Tentang Kritikan dan Keimanan

Jadiiii …. Saya mau berbagi cerita lewat postingan ini. Cerita tidak menyenangkan sebenarnya, tetapi semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita yang membaca, khususnya untuk saya yang menulis postingan ini.

Saya sih sudah agak-agak lupa tentang kejadian kemarin, terkait dengan akun reality show ini. Tapi, hari ini mendadak mbak Ibeth memensyen terkait hal kemarin, saya pun penasaran.

mba ibeth 1

****

Berawal dari percakapan saya dengan Mbak Ibeth, percakapan santai sih. Membahas mengenai beberapa hal dan salah satunya adalah tayangan reality show di salah satu televisi swasta nasional.

Jadi ceritanya, Mbak Ibeth ini secara tidak sengaja “kecanthol” nonton reality show ini, dan kok ya dia memperhatikan detail setiap adegannya, lalu menemukan beberapa kejanggalan. Dan karena mbak ibeth ini adalah mbak-mbak yang melek teknologi, akhirnya mbak ibeth memberikan komentar via akun twitternya mereka.

Untuk lebih jelasnya dan menghindari fitnah untuk pihak tertentu, saya skrinsyut saja obrolan via twit mereka?

mba ibeth 3

Komentar mba Ibeth sebagai pemirsa TV yang menemui kejanggalan, saya pikir wajar. Saya pun pernah terpikirkan hal yang sama ketika menonton reality show tentang pencarian orang yang sudah bertahun-tahun menghilang dan dengan ajaib bisa ditemukan HANYA DALAM WAKTU 4-5 HARI. Dan reaksi dari pihak reality show terkait pun wajar ya, memberikan konfirmasi dan undangan untuk menyaksikan langsung. Sampai sini, obrolan mereka masih aman.

Mbak Ibeth menolak tawaran dari admin akun reality show tersebut, karena mba Ibeth sendiri sudah ribet dengan pekerjaannya. Dengan mengatakan NO THANKS, mbak ibeth sudah berpikir, berbalasan twitnya cukup sampai disitu. Tapi ternyata ……….

Mba Ibeth 4

Okey, konon katanya sambil santai 😀 Mari kita simak kelanjutannya …

(oiya, skrinsyut yg ini, bacanya dari bawah ke atas ya)

mba ibeth 5

Berikut ini skrinsyut 2 twit dari admin reality show tadi yang sempat diritwit mbak ibeth (Oiya, bacanya juga dari bawah ya?)

mb Ibeth 6

Nah! Saya masuknya dalam kasus ini adalah seperti berikut, dan tidak memensyen yang bersangkutan karena memang niatnya cuma menanyakan kejadian yang membuat mbak ibeth geli sendiri

mba ibeth 7

mba ibeth 8

Sampai disini kami kira kasus sudah selesai, beres! Dan kami berdua tidak melibatkan si akun tadi, sampai beberapa menit kemudian …. si admin ikut “menyambar” kami di twitnya

mba ibeth 9

OK, sampai disini mari kita catat twit mba Ibeth tentang “GA LEGOWO BANGET”

Mendapat mensyen seperti itu, saya pun ikut bertanya pada si admin (SAYA CUMA BERTANYA YA? TIDAK MENGKRITIK APALAGI MENCELA)

mba ibeth 10

Dan pertanyaan kami tadi tidak dijawab oleh admin reality show ini …

Saya dan mba Ibeth menganggap perbincangan super mbulet ini sudah selesai dan saya pun hampir lupa, sampai mbak Ibeth memensyen dan memberitahukan bahwa dia menemukan twit nomensyen dari si admin yang ditujuan untuk kami.

mba ibeth 11

Mungkin si admin mengira, saya dan Mba Ibeth sama2 berkerudung. Mungkin 🙂 Fyi, mba Ibeth ini seorang non muslim jadi dia tidak berkerudung dong? 😀 Dan mbak Ibeth pun merasa tidak enak karena sudah melibatkan saya.

mbaibeth 2

****************************************************************************************

OKEY, saya jadi mendadak penasaran dengan pelajaran PPKn dan agama yang mungkin terlupakan. Setelah dipikir-pikir, saya tidak menemukan korelasi antara pertanyaan/kritikan dengan kadar keimanan seseorang? Ada yang bisa membantu menjelaskannya? 😀

Oiya, sekali lagi saya tidak bermasalah dengan acaranya Party Kejutan ini, mba Ibeth pun sepertinya demikian. Kami hanya berbeda pendapat dengan admin akun twitternya yang sedang bertugas saat itu.

