Tentang Mimpi, menjadi “normal”, atau dianggap “gila”

Bukankah setiap orang itu unik? Setiap orang itu berbeda satu dengan yang lainnya, termasuk kesukaan, kemampuan, dan juga pilihan hidupnya.

Tapi kenapa ketika ada yang berbeda, sering kali dianggap tidak normal bahkan gila?

Kenapa saya tiba-tiba membahas hal ini? ini adalah sebagian perjalanan yang pernah saya lalui dan kebetulan satu rasa dan satu jiwa dengan buku yang saya baca,Nomadic Heart. Tenang saja, saya tidak sedang dan akan meresensi buku di postingan ini😀

Mimpi … Apa mimpi-mimpi kalian? Apakah mimpi kalian sama seperti kebanyakan orang? ataukah mimpi kalian berbeda dari kebanyakan orang? Pernahkah kalian berbagi mimpi dengan orang lain? Menceritakan mimpi kalian pada orang lain? Lalu apa reaksi mereka?

Saya pernah loh, dan ketika saya berbagi mimpi dengan orang tertentu saya dianggap GILA😀

Tentang menjadi “normal”, kehidupan normal itu yang seperti apa? Tentu saja pengertian “normal” untuk tiap orang bisa saja berbeda. Ataukah seperti yang dibahas dalam bab pembuka Nomadic Heart => lahir – sekolah – bekerja – menikah- mati? Tentu saja perjalanan hidup tidak selancar dan sesimpel itu. Ada saja ujian dan pembelajaran didalamnya. Dan ketika hidup seseorang terlihat baik-baik saja, bukan berarti dia tanpa masalah kan? itu karena dia memang sangat baik menyimpan dan mengatasi permasalahannya tanpa harus menunjukkannya pada orang lain. Dan ada juga orang-orang yang suka membagi masalahnya untuk dikonsumsi publik, seperti memasang status/twit curhat yang bisa dibaca siapa saja #uhhuuxxx #SelfToyor

Dan ketika bertemu dengan seseorang yang memiliki pilihan hidup “tidak normal”, kenapa harus menyebutnya gila? Tidak normal ini yang seperti apa? Nanti saya akan cerita😀

***

Dulu, saya pernah berbagi mimpi dengan orang tertentu dan saya dianggap gila, tidak tahu diri, dan bermimpi terlalu tinggi😀 Apa yang salah dengan bermimpi tinggi? toh mimpi itu batasnya langit (lagi-lagi nyuplik salah satu judul di Nomadic Heart), lagipula bermimpi itu kan gratis dan selama mimpi itu tidak menyakiti orang lain, kenapa harus membatasi mimpi? *lagi-lagi setuju dengan si penulis Nomadic Heart*😀

Jadi, waktu  itu tahun 2011 saat saya mengutarakan keinginan saya pergi ke Thailand. Keinginan itu lebih terlihat seperti mimpi tidak masuk diakal, karena kebanyakan orang disekitar saya waktu itu tidak pernah berpikir untuk keluar negeri kecuali “naik haji”. Dan, saya pun langsung mendapat sambutan berupa tertawaan, teguran, dan juga nasehat agar mimpi saya tidak ketinggian. Tunggu! Ketinggian???😀

Hehehheehe, tidak cukup itu. Ketika saya berargumen tentang tidak ada yang salah dengan cita-cita saya pergi ke Thailand, mereka menyebut saya GILA😀 Semakin mereka meremehkan mimpi itu, semakin saya bersemangat mewujudkannya … Alhamdulillah, pada tahun yang sama saya berhasil berangkat ke Thailand dan menikmati perjalanan selama 5 hari disana.

Lalu, apa yang terjadi dengan orang-orang yang tadi menertawakan saya? Tentu saja mereka baik-baik saja setelah menelan ludah sendiri dan sangat bersemangat menitip oleh-oleh😀

Peristiwa ini juga menjadi pelajaran untuk saya agar tidak mudah “menghakimi”, menjudge orang lain gila hanya karena dia memiliki cara pandang dan pilihan hidup yang berbeda.

