#5BukuDalamHidupku Bumi Manusia

(gambar dipinjam dari : id.wikipedia.org)

Entah sudah memasuki cetakan yang keberapa, yang jelas bukan cetakan pertama. Ini adalah karya Pramoedya Anantha Toer yang pertama saya baca. Agak terlambat mengenal beliau, semester 3 waktu itu. Saya mendengar nama dan kehebatan karyanya dari teman sekamar, Lia, yang belajar tentang hukum di UB. Konon, buku ini adalah buku yang wajib dibaca oleh mereka para pemikir serta penikmat sejarah. Ah! Saya jadi penasaran.

Saya belum ada rencana mencari Tetralogi Buru, sampai ketika tidak sengaja menemukan deretan buku ini terjajar rapi di lemari rumah simbah. Tidak butuh waktu lama untuk memutuskan mengambil salah satunya. Untuk “ukuran”-nya, 4 buku Tetralogi Buru termasuk tebal, dan saya sudah membayangkan bakalan kebosanan ketika sampai di tengah. Ternyata bayangan itu salah🙂

Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru. Buku ini berkisah tentang seorang pribumi yang hidup pada masa kolonial Belanda. Minke namanya, seorang pribumi yang bersekolah di HBS Surabaya yang merupakan sekolah keturunan bangsa-bangsa Eropa. Sebagai pribumi, dia termasuk seorang yang revolusioner. Ia berani memberontak kebudayaan Jawa yang tidak sesuai dengan pemikirannya, dan juga menolak ketidakadilan pada bangsanya.

Aku adalah manusia. Tentu yang tak sempurna. Karena kealpaan dan lupa tak bisa lepas dariku. Aku hanyalah manusia biasa. Aku bukanlah dewa dengan segala ke-Maha-annya. Sempurna adalah kata yang tidak untukku.

Namaku Minke, setidaknya itulah sapaan orang-orang ketika memanggilku. Saking terlalu seringnya nama itu digunakan, hingga aku hampir lupa nama asliku. Nama yang diberikan oleh Bunda dan Ayanda yang dengan bersusah payah akhirnya berhasil menjadi Bupati B. 

Sebagai keturunan priyayi Jawa, aku beruntung bisa mengenyam pendidikan ala Eropa. Ilmu pengetahuannya, budayanya, pergaulannya, bahasanya serta segala hal yang berbau Eropa. Aku begitu kagum akan peradaban dan budaya mereka. Hingga hampir- hampir tak lagi berdiri di atas tanah budaya sendiri. Ironis memang, tetapi itulah yang mungkin akan terjadi padaku kalau saja tak terjadi peristiwa itu

Sebagai lelaki normal, wajarlah kiranya ketika kujatuh hati pada seorang perempuan. Apalagi perempuan yang kecantikannya ibarat dewi. Cantik, lembut namun rapuh. Aku mabuk karena kecantikannya dan cintanya. Hingga membuatku tak sadar, jatuh semakin dalam. Sebuah hubungan yang tulus, tanpa menyadari hukum, peraturan, kasta, etnis, bangsa dan pandangan orang lain dan dunia. Tak kudengarkan lagi nasihat para guru dan orangtua sendiri. Aku terjerat, terikat, terpenjara.

Pribumi adalah bundaku. Bunda yang melahirkanku, memberiku dasar budaya, adat dan darah Jawa ini. Bunda yang telah memberiku kehidupan. Pribumi juga adalah Mamaku. Seorang wanita cerdas yang menjadi pintar secara otodidak. Perempuan biasa yang menjadi keras karena pengalaman hidup. Seorang Mama yang membuatku begitu mengaguminya.

Eropa adalah guruku. Aku belajar dari mereka. Aku melihat dunia dari mereka, hingga aku lebih sering berlisan dengan bahasa mereka. Tetapi seperti apapun aku tetaplah seorang pribumi. Pribumi yang hanya dijadikan alat bangsa Eropa untuk meninggikan kejayaan mereka, sementara di pihak lain kami – kaum pribumi – akan semakin direndahkan derajatnya hingga ke jauh ke dalam tanah.

Beberapa paragraf diatas adalah sedikit penggalan dari Bumi Manusia tentang sosok Minke dan pemikirannya. Kepiawaian Pram meramu sejarah dan fiksi menjadikan buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Bahkan, saya tidak bisa berhenti membacanya sebelum sampai pada halaman terakhir. Sebuah rekor saya bisa “melahap” buku setebal ini kurang dari sehari!

Bagi penikmat kata, membaca untaian kata yang terjalin apik dalam buku ini serupa menikmati karya seni. Indah.

Saya yang biasanya pusing ketika membaca buku agak “berat”, tidak mengalami hal ini ketika membaca Bumi Manusia. Membaca buku Pram, seolah memberikan pengalaman baru untuk saya yang masih newbie. Cara dia bercerita tentang sejarah membuat saya jatuh cinta pada hal-hal yang berkaitan dengan sejarah.

Dulu saya tidak tertarik belajar tentang sejarah, karena belajar sejarah itu membosankan. Pada Bumi Manusia, saya menemukan sejarah yang diceritakan dengan cara yang berbeda. Saking pawainya Pram menghidupkan tokoh-tokoh fiksi diantara balutan sejarah Indonesia, saya sampai berpikir jika tokoh-tokoh dalam buku ini benar-benar ada.

Selesai membaca Bumi Manusia, saya pun langsung melahap 3 buku lanjutannya dalam waktu singkat. REKOR!!! Pernah saya mengenalkan buku ini pada teman saya, Pepe, yang kebetulan sedang berkunjung ke Tuban. Sama seperti saya, Pepe pun terbius dengan ceritanya dan merampungkan Tetralogi ini dalam waktu singkat, bahkan lebih singkat dari waktu yang saya butuhkan.

Setelahnya, mata saya seolah terbuka. Belajar tentang sejarah ternyata menyenangkan. Menelusur kisah-kisah masa lalu dan mengenali peninggalan-peninggalannya memberikan pengalaman yang berbeda. Saya jadi malu ketika mengingat pesan Bung Karno tentang Jas Merah. Saya yang masih muda ini ternyata tidak tahu banyak tentang sejarah bangsanya sendiri.

*tutup muka pake buku*

9 thoughts on “#5BukuDalamHidupku Bumi Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s