Keluargaku, Sekolah Kehidupan Pertamaku

Dear Takita, Kak Dian kirim surat lagi untuk Takita😀

Senang membaca surat dan tahu kabar terbaru dari Takita. Ternyata Takita makin pinteeeerr … Membaca cerita Takita membuat kak Dian bernostalgia tentang masa kecil dulu. Kita sama-sama suka membaca😀 Oiya, kak Dian dulu juga suka sekali cerita cerita detektif. Lima Sekawan adalah buku detektif pertama yang Kak Dian baca dan masih suka sampai sekarang walaupun jarang sekali bisa membacanya ulang.

Takita …

Kak Dian dan keluarga tinggal di salah satu desa di Kabupaten Tuban. Saat itu listrik belum masuk desa, jadi setiap malam belajarnya masih menggunakan lampu petromak. Desa kami lumayan jauh dari kota dan angkutan umum yang ada juga masih terbatas. Tapi Kak Dian bersyukur memiliki ayah dan ibu yang hebat. Meskipun tinggal di desa, ayah dan ibu Kak Dian selalu mengusahakan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya supaya tidak tertinggal dengan teman – teman yang bersekolah di kota.

Kak Dian pertama kali belajar menulis, mengeja, dan membaca juga dari rumah. Waktu itu Kak Dian belum sekolah dan ibu Kak Dian selalu sabar dan telaten mengajari Kak Dian mengenal huruf – huruf. Ketika masuk TK A, Kak Dian sudah mulai membaca buku cerita bergambar.  Bu Guru Kak Dian suka meminjamkan beberapa buku cerita untuk dibawa pulang. Ibu juga sering membawakan majalah dari sekolah tempat beliau mengajar supaya Kak Dian makin semangat belajar membaca. Ayah Kak Dian selalu telaten menjawab pertanyaan – pertanyaan tentang apa yang Kak Dian baca di majalah. Setiap kali ayah dan ibu ke kota, selalu membelikan beberapa majalah anak yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Oiya, selain membaca, ayah dan ibu Kak Dian juga mengajarkan banyak hal lainnya seperti tanggung jawab, saling menolong, berbagi, bersikap ramah dan sopan pada orang lain. Dirumah, kami mulai dibiasakan berbagi tugas mengerjakan beberapa pekerjaan rumah untuk membantu ibu. Jika memiliki makanan, kami juga diajarkan untuk berbagi dengan teman ataupun tetangga. Selain itu, ayah ibu juga berpesan untuk selalu tersenyum dan menyapa ketika bertemu tetangga atau teman.

Sebagai anak – anak, kadang Kak Dian keberatan dengan apa yang dinasehatkan ayah dan ibu. Ada kalanya Kak Dian enggan berbagi dengan yang lain. Kadang juga lupa menyapa teman yang kebetulan bertemu di tengah jalan. Tetapi ayah dan ibu Kak Dian selalu sabar mengajarkan hal-hal itu pada Kak Dian.

Tetapi …

Belasan tahun kemudian, ketika Kak Dian mulai tinggal terpisah dengan ayah dan ibu karena harus belajar di luar daerah, ajaran-ajaran yang diterapkan ayah dan ibu dirumah sangat terasa manfaatnya. Sebagai anak kos yang tinggal bersama dengan 59 anak lainnya, Kak Dian tidak mengalami kesulitan untuk berteman. Ajaran untuk bersikap ramah dan menyapa teman membuat Kak Dian bisa cepat akrab dengan teman baru. Ajaran untuk berbagi yang selalu dinasehatkan ayah dan ibu akhirnya membuat Kak Dian lebih dekat dengan teman-teman dan kami seperti keluarga. Teladan untuk ringan tangan menolong orang lain juga terasa sekali manfaatnya. Kak Dian sering ditolong teman-teman, bahkan tanpa diminta mereka sering membantu Kak Dian. Teman-teman Kak Dian baik ya Takita? Kak Dian sayang sekali sama mereka😀

Takita …

Ayah dan ibu kita pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Beliau berdua selalu menasehatkan, mengajarkan, dan meneladankan kebaikan. Ada kalanya apa yang dinasehatkan beliau tidak seperti apa yang kita inginkan. Tetapi percayalah Takita, ayah dan ibu pasti mengusahakan yang terbaik untuk kita, anak-anaknya. Mungkin sekarang tidak terlalu terasa, tetapi kelak kita akan merasakan manfaatnya.

Oiya …

Kak Dian senaaaang sekali, Takita tumbuh menjadi anak yang pintar dan kreatif serta memiliki semangat belajar yang tinggi. Semoga Takita bisa menginspirasi teman – teman yang lain untuk senang belajar dan berbagi. Mengenal Takita membuat Kak Dian belajar hal – hal baru dan menyadari hal – hal penting yang selama ini tidak diperhatikan.

Terimakasih ya Takita😀

Salam sayang,

Kak Dian

(Posting ini diikutkan Program Keluargaku Pendidikanku oleh Takita dan BlogFam)

Lomba Blog Takita

31 thoughts on “Keluargaku, Sekolah Kehidupan Pertamaku

      1. Kemarin2 jarang buka twitter jadi dapet info lombanya juga telat banget😦
        klo begitu diberesin dulu tugas negara yang menuggu di garis matinya mas.
        Lain kali ikutan yuuukkkk😀

  1. ehh dah bisa tuh bannernya ternyata? hihihihi
    jadi inget lagi dah lama gak keluarin/beliiin majalah buat raha, biar makin lanjtar bacanya.. makasih kak Dian udah ngingetin akuhhhh lagi lewat surat ini #eh kakak😀
    mwah! Good morning!

    1. Sama2 dek Raha & tante Ibeth *teteup loh mbak, dirimu kupanggil tante* hihiihhihihii

      Ayooo, belajar membaca lewat majalah itu teryata menyenangkan

      1. hiyaaah..di mall ada toko buku.majalah bekas gede.. biasa akuk beli di situ ..tp blakangan jarang ke sana..abis Raha ini kl di beliin majalah jarang bacanya tp malah di gunting2 gambarnya😀 tapi kadang dia baca jg cerita2nya..mungkin krn msh belajar, kadang cuma satu paragraf trus ditinggal hahhaaa..dasar bocah!😀

      2. hhahhahahaa iyaa, sama juga sih mbak. Awal2 aku juga lebih tertarik sama gambar2nya, trus baca2 iklannya (karena pendek2), trus lanjut baca komik, baru deh baca cerpen …
        CUma klo aku dulu ga pake gunting2 gambar, soale eman2. Belinya jauuuuhhhh

  2. jdi inget lgi masa kecil, ska bnget klo ortu bawain majalah… btw dlu gag salah lima sekawan prnh dtyngkan di tv deh.., moga sukses kontesnya !

      1. hwwuuaaa, aku beneran ga pernah nonton mbak :’)
        Kalau dibandingkan bukunya, serial TV-nya sama serunya atau lebih seru? *penasaran*

  3. Jaman dulu nya sedih ya… belajar masih pake lampu petromak… Tapi salut akan semangatnya… kadang itu yg bikin orang tua skrg lbh tough ya… eh bener ga lebih tough?!😀

    1. bener atau gak, kembali ke pribadi masing – masing hahahahha😀
      Tapi yang jelas, orang tua pasti senang melihat anaknya memiliki semangat belajar yang tinggi.

    1. iya adek cangkir kopi😦
      Aku kmrn2 jarang buka twitter jd ketinggalan info lomba. Tahu2 sudah H-1 (dan itu pun waktu perpanjangan dr panitia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s