***

Cerita lain, tentang teman seperjuangan saya, Apin😀

Hari gini siapa yang tidak mau jadi PNS??? *sebar-sebar pandangan* Oh! Tidak semua ya😀 Baguuuusssssssssss

Di daerah saya, PNS adalah pekerjaan kehormatan, pekerjaan idaman, dan mungkin saja menduduki rangking tertinggi untuk jenis pekerjaan yang diincar. Bahkan rumor yang beredar, menantu idaman itu adalah menantu yang bekerja menjadi PNS. Ohiya, setelah PNS disusul kemudian pegawai bank, polisi/tentara (eh ini juga PNS ding), dokter, dan lain-lain. Hampir sebagian besar berharap bisa menjadi PNS, bahkan ada yang menghalalkan pintu belakang dengan membayar sejumlah tertentu untuk menjadi PNS. Oh! Tentu saja teman-teman saya termasuk mereka yang mengetuk lewat pintu depan dan dipersilahkan masuk PNS karena kemampuannya😀 *ini fakta*

Disaat banyak orang yang lain berminat masuk PNS, teman seperjuangan saya Apin justru resign dari pekerjaannya sebagai PNS. Tentu saja ini bukan keputusan emosial, karena sebelum mengajukan surat resign Apin sudah melalui proses perenungan cukup panjang dan lama sampai akhirnya surat itu dibuat. Bagi kebanyakan orang, keputusan Apin ini dianggap “gila”, tapi bagi saya keputusan Apin ini keputusan besar dan hebat. Apin lebih memilih mengejar lentera jiwa dan siap berjuang untuk itu. Ibarat Hiu, dulu Apin seperti Hiu yang berenang di kolam kecil,tapi sekarang dia menjadi Hiu yang berenang di lautan lepas. Selamat berjuang Pin😀

***

Pada akhirnya saya belajr bahwa memiliki pilihan hidup dan mimpi yang berbeda dengan yang lain bukan hal yang salah apalagi aib, dan menghormati perbedaan serta membuka diri untuk belajar pada orang lain ternyata menyenangkan, bisa tertular spirit positifnya😀

Lalu pernahkah kalian menemui yang semacam ini? ataukah pernahkah kalian dianggap gila ketika menceritakan mimpi kalian?

23 thoughts on “Tentang Mimpi, menjadi “normal”, atau dianggap “gila”

  1. memang ya kadang ada saja orang yang mematahkan semangat kita. padahal kalau memang tidak bisa mendukung harusnya mereka khan diam
    kayak aku sekarang, aku sedang sangat tidak setuju atas keputusan salah satu teman dekatku. setelah menyampaikan poin-poin alasan kenapa aku ga setuju dan dia tetap maju jalan, aku memilih diam.. tapi diam bukan berarti ngga jadi teman baiknya toh? kami tetap saling bercerita, tp ttg hal lainnya🙂

    1. iya mbak, sebagai teman harus bisa saling memberi masukan dan menerima masukan … Aku juga sering kok berbeda pendapat/pemahaman dengan teman, saling mengutarakan pendapat walaupun bersebarangan, tapi tidak saling menyudutkan.
      Setelah itu kami akan baik-baik saja😀 *colek Fretty & Diansof*

  2. Dunia ini penuh dengan perbedaan.. berwarna-warni.. seperti pelangi, karena itu yang menjadikannya indah. Hormati perbedaan orang lain selama dia tidak memaksakan hal yang berbeda itu kepada kit… itu prinsipku sih..🙂

    nothing wrong being different.. mereka yang menganggap berbeda itu gila adalah mereka yang membatasi diri mereka dengan dinding-dinding yang mereka buat sendiri.. imho.

    berbicara ttg gila pun, harus melihat sudut pandangnya kan. orang telanjang di jalan raya, bagi saya (dan bagi orang kebanyakan) mungkin itu gila or at least ekstrim. tapi mungkin di dunianya hal itu biasa.

