Berguru Pada Pak Bukik

Berawal dari sering membaca postingan di indonesia bercerita, blog Pak Bukik, serta mengikuti twit-twit tentang pendidikan anak dan berlanjut pada obrolan dengan salah satu sepupu saya tentang pelatihan menulis untuk anak, kami jadi terpikir untuk mengikutsertakan adik-adik kami dalam kelas menulis. Permasalahannya adalah di kota kami, kelas menulis hanya ada untuk mahasiswa dan itu pun intern kampus. Akhirnya terpikirlah untuk membuat kelas sendiri untuk adik-adik kami, di rumah.

Memulai kelas menulis dan membaca tentu saja bukan hal yang mudah, apalagi bagi kami yang sangat awam tentang pendidikan anak. Berbagai tantangan seperti minat baca yang rendah, anak-anak tidak biasa menulis dan tidak tertarik menulis sudah terbayang.  Akhirnya saya pun memutuskan untuk “asistensi” pada Pak Bukik terkait hal ini karena beliau sudah lebih dahulu terjun langsung dalam bidang ini dan menjadi inisiator  @IDcerita, @bincangedukasi dan @kataTakita tentunya memiliki pengalaman yang bisa dibagikan.

Berikut adalah hasil meguru saya pada Pak Bukik. Monggo disimak😀

Bagaimana memulai untuk melakukan pendekatan pada anak-anak usia sekolah dasar dan menengah agar bisa menumbuhkan minat membaca mereka?

Pada dasarnya, anak akan meniru PERILAKU orang lain yang baginya keren, memberi rasa bangga atau senang padanya. Mereka adalah peniru PERILAKU yang ulung, tapi pendengar (NASEHAT) yang buruk. Bagaimana memulai? Jangan menasehati anak. Apapun bentuknya. Tapi tunjukkan perilaku membaca. Menunjukkan perilaku membaca bisa dengan perilaku kita sendiri, bisa dengan menampilkan sebuah video/film dll. Bisa dengan poster yang menceritakan sebuah kisah penulis (bukan NASEHAT). Lebih baik lagi bila perilaku yang ditunjukkan adalah perilaku dari orang yang mereka hargai. Bisa tokoh seusia (atau tokoh pada usianya). Bisa tokoh pada bidang hobi mereka.
Setelah menunjukkan perilaku, tahap berikutnya adalah “iming-iming”. Alih-alih menyuruh, lebih efektif dengan memberikan iming-iming. Semisal, semua orang bisa menulis, tapi tidak semua orang bisa menulis, hanya orang keren yang bisa.😀. Ketika fase iming-iming berujung pada antusiasme atau keinginan mereka untuk belajar, beri kesempatan mereka buat belajar. Dari yang sederhana. Menulis perasaannya hari ini, misalnya.
Setelah itu terakhir, memberi penguatan positif pada anak secara rutin dan intensif. Penguatan itu bisa pujian, bisa diceritakan perilaku positif itu pada teman-temannya, bisa dengan hadiah tak terduga.

Pendekatan-pendekatan seperti apa yang bisa dilakukan agar anak tidak merasa dipaksa dan bisa menceritakan ulang apa yang dibacanya?

Ya jangan dipaksa😀
Bikin permainan. Bikin kontes kecil-kecilan. Tetaplah dengan dunia permainan anak
Bagaimana menjaga semangat membaca anak-anak agar mereka tidak “putus” tengah jalan saat membaca buku?
Mengingatkan dan menguatkan. Telaten untuk menanyakan sampai mana mereka membacanya. Telaten untuk memberi pujian atas hasil bacaannya.
Apa yang harus dilakukan untuk mengajak mereka supaya “berani” menulis?
Mulai dari yang sederhana. Dan bila perlu dengan cara yang tidak terduga
Misal dalam kelas. Ceritakan kisah seorang penulis jempolan. Iming-imingi mereka siapa yang mau jadi penulis jempolan. Sampaikan bahwa kamu akan memberi tantangan yang membuat setiap orang bisa jadi penulis jempolan. Iming-iming lagi😀
Setelah itu, minta mereka mengeluarkan kertas/buku dan alat tulis. Bersiap untuk menulis. Mintalah mereka melepas sepatu dan menaruhnya diatas meja. Mintalah mereka menulis tentang sepatu itu. Apa yang mereka lihat? Apa yang mereka bau? Apa yang merekas rasakan? Tentang sepatu itu.
Yakinlah! Mereka semua bisa nulis
Oh ya gunakan hukum input mempengaruhi output. Kualitas bacaan mempengaruhi kualitas tulisan. Kualitas bacaan tidak terbatas pada buku, tapi juga pengalaman dan imajinasi. Semakin bervariasi pengalaman, semakin mudah menulis.

