[7wonders] Menyelami Harmonisasi Alam, Budaya, dan Kearifan Lokal di Bromo

Siapa yang belum pernah mendengar tentang Gunung Bromo dan Suku Tengger? Umumnya, sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kita sudah diperkenalkan pada keindahan alam dan suku yang berdiam disana. Secara administratif Gunung Bromo terletak di Propinsi Jawa Timur, dan berbatasan dengan 4 kabupaten yang sekaligus menjadi pintu masuk menuju kawasannya, yaitu: Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo. Setiap pintu masuk menawarkan keunikannya masing–masing. Dan, di antara yang empat, jalur Probolinggo dan Pasuruanlah yang sering dipilih para wisatawan ketika berkunjung ke Bromo. Alasannya, selain mudahnya angkutan umum, jalur ini juga memiliki akses jalan yang memadai—lebih cepat dan aman.

Wilayah berbukit dengan tebing-tebing curam inilah yang kemudian membentuk Kaldera Tengger—sebagai daya tarik utamanya. Berada di ketinggian 1000 – 2770 mdpl menjadikan kawasan Bromo dan sekitarnya memiliki suhu udara yang cukup bervariasi dari 50C –  220C, dengan suhu udara yang akan semakin menggigit ketika menjelang tengah malam. Saya dan teman – teman yang terbiasa tinggal di Malang pun merasa kedinginan sampai mengigil ketika menginap di daerah Cemoro Lawang.

Peta Gunung Bromo
Sumber :http://dispobpar-kotaprobolinggo.com/

Menapaki beberapa sudut kawasan Bromo akan mempertemukan kita pada atraksi yang berbeda. Tidak hanya alam dengan keindahan lansekapnya, tetapi juga budaya dan tradisi masyarakat Tengger yang tetap terjaga. Banyak tempat menarik yang bisa didatangi, bentang alam yang fotogenic untuk dipotret, keunikan tradisi dan adat istiadat masyarakatnya yang menanti untuk dikenali. Perpaduan ini memberikan pengalaman yang berbeda pada kita. Cukuplah hal – hal tersebut menjadi alasan untuk memasukkan Bromo kedalam daftar “Tempat yang Wajib Dikunjungi di Indonesia”.

100_0491
Lansekap Kaldera Tengger dari Puncak Gunung Bromo *

Menapaki Keindahan Lansekap Bromo

Gunung Bromo, satu-satunya gunung berapi aktif di Kaldera Tengger adalah destinasi utama kawasan ini. Memiliki ketinggian 2.392 mdpl menjadikan puncaknya mudah dicapai. Keberadaan anak tangga pada lereng gunungnya sangat membantu kami. Saya dan beberapa teman pernah mencoba menghitung jumlah tangga tersebut. Menariknya, tak satupun angka yang kami dapatkan sama. Menapaki setiap anak tangganya, membuat stok oksigen dalam paru-paru kami terasa menipis. Kaki yang lelah, tak mau kalah meminta jatah. Kami harus berhenti beberapa kali mengumpulkan energi agar bisa mendaki lagi.

DSC_0166
Kawah Bromo ***

Sementara yang lain berbondong-bondong menanti terbitnya matahari dari Bukit Penanjakan, kami justru memilih Gunung Bromo sebagai tujuan. Jalan desa yang kami lalui pada pukul 3 pagi begitu sepi. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang berdetak disana. Sampai di lautan pasir, pagi masih sangat gelap. Tak satupun kendaraan yang lalu-lalang. Sesekali, warga Tengger menawarkan kuda mereka untuk kami sewa. Namun apa daya, dana yang terbatas membuat kami harus menolak tawaran mereka.

100_0526
di kaki Gunung Bromo, terlihat Bromo masih sepi *

Gunung Bromo bersanding manis dengan lautan pasir, si lantai kaldera yang memiliki luas 5.920 hektar.  Pernah dijadikan sebagai lokasi syuting salah satu film Indonesia, lautan pasir kini juga dikenal dengan nama Pasir Berbisik. Kami datang terlalu pagi saat itu karena ingin mengejar matahari terbit di puncak Gunung Bromo. Kabut masih menutup sebagian lantai kaldera dan pasir pun masih basah sehingga kami tidak menemui pemandangan pasir–pasir yang diterbangkan angin dan mendengarnya berbisik di telinga kami.

