditaklukkan. Dan Lereng Merapi kini menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup diminati.

Bekas Desa yang terkena letusan
Jalur Off Road di Lereng Merapi
(Foto oleh: Wira – http://www.wiranurmansyah.com/

***

Ranu Pane, Tengger

Awalnya saya mengira Gunung Bromo adalah destinasi ketiga ekspedisi Terios 7  Wonders ini, tapi ternyata dugaan saya salah. Alih-alih diajak mengunjungi Gunung Bromo, para petualang Terios 7 wonders ini justru merapat ke kawasan Ranu Pane yang merupakan base camp dan titik awal pendakian Gunung Semeru.

Kawasan Tengger bukan hanya di Gunung Bromo, karenanya ekspedisi kali ini memilih Ranu Pane supaya bisa mengenal sisi lain Tengger dan kehidupan masyarakatnya dari dekat.  Sembari beristirahat dan menikmati makan malam di pawon (dapur) rumah Mak Yem, para petualang ditemani Mas Lutfi – seorang pengajar asal Tumpang – terlibat dalam diskusi hangat tentang kehidupan masyarakat Tengger.

Makan Malam di Rumah Mak Yem
Pawon Mak Yem
(Foto oleh : Bembi – simplyindonesia.wordpress.com/)

Sudah menjadi budaya masyarakat Tengger, ruang tamu menyatu dengan pawon. Ruangan pawon merupakan ruangan terbesar dalam rumah Suku Tengger. Didalamnya terdapat tungku kayu bakar serta meja dan kursi untuk menyambut tamu. Masyarakat Tengger terbiasa berkumpul, bercengkerama, dan berdiskusi sembari menikmati kudapan khas Suku Tenger yang dimasak di pawon. Hal inilah yang sering terlewat oleh kita ketika mengunjungi kawasan Tengger.

Malam itu, rombongan menginap di tenda-tenda yang sudah didirikan. Menginap di tepian danau dan berkumpul bersama di sekitar api unggun, memberikan pengalaman yang berbeda pada para petualang. Langit yang tampak cerah dan bertabur bintang tidak dilewatkan begitu saja. Beberapa dari mereka mengerahkan kemampuannya untuk memotret langit dan suasana malam Ranu Pane.

WN282920
Malam di Ranu Pane
(Foto oleh : Wira – http://www.wiranurmansyah.com/)

Suasana pagi di Ranu Pane benar-benar memanjakan mata. Momen-momen menjelang sunrise digunakan untuk menghasilkan gambar yang terbaik. Panorama alam yang membius mampu membuat mereka mengalihkan perhatian dari hawa dingin yang masih saja menggigit, walaupun matahari mulai terbit.

Dingin menusuk di ranupane
Pagi di Ranu Pane
Foto oleh: Wira – http://www.wiranurmansyah.com/)

***

Baluran, Africa Van Java

Taman Nasional Baluran yang juga dikenal sebagai Africa van Java menjadi destinasi keempat ekspedisi Terios 7 Wonders. Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Sebutan Africa van Java disematkan pada taman nasional ini karena memiliki savana yang luas serta berbagai macam satwa yang bebas berkeliaran di sana, membuatnya terlihat seperti miniatur Afrika. Baluran juga memiliki aneka jenis hutan mulai dari hutan tropis (tropical forest), hutan evergreen, hutan musim (moonson forest) sampai hutan bakau. Disamping itu, adanya laut serta Gunung Baluran juga menjadi nilai tambah kawasan ini. Pantaslah jika Taman Nasional Baluran dimasukkan dalam salah satu hidden paradise tujuan ekspedisi Terios 7 Wonders.

Pemandangan spektakuler dari gardu pandang pesanggrahan Bekol TN Baluran
Baluran dari Gardu Pandang
(Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

Sebenarnya, Taman Nasional Baluran ini memiliki beberapa savana, diantaranya Karangtekok, Balanan, Semiang, Kramat, Talpat, dan Bekol. Diantara savana-savana tersebut, Savana Bekol lah yang paling terkenal dan luasnya mencapai 420 hektar. Untuk jenis satwanya, taman nasional ini didominasi oleh Rusa. Selain itu, Baluran juga memiliki aneka mamalia, unggas, reptil, ordo Lepidoptera, capung, dan juga ikan karang.

