Nepotisme di Sekolah Yaya

Perhatian! Postingan ini agak berbau curhat😀

Jadi kali ini saya ingin bercerita tentang sekolahnya Yaya dan grup drum band-nya. Alkisah, sekolahnya Yaya yang notabene sekolah biasa saja ternyata memiliki tim drum band yang “luar biasa”. Apalagi untuk tim-nya Yaya sekarang.

Kenapa bisa luar biasa? Karena tim drumb band-nya Yaya memiliki 3 mayoret padahal kan umumnya kan hanya 2 mayoret.

Kenapa bisa begitu?

Jadi ketika awal pembentukan tim ini, pelatihnya melakukan semacam “audisi” untuk masing – masing posisi termasuk posisi mayoret. Lalu berdasarkan pertimbangan kemampuan, terpilihlah dua orang untuk menjadi mayoret.

Lalu, terjadilah kehebohan di sekolah Yaya pasca pemilihan mayoret ini. Ada seorang anak yang tidak lolos seleksi mayoret menangis sejadi-jadinya merengek minta jadi mayoret. Alih – alih menenangkan, ibu si anak pun “rekuest” ke kepala sekolah bukan ke pelatihnya supaya anaknya dijadikan salah satu mayoret disana. Karena ibu si anak ini berteman dekat dengan kepala sekolah dan suaminya juga dari kalangan The Have jadi mampu untuk membayar sejumlah tertentu biaya menjadi mayoret, akhirnya si anak ini diberikan kesempatan menjadi mayoret. Jadinya ada 3 mayoret di tim drumb band Yaya.

Kemudian tersiar kabar kalau dalam perlombaan hanya ada dua mayoret yang akan diambil dan satu harus mengalah. Sepertinya tidak mungkin si anak titipan ini yang mengalah karena akan berpotensi terjadi huru hara seperti sebelumnya. Akhirnya mamahnya Yaya dan mamahnya Vivi (mayoret) ketar – ketir menunggu nasib anaknya selanjutnya. Apakah akan terpilih jadi mayoret atau tidak😦

???????????????????????????????

Beberapa hari lalu, saya mengantarkan Yaya latihan ke sekolah dan melihat langsung proses latihan disana. Yang berdiri didepan itu ada 3 mayoret dan 1 gitapati. Baru kali ini saya melihat Yaya memainkan tongkat diiringi alunan musik teman – temannya. Yaya dan Vivi yang memang dipilih oleh pelatihnya cukup mahir dan luwes memainkan tongkat sambil bergerak mengikuti musik. Sedangkan si anak titipan ini dia diam ditempat tanpa gerak kaki memainkan tongkatnya sambil melirik ke arah Yaya dan Vivi karena dia belum menguasai gerakan.

Saat menunggu mereka latihan, saya pun berbincang dengan mamahnya Vivi. Dia bilang mau tidak mau orang tua harus legowo menerima keputusan kepala sekolah tentang siapa yang harus mundur dari posisi mayoret Agustus nanti. Yang harus dipersiapkan adalah persiapan hati menenangkan anaknya nanti yang mungkin saja akan rewel begitu tahu bukan dia yang terpilih. Sepertinya mamahnya Vivi ini sudah agak pasrah dengan nasib anaknya (padahal Vivi kan bermain bagus ketika memimpin teman-temannya). Saya dan mamahnya Yaya jelas tidak terima kalau Yaya yang harus mundur. Selain karena dia pilih langsung oleh pelatihnya, anaknya juga bersemangat, dan Yaya lah yang paling mahir dan luwes memainkan tongkat.

Sangat tidak adil jika Yaya yang harus mundur. Tidak adil juga untuk Vivi jika dia dipaksa mundur.

yaya

Sering saya gemas ketika mendengar mamahnya Yaya bercerita soal ini.

Iseng, saya pun menyodorkan studi kasus ini pada teman saya yang juga seorang guru. Akankah dia melakukan hal yang sama dengan kepala sekolah ataukah tidak. Ternyata studi kasus “persahabatan versus profesionalisme” ini cukup susah untuk dilakukan. Dan si teman pun sama, dia akan menerima anak titipan tadi. Ketika saya tanya kenapa dia memutuskan hal tersebut? Karena jelas dia merasa tidak enak pada si teman dan toh si anak masih bisa dilatih dan dikembangkan kemampuannya. Jangan salah sangka. Teman saya ini sebenarnya orang yang sportif dan dia selalu bersikap adil pada murid – muridnya. Tetapi ketika dihadapkan pada kasus ini, dia pun memilih seperti pilihan kepala sekolahnya Yaya😦 Dan saya pun patah hati mendengarnya.

Sepertinya hal ini tidak hanya terjadi di sekolah Yaya. Ada beberapa lagi yang lain, yang biasanya karena posisi orang tuanya si anak bisa mendapat “hak” istimewa di sekolahnya.

Kalau menurut saya, sebaiknya pendidikan untuk bersikap sportif itu diajarkan sejak dini, sejak pendidikan dasar. Sebaiknya si anak diajarkan untuk mendapatkan sesuatu dia harus memantaskan diri untuk itu. Bukannya merengek dan menempuh jalan pintas karena kebiasaan ini nantinya akan berbahaya jika terbawa sampai dia dewasa.

Saya jadi teringat berita yang cukupmenghebohkan kemarin tentang “Saya anaknya Jenderal”. Mungkin si anak ini perlu kembali ke sekolah dasar untuk belajar lebih baik supaya besarnya tidak menjadi pemicu huru hara dan gila pangkat seperti itu #Eh

22 thoughts on “Nepotisme di Sekolah Yaya

  1. Kalau dari kecil sudah sering mendapatkan keistimewaan seperti itu, ya gak heran kalau besar dia bertindak tidak sportif. Kasian anaknya kalau sudah besar nanti..😦

  2. Orangtua-nya si anak itu sebenarnya pingin nyenengin anaknya tapi dengan cara yang salah…semoga yaya tetep terpilih. Hidup yaya!🙂

  3. Aku malah kasihan sama si anak the haves itu. Dari kecil udah dimanja dan diturutin semua kehendaknya, ntar mau jadi apa. Sekarang ngerengek pingin jadi mayoret eh besok meraung-raung pingin jadi miss universe kan berabe #eeeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s