100_0492
Lautan pasir kala pagi *

Nun jauh di sisi selatan, terdapat Lembah Jemplang yang terkenal dengan savana dan Bukit Teletubbiesnya. Hijau ilalang yang tumbuh subur di tempat ini, akan terlihat kontras bila dibandingkan dengan lautan pasir yang gersang. Vegetasi yang didominasi oleh rerumputan khas savana kawasan tropis ini akan berubah kuning seiring musim kering. Karena jaraknya yang terlampau jauh dari jalur yang kami tempuh, lembah ini terpaksa tidak masuk dalam itinerary.

Memotret Lukisan alam di Penanjakan

Kurang afdol rasanya datang ke Gunung Bromo tanpa mampir ke Bukit Penanjakan. Salah satu lokasi terbaik untuk menikmati matahari terbit yang juga dikenal dengan julukan “The Famous Sunrise.” Lokasi ini tidak hanya menarik dinikmati saat menjelang fajar tetapi juga sepanjang siang sampai matahari tenggelam. Dari sini kita bisa menyaksikan Kaldera Bromo yang sangat fotogenic. Jadi, jangan heran bila kemudian Bukit Penanjakan sering disasar para pemburu fajar dan pecinta fotografi.

Jarak tempuh dari Cemoro Lawang ke Bukit Penanjakan yang relatif jauh memaksa kami beberapa kali beristirahat untuk memulihkan tenaga. Posisi matahari yang telah meninggi, menyisakan gardu pandang yang begitu sepi ketika kami sampai di tempat ini. Walaupun tidak bisa menikmati “The Famous Sunrise”, tetapi pesona alam yang terhampar di hadapan mata kami mampu membuat berdecak kagum, melupakan sejenak pegal-pegal di kaki dan perut yang minta diisi.

15167_1284366355578_7222835_n
Wajah-wajah kepayahan saat mendaki Penanjakan *

Mengenal Suku Tengger Lebih Dekat

Traveling tidak melulu soal itinerary dan destinasi. Ia akan terasa lebih bernyawa manakala terjadi interaksi di dalamnya. Dan, penduduk lokallah yang membuat pengalaman kita menjadi kaya. Mereka membantu kita untuk tahu lebih banyak tentang daerah, keunikan, budaya, serta kehidupan yang ada disana. Disinilah esensi sebuah perjalanan tercipta.

Bromo dan Tengger adalah dua entitas berbeda yang saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan. Dengan mengenal masyarakat Tengger, secara tidak langsung, kita juga ikut mempelajari lingkungan yang menjadikan mereka ada. Menurut legenda, istilah Tengger berasal dari penggabungan dua buah nama leluhur mereka, yaitu; Roro Anteng dan Joko Seger. Dari hasil pernikahan Roro Anteng (putri Raja Majapahit) dengan Joko Seger (putra seorang Brahmana) inilah lahir keturunan-keturunan mereka, yang saat ini kta kenal sebagai Suku Tengger.

Orang–orang asli Suku Tengger memiliki struktur wajah yang cukup unik. Tulang pipi yang agak tinggi, kelopak mata cenderung sipit, dan pipi yang bersemu merah ketika bergesekan dengan udara dingin menjadi ciri umum mereka. Pada sebuah obrolan dengan teman, kami membicarakan keunikan struktur wajah Suku Tengger ini. Ternyata struktur wajah mereka ini hampir mirip dengan yang digambarkan patung Gajah Mada di pintu masuk Air Terjun Madakaripura, Probolinggo.

pizap.com13775896723061
Suku Tengger **

Kepercayaan masyarakat Tengger (Hindu-Tengger) tidaklah sama dengan agama Hindu yang ada di Bali. Mereka tidak mengenal sistem kasta dalam sendi kehidupan sosialnya. Sebagaimana Bahasa Jawa-Tengger yang tidak memiliki tingkatan seperti lazimnya Bahasa Jawa yang telah kita kenal lama.

Sama seperti daerah lainnya, suku Tengger pun memiliki pakaian adat. Pakaian ini terdiri dari beskap, celana panjang hitam, kain berwarna kuning yang diselempangkan, dan udeng kepala. Mereka baru akan mengenakannya saat perhelatan acara-acara resmi serta upacara adat. Dalam hal pemakaian udeng sebagai penutup kepala, kaum lelaki Suku Tengger memiliki cara yang berbeda dari udeng yang biasa dipakai di Madura dan Bali.