Seekor rusa liar menerawang jauh di savana TN Baluran
Rusa di Baluran
(Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

Safari malam Baluran menjadi kegiatan yang sebaiknya tidak dilewatkan ketika bertandang ke sini. Selain bisa melihat kehidupan satwa malam dari dekat, kita pun bisa menikmati suasana malam savana dengan langitnya yang tidak berpolusi. Dalam artikel Safari Malam Taman Nasional Baluran, Bembi membeberkan fakta-fakta unik seputar Baluran, yaitu Rusa-rusa yang ada di Savana Bekol sering bergerak mendekati wisma setiap tanggal 15 kalender Jawa.  

Saat ini Baluran sedang mengalami permasalahan yang cukup serius terkait pertumbuhan Akasia yang semakin tidak terkendali. Jika masalah ini tidak segera teratasi, bukan tidak mungkin akan mengganggu kelangsungan ekosistem savana dan aneka satwa didalamnya. Akasia yang dulunya didatangkan untuk menyelamatkan Baluran dari bahaya kebakaran, belakangan justru menjadi predator yang cukup ganas. Karenanya, pengelola taman nasional sedang giat melakukan pembasmian tumbuhan Akasia. Memberantas Akasia ini bukanlah hal yang mudah, karenanya upaya yang mungkin dilakukan adalah mencegah jumlahnya bertambah agar tidak mendominasi isi savana. Semoga permasalahan ini segera teratasi dan kelestarian Taman Nasional Baluran tetap terjaga.

Beraksi di Savana Bekol.
Taman Nasional Baluran
(Foto oleh: Uci – http://lucianancy.com/

 ***

Sade Rembitan, Lombok

Desa Sade Rembitan yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah menjadi destinasi kelima ekspedisi Terios 7 Wonders. Berbeda dengan sebelumnya, di desa ini para petualang diajak untuk berwisata budaya, mengenali tradisi Suku Sasak yang masih terjaga dengan baik hingga sekarang dan dapat dilihat dari keseharian masyarakatnya.

Tim Terios 7 Wonders siap menjelajahi Desa Sade Rambitan, kampung Suku Sasak
Desa Sade Rembitan
(Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

Kunjungan para petualang Terios 7 Wonders mengungkap lebih banyak fakta-fakta unik serta daya tarik Desa Sade Rembitan.  Tidak heran jika namanya masuk dalam salah satu itinerary ekspedisi ini.

Apa saja fakta uniknya?

  • Jumlah rumah di desa ini selalu tetap
  • Untuk pernikahan, umumnya mempelai pria dan wanita masih memiliki hubungan saudara dan satu suku. Jika ingin menikah dengan orang dari luar desa, mahar yang dibayar lebih mahal.
  • Adanya tradisi kawin lari. Jadi, si pria bisa menculik si wanita untuk dinikahi. Jika penculikan ini berhasil, maka keluarga si wanita harus menikahkan anaknya dengan si penculik.
  • Untuk wanitanya, sebelum menikah mereka harus bisa menenun .
  • Mereka biasa mengepel lantainya menggunakan kotoran kerbau
Mumun mencoba mengepel lantai dengan kotoran kerbau
Mengepel Lantai dengan Kotoran Kerbau
Foto oleh: Bembi – http://simplyindonesia.wordpress.com/)

Jika orang Jawa terkenal dengan rumah tradisional berbentuk Joglo, di Sade Rembitan Suku Sasak memiliki rumah tradisional yang biasa disebut Bale. Bentuknya khas dengan atap ijuk dan berdinding anyaman bambu. Lantai rumahnya berupa tanah yang dikeraskan.

Suasana Desa Sade Rambitan dengan bentuk dan susunan rumah yang khas dan terus bertahan di tengah perkembangan zaman
Rumah Penduduk di Sade Rembitan
Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

Dalam postingan berjudul Belajar dari Kearifan Suku Sasak di Desa Sade Rembitan, Puput bercerita tentang filosofi hidup yang dipegang teguh oleh Suku Sasak. “Bentuk pintu rumah yang sangat rendah sehingga tamu harus menunduk untuk memasukinya menandakan sikap saling menghormati antara tamu dan tuan rumah. Adanya lumbung padi juga menandakan mereka biasa hidup berhemat, karena simpanan di dalamnya hanya bisa diambil pada saat-saat tertentu seperti ketika gagal panen atau ada kematian. Hanya wanita yang diperbolehkan naik ke lumbung padi, ini juga menandakan penghargaaan yang tinggi pada kaum wanita yang dipercaya bisa menjaga harta keluarga“.

