Terjebak di Penginapan 3 Jaman

“Eh rek, masih inget gak sama penginapan kita pas di Magelang?” tanya saya mengawali pembicaraan dengan beberapa teman ex-Tim SPW Magelang. Pertanyaan saya itu pun mendapat respon dari beberapa teman ex- Tim SPW Magelang. Ternyata semua masih ingat kenangan kami dengan penginapan ini.

“Di cek dulu mbah… jangan-jangan hotelnya dah jadi hotel bintang 3” sahut Nerdi via Line

“Iya, aku tanya ke temen-temenku yang anak Magelang kok ndak ada yg tahu ya Ner? Jangan-jangan malah sudah gulung tikar” jawab saya 1 menit setelahnya.

***

Saat itu, semester terakhir kami bertemu dengan mata kuliah studio. Kebetulan, kami berdelapan mendapat bagian wilayah Magelang untuk survey Studio Perencanaan Wilayah. Berbagai persiapan dilakukan mulai dari survey awal, pengumpulan dana, menyewa bus, sampai menyiapkan surat pengantar serta dokumen kerja. Sebagai mahasiswa berkantong cekak, alokasi dana menjadi pertimbangan utama kami saat itu. Karenanya Apin dan Nerdi memilihkan budget hotel sebagai tempat menginap selama disana.

Waktu sudah menjelang sore ketika kami berdelapan sampai di pintu gerbang hotel. Sempat berhenti cukup lama di luar pagar untuk memastikan benar hotel ini yang akan menjadi tempat menginap kami selama 7 hari mendatang. Hotel yang berada di belakang kawasan Taman Kyai Langgeng ini tampak biasa saja jika dilihat dari luar. Hanya pagar tembok yang rapat menutup bagian depan hotel berpadu dengan pintu besi geser. Sekilas, hotel kami ini lebih terlihat seperti garasi bengkel daripada penginapan, karena begitu masuk sudah ada mobil dan motor yang diparkir sekenanya.

Nerdi sebagai ketua rombongan pun bertanya pada salah seorang yang dijumpai disana, lalu mengurus administrasi supaya kami bisa segera mendapat kamar. Sebelumnya, kami mewanti-wanti Nerdi supaya memilih kamar yang berdekatan agar koordinasi mudah. Kami memutuskan menyewa 2 kamar selama disana. 1 kamar untuk saya, Achiel, Otis, dan Ana. Sedangkan 1 kamar lainnya untuk Nerdi, Apin, Angga, dan Christmas.

Begitu mendapat kunci kamar, kami pun segera menuju ke kamar masing-masing. Kami tim putri sempat dua kali berganti kamar selama di penginapan ini. Kamar pertama kami termasuk sederhana dengan ukuran yang tidak terlalu besar, berisi dua single bed, 1 buah meja dan sepasang kursi. Pada ujung ruangan disamping pintu, terdapat sebuah kamar mandi yang tidak terlalu besar.

Cat pada tembok yang sudah kusam berpadu cahaya lampu yang temaram menambah muram suasana kamar. Kami pun membuka jendela lebar-lebar dan mengikat gorden di samping kiri kanannya, dengan tujuan agar cahaya matahari bebas menerobos masuk. Ternyata tidak banyak membantu. Kamar kami masih terasa gelap!

Untuk ukuran kamar yang baru dimasuki, kamar ini termasuk kotor. Debu masih menempel di hampir seluruh bagian kamar. Selimut dan sprei tampak kumal dan lecek, ditata seadanya diatas kasur busa. Lantainya? Semua persediaan koran kami keluarkan untuk dijadikan alas lantai, yang ternyata cepat basah gara-gara lantai yang lembab. Ah! Kami jadi bingung nanti mau sholat dimana. Kami pun ramai berkomentar sambil membereskan isi ruangan.

Langit mulai redup, pertanda waktu Ashar sudah hampir habis, saya pun memutuskan untuk mencari musholla terdekat. Berdasarkan keterangan dari pegawai hotel, mereka memiliki sebuah musholla di bagian depan hotel, dekat parkiran motor dan mobil.  Kondisi musholla ini tidak berbeda dengan kondisi kamar kami, kotor dan berdebu, tapi paling tidak musholla ini aman dari najis (semoga begitu). Setelah selesai menyapu, saya pun menunaikan sholat Ashar.