Tinggal di wilayah bersuhu dingin menjadikan mereka akrab dengan sarung dan penutup kepala dalam kesehariannya. Pemakaian sarung ini tidak hanya berfungsi untuk mengusir hawa dingin, tetapi juga memiliki maknanya masing – masing sesuai dengan cara pemakaiannya. Karenanya cara memakai sarung disana tidaklah sembarangan. Misalnya, jika ingin bertamu dan menggunakan sarung, tidak boleh asal. Karena, jika salah cara memakai, kita bukannya disambut selayaknya tamu tetapi akan dikira datang kesana untuk mengajak jalan-jalan. Jadi, sebelum “salah kostum”, lebih baik kita belajar makna dibalik cara memakai sarung masyarakat Suku Tengger.

Ada 7 cara penggunaan sarung yang biasa dipakai oleh masyarakat Suku Tengger.

  1. Kekaweng. Kain sarung dilipat dua, kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Digunakan untuk bekerja dan tidak boleh digunakan untuk bertamu atau melayat.
  2. Sesembong. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diatas perut di bawah dada agar tidak mudah terlepas. Cara bersarung ini digunakan ketika bekerja di ladang atau pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar.
  3. Sempetan. Sarungnya pakai sebagaimana umumnya, yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Cara ini digunakan ketika bertamu.
  4. Kekemul.  Disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya, kemudian digantungkan di pundak. Cara ini digunakan pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan.
  5. Sengkletan. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. Cara ini digunakan ketika sedang bepergian.
  6. Kekodong. Ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala, sehingga yang terlihat hanya mata saja. Cara ini sering digunakan saat berkumpul saat malam hari.
  7. Sampiran. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Cara ini biasa dipakai oleh kaum muda di Tengger.
100_0576
Cara Bersarung ala Teman Kami *
DSC_0388
Cara Bersarung ala Suku Tengger **
DSC_0344
Cara Bersarung ala Suku Tengger **

Masyarakat Tengger sangat kaya akan tradisi upacara adat. Salah satu yang kita kenal adalah Upacara Kasada (Yadnya Kasada), yang biasanya dilaksanakan saat bulan purnama pada tanggal 14, 15, dan 16 Bulan Kasada (bulan ke-12 menurut penanggalan Tahun Saka). Upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur pada sang pencipta atas berkah dan rejeki yang diberikan, serta bentuk penghormatan kepada leluhur mereka, Roro Anteng dan Joko Seger. Yadnya Kasada adalah hari raya kurban bagi orang Tengger, karena pada perayaan inilah masyarakat Suku Tengger mempersembahkan sesaji berupa hasil pertanian dan binatang peliharaan untuk dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.

Sebelumnya, sesaji-sesaji tersebut akan didoakan terlebih dahulu di Pura Luhur Poten yang terletak di kaki Gunung Bromo. Baru setelahnya dilarung, dengan melemparnya ke kawah Gunung Bromo. Uniknya, sesaji-sesaji ini boleh diperebutkan oleh warga, maka tak heran bila pada pagi/siang hari menjelang puncak perayaan Kasada, kita akan menjumpai banyak warga yang menggelar tikar atau jaring, di lereng kawah Bromo untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke kawah Bromo.

DSC_0291
Persiapan Menjelang Upacara Kasada **

Jika ingin menyaksikan upacara adat Suku Tengger namun berhalangan hadir saat perayaan Kasada, jangan khawatir! Masyarakat Tengger memiliki banyak upacara adat yang biasa diselenggarakan pada bulan – bulan lainnya.

  • Pujan Karo (Bulan Karo). Merupakan hari raya masyarakat tengger dimana hari tersebut masyarakat menyambutnya dengan mengenakan pakaian baru, perabotan baru, serta adanya makanan dan minuman yang berlimpah disana. Saat itulah masyarakat Suku Tengger saling bersilaturahim, dan para tamu wajib menikmati hidangan yang disajikan oleh tuan rumah.
  • Pujan Kapat (Bulan Keempat). Upacara ini dilakukan pada bulan keempat menurut penanggalan Tahun Saka. Upacara ini dilakukan pada setiap desa dan dihadiri para sesepuh dan masyarakat desa yang dimaksudkan untuk memohon berkah keselamatan.
  • Pujan Kapitu (Bulan Tujuh). Pada perayaan ini para sesepuh dan dukun melakukan tapa brata yang diawali dengan nyepi satu malam (tanpa makan dan tidur). Selanjutnya diisi dengan puasa mutih selama satu bulan. Pada bulan ini, masyarakat Tengger tidak diperbolehkan memiliki hajat.
  • Pujan Kawolu (Bulan Delapan). Pujan Kawolu ini dimaksudkan sebagai penutupan megeng. Masyarakat memberikan sesaji ke kepala desa dan perayaannya dilakukan bersama di rumah kepala desa.
  • Pujan Kasanga (Bulan Sembilan). Perayaan ini dilakukan pada bulan kesembilan setelah purnama Saka. Upacara ini dimaksudkan untuk memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan masyarakat Tengger. Pada perayaannya masyarakat bersama anak – anak berkeliling desa membawa alat kesenian dan obor.