Selain mengunjungi Desa Sade Rembitan, ekspredisi Terios 7 Wonders juga mengunjungi 2 pantai di Lombok. Ternyata, tidak hanya Pulau Komodo yang memiliki pantai berpasir pink, tetapi Pulau Lombok juga. Walaupun diluar itinerary, Pantai Tangsi (Pink Beach) tetap disambangi oleh tim ekspedisi Terios 7 Wonders karena keelokan pantainya. Selain itu, tim juga mengunjungi Pantai Selong Belanak di Kabupaten Lombok Tengah.

lombok
Pink Beach
(Foto oleh: Mumun – http://indohoy.com/)
Dua lady blogger kali ini memilih menjadi model, bukan fotografer
Sore di Pantai Selong Belanak
(Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

***

Desa Palama – Kampung si Kuda Liar, Sumbawa

Seharusnya tim ekspedisi Terios 7 Wonders akan mengeksplorasi kabupaten Dompu untuk melihat secara langsung tradisi memerah susu kuda liar dan proses pengambilan madu Sumbawa. Namun, karena adanya ketidakpastian jadwal keberangkatan kapal ke Labuan Bajo dan waktu yang tersisa sangat terbatas, akhirnya Desa Palama pun menjadi pilihan.

Desa yang terletak di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima ini merupakan salah satu sentra peternakan kuda liar di Sumbawa. Teka-teki tentang apa itu kuda liar terjawab sudah ketika saya membaca postingan Puput di sini. Kuda liar yang dimaksud adalah kuda peliharaan yang dilepas ke alam bebas dan setiap sore mereka akan kembali ke rumah sang pemilik. Tidak heran jika di Sumbawa kita bisa menemui kuda-kuda yang dilepas bebas merumput tanpa dikekang oleh tali dan ditunggui pemiliknya.

Epic sunset!
Kuda Sumbawa
(Foto oleh: Wira – http://www.wiranurmansyah.com/)

Mengunjungi desa Palama dan melihat secara langsung proses pemerahan susu kuda liarnya, menjadi atraksi tersendiri bagi tim ekspedisi Terios 7 Wonders. Ternyata, memerah susu kuda ada tata caranya. Susu baru bisa diperah kurang lebih satu bulan setelah kuda melahirkan. Daya tahan susu kuda ini juga sangat tinggi, bisa sampai 6 bulan tanpa disimpan didalam lemari es.

Kali ini seorang bapak yang memerah susu kuda, dengan sarung dan kopiah penampilannya sangat santai dan terlihat begitu akrab dengan kudanya
Memerah Susu Kuda Liar
(Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

Lalu, bagaimana dengan rasanya? Harris dan Puput berkomentar susu kuda ini seperti santan hanya saja lebih “ringan” dan tidak amis seperti susu sapi. Susu ini bisa diminum tanpa harus dimasak, cukup disaring. Untuk harganya, susu kuda liar biasa dibanderol Rp 20.000,- per botol 600ml.

Hari itu, setelah acara di Desa Palama selesai, tim ekspedisi pun melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Bima dan Labuan Bajo. Di sana, tim 24 orang yang solid sejak dari Jakarta harus berpisah. Sebagian melanjutkan perjalanan ke Pulau Komodo bersama 1 unit Daihatsu Terios, dan sebagian yang lain kembali ke Jakarta.

***

Live on Board – Taman Nasional Komodo

Mengikuti perjalanan para petualang Terios 7 Wonders membuat mata saya dimanjakan oleh pemandangan-pemandangan alam dan pantai dalam foto-foto mereka.