Harusnya setiap pekerja kreatif yang membuat program/tayangan yang dilihat orang banyak bisa membuka mata, hati, pikiran, serta wacana terhadap opini/pendapat dari penontonnya, baik itu pendapat positif maupun yang bernada negatif. Pendapat positif dijadikan pemacu semangat, pendapat negatif dijadikan sebagai masukan untuk membuat program/tayangan menjadi lebih bagus lagi.

Ketika mengelola akun komersial yang bertujuan untuk mempromosikan program supaya lebih dikenal dan lebih dekat dengan penontonnya, bukankah sebaiknya admin akun tersebut bisa bersikap profesional? Seharusnya si admin juga tahu, bahwa dengan menggarap suatu program dan meneruskannya pada akun jejaring sosial media, dia akan menerima banyak respon baik respon positif maupun respon negatif. Alangkah baiknya semua respon tersebut ditanggapi secara positif. Jika dan hanya jika si admin sudah terlanjur emosi dan sangat sebal dengan komentar bernada negatif dan ingin menumpahkan emosinya, kenapa tidak menggunakan akun pribadi si admin? Kenapa pula harus menggunakan akun sosial media program televisi tersebut?

Untuk admin @partykejutan yang sedang bertugas saat itu (saya tidak tahu akun ini memiliki berapa admin), jika ada kata-kata yang tidak berkenan dihati, saya mohon maaf ya 😀 Mungkin kadar keimanan saya tidak setebal dan setinggi anda, mungkin saja ibadah anda jauh lebih sempurna dari saya, mungkin saja pemahaman keagamaan anda jauh lebih baik daripada pemahaman saya pada agama, tetapi akhirnya saya tahu ketidaksempurnaan saya dalam agama, karena itu saya akan belajar lagi, dimulai dari memaafkan anda 😀 Dan sekarang saya jadi lebih tahu dan belajar untuk tidak menghakimi dengan menghina keimanan seseorang. Untuk admin @partykejutan yang sedang bertugas saat itu (yang menulis twit diatas), saya ucapkan terimakasih. Dan semoga anda pun bisa belajar untuk lebih dewasa lagi dalam bersikap dan menghadapi kritikan.

Salam 😀

*****************************************************************************************************

UPDATE! 

Siang ini, akun @partykejutan sudah meminta maaf secara terbuka melalui akunnya pada mbak Ibeth 🙂

90
Semoga kejadian kemarin bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua 🙂

39 thoughts on “Tentang Kritikan dan Keimanan

  1. Sebagai manusia, kecenderungannya adalah bersifat defensif ketika dikritik. . dan tidak semua orang bisa menerima kritik secara bijaksana dan dewasa. Ketidakbijaksanaan dan ketidakdewasaan itu lah yang membuat seseorang mengeluarkan kata-kata yang malah keluar jalur ketika dikritik.