Terinspirasi Damai, saya kagum dengan Damai yang bisa menulis dengan bahasa indonesia yang baik. Bagaimana mengajak anak-anak ini supaya bsa berbahasa indonesia dengan baik karena mereka terbiasa menggunakan bahasa “alay” yang saya kadang tidak paham maksudnya apa?

Gini ceritanya. Waktu itu aku sama mamanya Damai BBM-an. Terus Damai minta BB mamanya, mau BBM-an sama aku. Mulai deh aku merasa ngganjel. Mengapa? Waktu BBM-an sama mamanya, aku banyak nyingkat kata/istilah. Nah waktu BBM-an sama Damai kepikir apa dampaknya. Akhirnya, aku BBM-an ya dengan bahasa yang baik (meski tidak selalu benar :D)
Apa intinya? Tulisan alay lahir dari sebuah bentuk komunikasi tertulis tertentu, antar teman sebaya. Pernahkah orang tua/guru berkomunikasi secara tertulis dengan anak/murid? Aku yakin tidak pernah. Apa dampaknya? Ada kecenderungan menggunakan bahasa seenaknya.
Bagaimana sebaiknya? Sebagai guru/ortu/kakak/pendamping, kita bisa menggunakan bahasa tertulis ke anak/murid. Baik melalu sms, maupun surat, iya surat…..

Jika saya ingin membuat kelas kecil untuk anak-anak di lingkungan saya, melatih mereka untuk “berani” menulis dan gemar membaca, kira-kira apa saja yang perlu saya persiapkan?

  1. Diri kamu. Yakin dengan kemampuanmu. Perkaya terus wawasan mengenai anak, belajar dan pendidikan.
  2. Anak-anak. Kenali anak-anak di lingkunganmu. Kenalis siapa saja, berapa umurnya, apa kebiasaannya, siapa yang berpengaruh diantara mereka
  3. Tempat dan waktu. Iya, buat belajar. Ciptakan ruangan yang suasananya menguatkan untuk membaca dan menulis.
  4. Metode yang variatif.  Tadi aku ngasih contoh di dalam kelas, menulis pun bisa terjadi di luar kelas. Ajak ke tempat yg mereka suka, mintlah mereka menulis/
 Oh ya aku punya mimpi bikin Rumah Takita sih dengan aktivitas semacam klub sains sosial begitu…….belum terlaksana😀

 Bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dan menengah?

Buat anak SD, tetap beri porsi bermain lebih banyak. Bila perlu, apa yang mereka tulis ya apa yang mereka mainkan
Buat anak SMP/SMA, beri kesempatan mereka untuk curhat berbagai macam hal yang mereka rasakan
Penjelasan Pak Bukik diatas telah memberikan gambaran tentang apa yang perlu saya persiapkan ketika mengajak adik-adik saya untuk gemar membaca dan berani menulis, karena membaca itu penting dan menulis itu perlu. Semoga bermanfaat🙂
Oiya, ini adalah gambar adik-adik saya yang lucu itu😀
30026_398131734589_720962_n

***

Bagi yang tertarik pada bidang social movement dan pendidikan, bisa menghubungi Pak Bukik via twitter disini.

7 thoughts on “Berguru Pada Pak Bukik

  1. Wah, sangat inspiratif Dian chan.. Aku ingin ikut berpartisipasi, tapi gimana caranya ya.. dirimu nun jauh di Tuban sana…:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s