Labuan Bajo
Labuan Bajo
(Foto oleh: Wira – http://www.wiranurmansyah.com/)

Seperti yang dijadwalkan, para petualang Terios 7 Wonders akan menghabiskan 3 hari 2 malam untuk mengeskplor Taman Nasional Komodo dan sekitarnya. Ada dua kapal phinisi yang digunakan, yaitu Blue Dragon dan Plataran Bali. Mengikuti cerita para petualang selama menginap di atas kapal, bagaimana mereka menunggu sunset, takjub dengan kemampuan chef mengolah masakan diatas kapal walaupun sering kali diterjang ombak, serta menikmati pemadangan disekitarnya dari atas sun deck menjadi hiburan tersendiri dalam ekspedisi ini.

Kapal Phinisi Playaran
Kapal Phinisi
(Foto oleh: Harris – http://maulanaharris.blogdetik.com/)

Salah satu agenda utama dalam ekspedisi kali ini adalah menjelajahi surga tersembunyi di bawah laut. Spot yang dipilih ada di sekitar Pulau Bidadari. Perairan ini memiliki arus permukaan yang kuat dan dasar laut berupa dataran pasir dengan kontur miring. Surga bawah laut ini memiliki banyak karang dengan kondisi yang masih sangat bagus. Selain itu, terdapat pula Nudibranch dengan warna-warni yang mencolok. Ada juga Ikan Buntal (Puffer Fish) yang bisa menggembungkan diri untuk menakut-nakuti musuh, Ikan Badut (Clownfish) yang lebih dikenal dengan nama Nemo, Ikan Pari Totol Biru (Blue Spotted Sting Ray), dan Gurita (Octopus).

Ikan yang juga cukup cantik, seperti bendera yang berkibar
Pemandangan Bawah Laut Perairan Pulau Bidadari
(Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

Destinasi selanjutnya adalah Pantai Pink. Dengan menggunakan boat kecil, para petualang ini merapat ke bibir pantai. Pantai ini sangat cantik!. Bukan hanya karena pasirnya berwarna pink dan airnya jernih, tetapi pantai ini juga memiliki pemandangan bawah laut yang luar biasa. Seperti kata Harris, cukup mencelupkan kepala ke air maka akan terlihat pemandangan bawah laut yang menakjubkan.

Pemandangan dari atas bukit
Pink Beach – Komodo
(Foto oleh: Harris – http://maulanaharris.blogdetik.com/)

Ada satu hal yang membuat Pink Beach berkesan untuk saya walaupun belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Seorang teman yang terlibat dalam ekspedisi Terios 7 Wonders ini menyempatkan diri mengirimi kami oleh-oleh (foto dibawah) dengan harapan kelak kami bertiga bisa ke pantai ini juga. Mari kita aamiin-i :) 

btw, fotonya keren ya?🙂

Setelah dari Pantai Pink, tim ekspedisi Terios 7 Wonders beralih ke Pulau Rinca yang merupakan salah satu habitat Komodo di Taman Nasional Komodo. Pulau ini berukuran lebih kecil dan Komodo liar lebih mudah ditemukan. Saking mudahnya untuk ditemukan, para petualang bahkan sudah bisa melihat Komodo di kolong bangunan dapur sebelum memulai trekking.

Bukan hanya para petualang saja yang singgah di Taman Nasional Komodo, tetapi  1 unit Daihatsu Terios pun ikut merapat di pelabuhannya. Namun akhirnya Daihatsu Terios ini cukup diparkir di atas perahu karena peraturan Taman Nasional melarang kendaraan bermotor masuk ke pulau. Dan Daihatsu Terios ini menjadi mobil pertama yang merapat di Taman Nasional Komodo.

Selamat Datang di Komodo National Park
Para Petualang di Pulau Rinca
(Foto oleh: Harris – http://maulanaharris.blogdetik.com/)

Sebenarnya ada 3 jalur trekking di Pulau Rinca. Karena keterbatasan waktu, para petualang Terios 7 Wonders memilih jalur yang paling pendek. Jalur trekking ini melalui sebuah bukit yang gersang dimana dari puncaknya para petualang bisa melihat pemandangan yang menakjubkan, laut biru berpadu bukit-bukit yang menghijau dan kecoklatan. Kombinasi ini semakin cantik dengan langit yang cerah.