Selain upacara tahunan, masyarakat Tengger juga memiliki upacara 5 tahunan, yang bernama “Unan-unan.” Tujuan diadakannya upacara ini, selain untuk menghormati alam semesta, juga menghindari malapetaka. Sesaji yang mereka persembahkan biasanya adalah kepala kerbau dengan udo rampe 100 tumpeng yang dibungkus Daun Tlotok, dan dilengkapi dengan beragam hasil bumi, kemudian diarak ke sanggar pamujan.

Dalam kesehariannya, Suku Tengger sangat dekat dengan alam. Mereka memiliki kesadaran untuk menjaga kehidupan yang bisa bersinergi dengan alam. Beragamnya upacara adat Suku Tengger ini menunjukkan kepatuhan pada hukum adat serta kedekatan mereka dengan alam dan sang pencipta.

Belajar Tentang Kearifan Lokal dari Suku Tengger

Masyarakat Tengger sangat patuh pada hukum adat yang telah berlaku secara turun-temurun—mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sinergi alam-manusia yang ditampilkan dalam kehidupannya cukup istimewa di mata saya. Mereka selalu menyesuaikan diri dengan alam karena sadar  jika kondisi alam rusak dan terganggu, itu akan berpengaruh juga pada kehidupan mereka.
Contoh kearifan lokal yang paling sederhana adalah, filosofi “tebang satu, tanam dua” yang masih mereka jaga hingga saat ini. Jadi ketika mereka menebang satu pohon maka mereka juga harus menanam dua pohon sejenis sehingga mata air bisa tetap terjaga dan alam tidak rusak. Tidak heran, jika hutan-hutan yang ada di wilayah ini terjaga kelestariannya.

Ah! seandainya saja segenap elemen bangsa ini memiliki persepsi yang sama

🙂

Semakin meningkatnya minat pada dunia traveling berdampak pada makin terkenalnya kawasan Bromo. Banyaknya pengunjung yang datang, tidak hanya memberikan pengaruh pada lingkungan tetapi juga kehidupan masyarakat di sekitarnya. Masyarakat Tengger tidak lagi sepenuhnya bergantung pada alam karena mereka bisa mengembangkan usahanya dengan menyewakan kendaraan roda empat, kuda ternak, berjualan souvenir, membuka usaha kuliner, sampai menyulap rumah tempat tinggalnya menjadi penginapan.  Disaat yang sama, muncul pandangan-pandangan skeptik bahwa kondisi ini akan menjadi bumerang bagi masyarakat Tengger. Bisa jadi pesatnya sektor ini berpengaruh negatif bagi mereka dan lingkungan. Namun saya yakin, selama hukum adat dan kearifan lokal tetap dipatuhi, keharmonisan yang ada sekarang tetap terjaga dan perkembangan sektor pariwisata akan membawa dampak positif bagi kehidupan mereka.

terios7wonders

Sumber foto :

* Koleksi Kelas Plano’01

** @Rismau_

*** @Chiemay_acc

Referensi :

Jurnal Penelitian PWK – UB :  Kearifan Lokal Masyarakat Suku Tengger dalam Pemanfaatan Ruang dan Upaya Pemeliharaan Lingkungan, oleh : Dianing Primanita Ayuninggar

Laporan Penelitian : “TRADISI UPACARA KASADA -BROMO-PROBOLINGGO”. Oleh : Dina indrawasih

Gunung Bromo, http://id.wikipedia.org

28 thoughts on “[7wonders] Menyelami Harmonisasi Alam, Budaya, dan Kearifan Lokal di Bromo

      1. Bener yaaa… asyiiiikk siapa tahu bisa rame2 kayak ke Lasem. Kapannya belum tahu mbak haha. Tapi pasti diajakin lha wong aku gak punya temen hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s