Penasaran dengan lingkungan hotel, saya mengambil jalan memutar ketika kembali ke kamar. Begitu masuk kamar, 3 orang temen saya – Ana, Galuh, dan Otis – tampak sibuk didalam kamar mandi. Ternyata sanitasinya bermasalah, debit airnya kecil, dan air menggenang. Merasa usaha sia-sia, ditambah perasaan tidak nyaman dengan kondisi kamar yang kotor dan kamar mandi yang bermasalah, kami pun memanggil pihak hotel untuk menyampaikan keluhan. Syukurlah, mereka menyarankan kami pindah kamar.

Di kamar yang baru, kali ini berhadapan dengan teman-teman putra kami. Kamar ini memiliki pencahayaan bagus, kamar mandinya cukup bersih, temboknya lebih bersih walaupun tetap saja ada bekas lipstik di beberapa bagian, dan lantainya kering.

“Rek, nanti alas tidurnya pakai selimut ya. Spreinya biarin aja” Salah satu dari kami berinisiatif menyampaikan idenya karena bergidik melihat spreinya yang masih terlihat lecek dan agak kotor.

Setelah beberes dan menata kamar serta merapikan barang-barang, kami pun berpikir keras supaya kamar ini bisa nyaman. Kami memutuskan untuk meminta 1 selimut tambahan ke pihak hotel untuk dijadikan alas lantai. Setelah selimut digelar, kamar kami tampak lebih manusiawi untuk dihuni. Disini kami bisa bersantai sambil diskusi dan juga bermain kartu. Sementara, kami merasa nyaman dengan penginapan kami.

Sampai ketika…

Di tempat parkir, kami bertemu dengan (sepertinya) sepasang kekasih yang hendak check in. Yang menarik perhatian kami sebenarnya bukanlah mereka, tetapi motor si pria yang ber plat nomor Jawa Timur. Tidak menunggu lama, kami pun segera keluar hotel, menikmati malam di kota Magelang sekaligus mencari makan malam.

Sekitar 4 jam, kami kembali ke hotel. Di parkiran motor, lagi-lagi kami bertemu dengan si pria ber plat nomor Jawa Timur. Ada hal yang membuat kami saling pandang satu sama lain. Pria ini menggandeng wanita lain, dan masuk ke kamar hotel. Akhirnya, tahulah kami dari mana asal bekas lipstik yang menempel di tembok-tembok kamar kami. Sejak itulah, kami menjuluki penginapan kami sebagai hotel 3 jaman. Bukan karena sudah berdiri selama 3 jaman (periode), tetapi karena sering digunakan menginap hanya dengan durasi 3 jam-an.

Menyadari bahwa hotel yang ditempati adalah tempat prostitusi, beberapa dari kami menjadi gelisah dan merasa tidak nyaman. Belum lagi ditambah “teror” berupa ketukan di pintu dan handle pintu yang bergerak seperti ada yang hendak membuka paksa dari luar. Kami menceritakan kegelisahan kami pada Nerdi, yang menjadi ketua tim. Lalu diputuskanlah, setelah survey Nerdy akan mencarikan tempat menginap yang baru dan kami bisa segera pindah.

***

Esok paginya, ketika berkumpul dan hendak berangkat, Apin bercerita bahwa paginya kurang menyenangkan. Dia merasa terusik dengan suara mesin kendaraan yang dipanaskan. Suara itu tentu sangat jelas karena kamar mereka bersebelahan dengan area parkir. Kegelisahan kami ditambah keluhan Apin menambah bulat tekad kami pindah dari penginapan ini.

Hari itu, kami membuat kesepakatan dan berbagi tugas. Tim dipecah menjadi dua karena tujuan survey kami saling berjauhan. Nerdi, Christmas, Achiel, dan Otis bergabung dalam tim pertama. Saya, Ana, Apin, dan Angga bergabung dalam tim kedua.

Wilayah serta jarak lokasi survey yang berbeda, membuat tim kedua kembali ke penginapan lebih awal. Saat itu belum musim ponsel pintar dan laptop, sedangkan di penginapan tidak disediakan televisi sebagai alternatif hiburan. Jadilah sepanjang siang kami habiskan dengan berdiam diri di kamar masing-masing.