Pemandangan dari atas bukit Taman Nasional Komodo
Pemandangan dari Atas Bukit di Pulau Rinca
(Foto oleh: Harris – http://maulanaharris.blogdetik.com/)

Ketika jalur trekking mulai memasuki hutan, para petualang menemukan goa-goa tempat persembunyian Komodo. Selain berhasil menemukan beberapa Komodo liar, mereka juga menemukan Burung Maleo yang merupakan santapan Komodo.

Komodo liar tak jauh dari sarangnya
Komodo di Pulau Rinca
(Foto oleh: Puput – http://backpackology.me/)

Taman Nasional Komodo menjadi destinasi terakhir Ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Dengan begitu, terpenuhilah sudah misi ekspedisi Terios 7 Wonders yang sudah dilakukan selama 13 hari sejak dari Sawarna hingga Komodo.

Rombongan terios 7 wonders
Para Petualang Terios 7 Wonders di Pulau Komodo
(Foto oleh: Wira – http://www.wiranurmansyah.com/)

____________________________________________________________

TENTANG PARA PETUALANG TERIOS 7 WONDERS

____________________________________________________________

Mengikuti perjalanan para petualang Terios 7 Wonders ini sungguh seru. Bukan hanya saya, tetapi ada banyak yang lain, yang selalu menunggu update terbaru dari mereka baik via twitter maupun blog. Membaca celetukan-celetukan ringan di twitter, twitpic, serta ulasan diblog membuat saya bisa mengikuti petualangan mereka.

Menyimak cerita perjalanan dari 7 orang blogger yang terlibat dalam ekspedisi membuat saya mengenal lebih dekat surga-surga tersembunyi yang ada di Indonesia. Mereka memiliki point of view-nya masing-masing. Walaupun terlibat dalam perjalanan yang sama, mereka tetap bisa menghadirkan ceritanya masing-masing, cerita yang tidak selalu sama dan kadang juga memunculkan kejutan yang tidak ditemui di ulasan blogger yang lain. Menyenangkan!😀

Dan 7 blogger itu adalah ….

Bembi – Simply Indonesia. Saya tidak heran jika namanya termasuk dalam 5 petualang Terios. Dalam ekspedisi ini dia memperoleh julukan baru, Ki Joko Blogger. Setelah dipikir-pikir, memang mirip sih😆 Bembi memiliki ciri khas dalam setiap tulisannya. Ciri khas inilah yang sering mengantarkannya memenangkan berbagai kompetisi blog. Menurut saya, dia sangat jeli ketika merekam informasi dan menuangkannya dalam tulisan. Selain itu, dia juga mahir menyelipkan humor-humor segar di tengah-tengah tulisannya tanpa harus memotong alur cerita.  Itulah kenapa, walaupun tulisannya panjang, tetapi tidak membosankan untuk disimak dari awal sampai akhir.

Puput – Backpackology.me. Ekspedisi Terios 7 Wonders inilah yang memperkenalkan sosok Puput pada saya. Membaca postingan blog yang dia ikutkan dalam kompetisi ini membuat saya mengangguk setuju ketika dia lolos 5 besar, karena sejak awal memang sudah menjagokan tulisannya. Cara berceritanya yang santai, runut, ditambah foto-foto yang ciamik menjadi nilai tambahnya. Cerita perjalanan ekspedisi Terios 7 Wonders mengantarkan saya pada postingan-postingan backpackology.me yang lain, dan saya asyik “tersesat” didalamnya sampai tidak terasa 2 jam berlalu!😆

Wira – Wiranurmansyah. Sering mengikuti #TurnamenFotoPerjalanan, membuat nama Wira ini tidak asing untuk saya. Mengunjungi blognya pun sudah sering saya lakukan sebelumnya. Sama dengan Bembi dan Puput, saya pun betah berlama-lama mampir di blog Wira. Dia mahir sekali mengolah cerita perjalanan dengan pemilihan diksi yang baik, menjadi cerita yang bisa membuat pembaca larut didalamnya. Foto-fotonya pun subhanallah!. Saya sampai penasaran dengan peralatan “tempur” andalan Wira untuk menghasilkan foto-foto itu.

