Pengakuan

Hahahhahahhahaa kali ini saya ingin membuat sebuah pengakuan. Pengakuan tentang kejadian beberapa tahun silam. Pengakuan yang mungkin akan membuat teman – teman saya bertanya – tanya dan memutar memori kebelakang, mencari – cari jawaban tentang seseorang.

SAYA PERNAH JATUH SUKA PADA TEMAN SAYA SENDIRI πŸ˜€

Kalimat yang ditulis dengan huruf kesplok diatas tidak salah. Itu benar adanya. Saya jatuh suka pada teman saya sendiri, sejak pertemuan pertama, bahkan saat saya belum tahu namanya. Yang saya tahu hanyalah kami akan kuliah di fakultas dan jurusan yang sama.Β Kami pertama bertemu di Sakri saat hendak daftar ulang. Sepertinya dia datang sendirian. Lalu kami pun terlibat perbincangan singkat tentang pengisian formulir, tidak lebih dari itu.

Dia seorang dengan penampilan sederhana, tidak terlalu menyita perhatian orang – orang disekitarnya. Namun, memiliki magnet yang cukup kuat untuk menarik ekor mata saya untuk mencari – carinya di tengah kerumunan calon mahasiswa.

Setelah itu, kami baru bertemu seminggu kemudian. Dia dengan penampilan barunya, rambut cepak ala MABA. Sepintas dia terlihat sama dengan yang lain. Hampir saya tidak bisa mengenalinya. Tetapi, alis dan matanya membuat dia terlihat berbeda. Ya, saya berhasil menemukan keberadaannya diantara para MABA yang berpakaian serba putih.

Galang Wacana berlalu, dan semester pun bergulir. Saya masih belum memiliki keberanian untuk menyapanya dan berbincang dengannya sampai pada akhirnya kami terlibat dalam kelompok tugas yang sama. Dia sangat sibuk dengan teman – temannya yang juga teman – teman saya, saya pun sibuk dengan teman – teman saya yang juga teman – temannya. Kami sering bertemu, namun kami saling diam. Entah dia sudah lupa atau masih ingat tentang pertemuan pertama kami di Sakri waktu itu.

Saya cukup rapi menyimpan perasaan itu, sampai suatu ketika saya terlibat obrolan dengan seorang teman yang lain di kamar kos. Saya membuka rahasia. Itu adalah kali pertama saya melakukan pengakuan atas perasaan saya. Reaksi teman? Tentu saja dia kaget πŸ˜€

Lalu bagaimana hubungan saya dengan teman yang spesial ini? Tentu saja hubungan kami baik – baik saja. Sering kali kami bergabung dalam satu tim tugas mata kuliah. Interaksi dengannya pun terbilang cukup intens dan kami semakin dekat. Kami sering menghabiskan waktu bersama baik ketika di kampus maupun diluar kampus. Pada banyak kesempatan dia seringΒ menjemput saya di kos untuk mengerjakan tugas bersama di salah satu rumah teman kami. Oiya, selain dia masih banyak teman lain yang juga menjemput saya tetapi dialah yang paling sering.

Kami tidak selamanya akur, bahkan sering terlibat drama. Drama yang tentunya menguras emosi jiwa hahhahhahaaa πŸ˜€ Entah teman kami yang lain sadar atau tidak, tetapi kami cukup sering bersitegang saat berada ditengah – tengah mereka. Beberapa teman mengatakan saya adalah orang tersabar yang pernah mereka kenal, bahkan mungkin urat marah saya sudah putus. Tetapi ternyata, ketika berhadapan dengan si teman yang spesial ini tingkat sensi saya naik berkali lipat. Sudah tidak terhitung berapa kali saya marah dan ngambek. Bahkan yang terparah, perselisihan kami sempat membuat beberapa teman kami khawatir.

Saya tidak pernah bisa benar – benar marah padanya. Pagi bertengkar, malamnya kami sudah berhahahihi bersama. Suatu hari kami berselisih paham, dia marah dan saya pun lebih marah. Kami saling diam dan mendiamkan. Esok harinya, kami sudah bercanda dan cepat melupakan perselisihan kami sehari sebelumnya. Kenangan – kenangan itu sangat menggemaskan ketika dikenang namun cukup menguras emosi saat mengalaminya.

Semakin dekat dengannya, perasaan saya padanya pun semakin besar. Saya tidak berani berterus terang karena takut akan reaksinya dan Β orang – orang di sekitar kami. Kami berdua ada di lingkaran pertemanan yang sama. Saya takut dia akan terbebani dan hubungan kami yang sudah terjalin baik akan berubah. Saya takut tidak bisa lagi menghabiskan waktu bersamanya, dan berteman seperti teman – teman yang lain. Ya, saya takut! Karena itu saya lebih memilih menyukainya diam – diam.

Dia bukanlah seorang pemberi harapan palsu. Dia tidak pernah memberi harapan apapun, bahkan bersikap sok manis pun tidak pernah dilakukannya. Dia memberikan perhatian dan menolong selayaknya seorang teman baik. Tidak lebih. Dan saya tahu pasti tentang hal itu. Namun, hati saya tidak bisa mengingkari bahwa perasaan saya padanya lebih dari itu.

Sekian tahun berlalu sejak kami lulus, sepertinya rahasia ini masih tersimpan dengan baik. Sampai malam ini, ketika saya menuliskan pengakuan ini πŸ˜€

Jadi, setelah membaca pengakuan ini, adakah yang tahu siapa yang saya maksud? πŸ˜‰

43 thoughts on “Pengakuan

    1. itu kejadian bbrp tahun lalu Cha πŸ˜€
      yg ini lbh baik ditutup bukunya.
      Hheemmm,mungkin nanti klo nemu yg lain bakalan diungkapin *Ikut curcol*

  1. if he likes you, he’d say something.
    atau jangan2 dia juga mikirnya gitu ….

    “if dian likes me, she’d say something….”

    *NAH LOH*

  2. Siapa ya yang dimaksud?? Ga tau… Tapi daripada terus terjebak friend zone ga ada salahnya loh mulai memberi sinyal… misalnya nanya “eh slama ini kita temenan menurutmu aku gimana?” ATAU “dimatamu aku ini seperti apa?”
    ya harusnya dari situ cewe bisa tau perasaan si cowok sih… ^^ *jadi konsultasi jodoh. *halah πŸ˜›

    1. Harus2nya nanya2 gitu 10 tahun yg lalu ya Van? Sekalian jelas kalau bertepuk sebelah tangan huhuhuhuhuuuhu.
      Kalau sekarang, lebih baik ndak usah ngaku sama si teman itu, soalnya sudah jadi suami orang sih #Ups

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s