Nerdi dan teman-teman sampai di penginapan cukup sore, karenanya rencana mencari alternatif penginapan baru bisa dilaksanakan malam harinya. Setelah makan malam, sebagian dari kami berburu hotel murah lainnya, dan sebagian lainnya menunggu di penginapan.

Anggota kami lengkap 8 orang sudah berkumpul di kamar ketika Nerdi mulai membuka percakapan. Menurut dia, sebaiknya kami tetap tinggal di hotel 3 jaman ini saja. Tentu saja pernyataan itu memancing reaksi tidak percaya dari kami, namun pernyataan Nerdi tersebut didukung anggukan dan tatapan mata memohon dari Achiel dan Ana.

Nerdi bercerita, di penginapan yang mereka datangi, kondisi jauh lebih parah daripada penginapan kami. Selain harganya yang tidak lebih murah, jaminan kenyamanan bagi kami para wanita juga kecil. Disana, kamar mandinya shared bathroom dan penghuni kamarnya lebih “berani”.

Achiel dan Ana sempat bertemu dengan seorang bapak paruh baya yang mengenakan lilitan handuk saat berjalan keluar kamar. Ada juga wanita yang hanya berbalut sprei ketika tidak sengaja terlihat karena pintu kamarnya dibuka. Jelas pemandangan tadi membuat Achiel dan Ana ini bergidik, ditambah tatapan mata genit dan senyum mesum dari bapak tadi, membuat 2 teman kami ini lari keluar penginapan.

Keputusan sudah diambil. Kami berdelapan tidak jadi pindah, karena bagaimana pun penginapan 3 jaman kami masih lebih nyaman dan aman dibandingkan penginapan kedua.

Malam itu, penginapan sepi seperti biasanya. Teman-teman putra kembali ke kamarnya setelah selesai briefing untuk survey esok hari. Kami pun memutuskan untuk beristirahat lebih awal.

JEGREK!!!!

Kami menajamkan telinga, mengikuti arah suara.

“Siapaaaaa?” Salah satu dari kami memastikan asal suara.

Karena tidak kunjung mendapat jawaban, kami langsung memutar kunci dan membuka pintu. Tidak ada orang disana, bahkan sepanjang lorong sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Selesai menutup dan mengunci pintu, kami pun beranjak tidur.

JEGREK!!!

Handle pintu kami berbunyi lagi. Kali ini kami lebih memilih meringkuk di kasur daripada harus membuka pintu untuk kedua kalinya. Perlahan, seperti terdengar langkah kaki menjauh dari kamar kami.

“Oh! Mungkin itu salah satu tamu hotel yang iseng”

***

Esok harinya ….

Ketep Pass sudah dirampungkan dan semua obyek wisata di Magelang sudah kami survey karena beberapa hari sebelumnya kami memampatkan jadwal. Masih ada sisa waktu 2 hari sebelum kami semua kembali ke Malang. Pengalaman seru sekaligus tidak menyenangkan selama di penginapan ini membuat kami akhirnya memutuskan check out 2 hari lebih cepat daripada rencana.

Survey selama 5 hari di Magelang tentunya sangat menyenangkan karena kami bisa survey sekaligus jalan-jalan. Banyak obyek wisata yang dikunjungi, kuliner yang dicicipi, serta berbagai pelosok yang dijelajahi. Namun pengalaman selama di penginapan tetap menjadi cerita tersendiri untuk kami, cerita yang tetap kami kenang bahkan setelah 9 tahun berlalu.

19 thoughts on “Terjebak di Penginapan 3 Jaman

  1. Jadi suara jegrek itu apa? Misterikah atau begimanakah?
    Sudah mengira kalau 3 jaman ini hotel yang bisa disewa untuk 3 jam saja. Hihihi.
    Seru tapi ya mba Di kalo ada cerita kek gini.

      1. Kayaknya tamu lain mas, mungkin yg kamar sebelah, mungkin juga yg laintai atas. Soalnya kamar kami deket tangga, jd banyak dilewatin orang
        Tapi malah yg seperti ini yg ngeri ya? ga bisa tuntas “hanya” dengan dibacain ayat kursi #EH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s