Harris – Maulanaharris. Saya mulai mengenal namanya saat dia masuk dalam 10 besar peserta #EnjoyJakarta. Diantara yang lain, Harris termasuk yang paling rajin melakukan live tweet. Membaca twit dan tulisan-tulisannya membuat saya bisa mengikuti eskpedisi secara keseluruhan. Dia menulis dengan timeline yang jelas. Walaupun waktu yang tersedia terbatas, Harris mampu merampungkan seluruh tulisan tentang ekspedisi Terios 7 Wonders dan menambahkan dengan epilog yang cukup manis.

Giri – Giri Satrio. Diantara peserta yang lain, sepertinya Giri lah yang paling “tenang”. Namanya tidak pernah muncul di timeline twitter dan postingannya pun baru muncul ketika perjalanan ekspedisi Terios 7 Wonders ini rampung. Namun, namanya justru cukup sering disebut oleh blogger-blogger yang lain karena kelucuannya. Berbeda dengan yang lain, Giri menuliskan cerita perjalanannya dalam bentuk timeline dari waktu ke waktu. Ini mempermudah pembacanya untuk mengikuti jadwal perjalanan ekspedisi Terios 7 Wonders.

Uci – Lucianancy. Dia salah satu blogger wanita yang menjadi peserta undangan di ekspedisi Terios 7 Wonders. Uci, begitu sapaan akrabnya, sering meng-update cerita perjalanannya via instagram. Perjalanan panjang selama 14 hari bukanlah hal yang mudah, karena dalam perjalanan ini tenaga dan fisik pasti terkuras, Tapi ternyata Uci memang seorang pejalan yang cukup tangguh dan ceria. Kehadirannya dalam ekspedisi Terios 7 Wonders memberi “hiburan” tersendiri pada para peserta lain yang mayoritas laki-laki.

Mumun – indohoy. Mumun adalah salah satu blogger favorit saya di ekspedisi Terios 7 Wonders. Pada ekspedisi inilah saya berkenalan dengan tulisan Mumun, dan langsung suka ketika pertama kali membacanya. Walaupun ditulis dalam Bahasa Inggris, tetapi saya tetap bisa menikmati seluruh ceritanya. Seringkali saya takjub dengan point of view yang dipilih Mumun saat menulis. Satu lagi yang saya suka dari tulisan Mumun, yaitu celetukan-celetukan yang apa adanya menjadi hiburan tersendiri saat membaca tulisannya.

Wira - Bambang - Mumun - Uci - Harris -Puput - Wira
7 Blogger Terios 7 Wonders
(Foto oleh: Harris – http://maulanaharris.blogdetik.com/)

Selain para blogger, masih ada petualang-petualang lain dalam ekspedisi Terios 7 Wonders😀 Semua yang terlibat dalam ekspedisi ini adalah mereka yang memang ahli dibidangnya, termasuk para driver dan media yang meliput. Dalam postingan yang berjudul On the Road Interview with Bang Ucok, Wira mengenalkan salah satu driver di ekspedisi Terios 7 Wonders. Beliau bukan driver biasa, Bang Ucok bekerja disebuah media ternama. Namun, kemampuan mengemudi yang diatas rata-rata serta hobi jalanlah yang membuat bang Ucok dilamar untuk terlibat dalam ekspedisi ini. Selain Bang Ucok, masih ada 6 driver lain serta beberapa awak media lain yang tentunya juga memegang peranan penting dalam ekspedisi Terios 7 Wonders.

Saatnya berpisah dengan para driver
Blogger dan Driver
(Foto oleh: Harris – http://maulanaharris.blogdetik.com/)

 

***

Referensi :

http://simplyindonesia.wordpress.com

http://backpackology.me/

http://www.wiranurmansyah.com/

http://maulanaharris.blogdetik.com/

http://lucianancy.com/

http://indohoy.com/

http://girisatrio.wordpress.com/

http://daihatsu.co.id/

 

 

 

15 thoughts on “Ekspedisi Menyapa Surga Tersembunyi di Indonesia

    1. Waaaahh mas Indrobrad mampir kesini🙂 *tersanjung*

      Kalau di Tuban, yg khas wisata ziarahnya mas. Ada makam Sunan Bonang, Ibrahim Asmorokondi, dan 2 makam lain.
      Selain itu ada pelabuhan jaman Majapahit dulu + makam Ronggolawe.
      Kalau lewat Tuban, monggo mampir😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s