    ini comment apa cerpen sih panjang bener … hehehe.. btw, ditunggu resensi Nomadic Heartnya😀

    1. Hahhahahahahaha resensinya nunggu Plan A berjalan ya mbak😀 *penuh misteri*
      Karena kali ini aku meresensinya dengan hati *tssaaahhhhhh*
      Sudah terjleb-jleb sejak halaman awal soalnya😀

      1. hahahahaha…. sebetulnya sih intinya tentang sang tokoh idola nih… hmm, apa ku share aja nih postingan dan kumensyen ya orangnya *seriously thinking*

      2. Hhahhahahhahahhaa tokoh idolaku? Maksudnya Kenta Kiritani? *teteup*
        Mensyen aja ndak papa mbak, tapi memangnya dirimu tahu ID twitternya Kenta kun?😉

        Pppppppssssssttttttttt, tokoh idola yg itu jgn dimensyen deh, kesenengen nanti dia. Baidewei dia suaranya bagusdan cara ngomongnya enak banget buat disimak

    1. ohiyaaa, aku jd keinget status FBmu Om …
      Ya gimana ga dianggep “gila”, lha wong saat banyak orang pengen bisa kerja di bank,eh dirimu malah resign

  3. ” PNS adalah pekerjaan kehormatan, pekerjaan idaman, dan mungkin saja menduduki rangking tertinggi untuk jenis pekerjaan yang diincar.”. Hahaha.. Emak gue banget ini mah.. Betewe, salam kenal dari blogger yang nyasar ini mbak, nice article🙂

  4. Aku pernah dicap sombong dan sok hebat karena nolak melamar jadi PNS. Padahal kalo aku mau, ada 2 orang omku yang punya posisi yang memungkinkan mereka membantu aku masuk jadi PNS dengan gampang (tes cuma formalitas). Aku nolak dengan berbagai cara dan alasan; mulai dari alasan udah terikat kontrak kerja sampe terang-terangan bilang ngga kepingin jadi PNS dan udah betah kerja di sekolah sejenis tempatku kerja sekarang; dan kalo pun pindah akan tetap nyari sekolah yang jenisnya sama. Hasilnya? Dianggap sombong, sok hebat, bego, dan…dimarahin deh. Bodo aaaaaaaaaah… Hehehe…

    1. Iya Fret, aku pun punya pengalaman yang sama. Begitu tahu aku menolak, reaksinya apa? aku disalahkan! Dibilang bodoh, tidak bisa memanfaatkan peluang, dan dibilang gengsian.
      Jika ada pintu depan kenapa harus lewat pintu belakang ya?😀
      Dan PARAHNYA sampai anak-anak pun seperti didoktrin bahwa bekerja itu harus di kantor, kalau dirumah namanya pengangguran.
      Mereka harus dikenalkan pada profesi2 yang memungkinkan meremot pekerjaan dari rumah😀 *halah*

  5. Numpang share ya..aku pernah dianggap aneh oleh keluargaku.hampir semua menentang ketika aku memutuskan tidak mengambil sk cpnsku taun ini.karena aku sadar passionku bukan jadi pekerja tapi jadi wirausaha.sakit memang dipojokkan dan tidak diberi ruang untuk berpendapat.sempat aku down.tapi akhirnya ini jadi semangatku untuk menunjukkan ke mereka semoga pilihanku tidak salah.dan mimpi itu harus bisa kuwujudkan..mohon doanya ya..

    1. Iya, beri kesempatan pada mimpi untuk menjadi nyata.
      Kadang kira ditentang bukan karena pilihan yg salah, tetapi karena pilihan kita berbeda dengan orang kebanyakan. Apalagi pilihan2nya jauh dari zona nyaman.
      Ayo semangat! ^_^
      Insyallah selama diniatkan untuk kebaikan, pasti akan ada jalannya

  6. mungkin sebentar lg sy juga dianggap gila, karna mimpi jangka pendek saya seperti apin -resign pns- hehe
    surat sudah dikonsep semenjak tahun lalu2, siap diluncurkan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s