    Sebagai pihak yang waras… mari lah kita cukup mengalah saja kepada mereka… 😀

  2. Numpang komen yes. Tanpa bernaksud membela siapapun, itulah uniknya interaksi lewat twitter. 1. Sekali twit cuma muat 140 karakter,yang memaksa kita bicara pendek-pendek,yang rentan menimbulkan salah persepsi. Kritik Ibeth, misalnya, dibaca sebagai serangan oleh si partykejutan karena langsung to the point. Jadi kesannya sekonyong-konyong.
    2. Walau ngga dimensyen, tapi akun twitter yang ngga di-lock masih bisa diintip oleh orang lain. Well, soal ngintip ngga ngintip itu emang ada etikaya, tapi sebagai manungso ya si admin pasti penasaran lah ngeliat apakah si “penyerang”nya masih ngomongin dia atau ngga. Kalau ngga mau memperpanjang masalah, kitanya juga sebaiknya ngga meneruskan membahas di twitter. Toh emang twitter “ruang publik” kan ya? Mojok aja harusnya. Di YM, misalnya. Hehe…
    3. Jelas ngga ada hubungannya lah pertanyaan, kritikan, dengan tingkat keimanan. Si akunnya panas hati tuh, jadi nulis sa’penak udel tonggone dewe.
    4. Dan ya memang benar, harusnya kalau masih mau memperpanjang dia pake akunnya sendiri. Nulis komen pake akun acara itu mencemarkan reputasi acaranya.
    Well,sekali lagi, ngga bermaksud belain siapa-siapa, cuma berusaha melihat dari dua sisi. Si admin itu toh manusia juga, yang dilalah sewotan, panasan, dan “sangat beriman”. Sekian dan terima makanan kecil. :p

    1. interaksi via twitter itu memang unik dan menjadi fenomena baru ya? Oiya, aku merespon komentarmu juga pakai nomor ya Fret 😀
      1. Nah! makanya aku menulis postingan ini untuk menindaklanjuti Fret, karena bisa lebih detail dan gamblang. Semoga pihak yg bersangkutan bisa paham.
      2. Nah (lagi)! intip mengintip TL untuk mengetahui apa yg dibicarakan orang lain, wajar! Twitter memang ruang publik dan siapa saja bs mengaksesnya selama tidak dikunci. Dan si admin memang manusia biasa sama sepertiku, tapi kurasa dia juga manusia yang sudah dewasa. Jadi harusnya tahu batasan kapan harus menggunakan akun pribadi, kapan harus menggunakan akun resmi pekerjaannya. Kupikir, akun itu dibuat dengan visi misi yang baik, bukan mencela apalagi memaki akun lain 😀
      3. Tuh kan? gak ada hubungannya kan? hehhehhee
      4. Idem spt respon nomor 2

      Baidewei, tengkyuu Ya fret sudah memberi masukan dari 2 sisi

  3. hihiiiiiihihii.. padahal tanpa saya hrs komen ‘rekayasa’ publik jg dah tau kalau itu rekayasa.. bahkan temen suami saya seorang mantan kameramen acara reality show salah satu tv swasta jg blak2an bilang smua itu rekayasa..

    Trigger dari semua conversation di atas adalah ‘beliau (tim kreatif??) itu ga terima waktu twitnya ttg ajakannya mengajak ikut liat syutingnya saya jawab dgn “no thanks’ Itupun pakai smiley loh.. sampe kira2 besoknya or 2 hari kemudian mreka mention saya lagi dgn merespon ndgn nada kurang enak

    nice writing, sista! 😀

    1. Komentar mba Ibeth yang kemarin itu kan semacam “FENOMENA GUNUNG ES” yang muncul ke permukaan. Yang muncul ke permukaan jauh lebih sedikit daripada yang mengkritik diam-diam. Seharusnya si admin berterimakasih mbak karena dirimu sudah mau repot2 memensyen akun itu.
      Dan sebaiknya si admin ini kudu belajar ke bu Chyltamia Irawan tentang bagaimana menghadapi konsumen, dalam hal ini penonton program acaranya.

      Tengkyuuu ya mbak, petualangan kita kmrn seru ya #Eh
      Baru kali ini di-twitwar-in orang di twitter. Hehehhe

      1. hahah seru abis.. ga nyangka dah bakal sepanjang itu 😀
        padahal soal kritik mengkritik ya dah ada dr jaman dulu which is orang menyampaikan kritik/komplennya via Surat Kabar. Bedaya sekarang teknologi dah semakin canggih..apa-apa hanya sejauh “mention & tag”
        Kalau ga siap dengan kritikan/cletukan negatif ya jangan bikin akun komersial, karena sooner or later, biarpun mungkin bukan aku yg nyeletuk, hal2 seperti itu pasti bakal muncul..

        Dan lagi, akun socmed apapun itu kan bisa di setting.. ya bijak-bijaklah (baca=pintar-pintarlah) mengatur akun privacy-nya..(seperti yg sudah mereka lakukan sekarang.. good then hehe..)

        bukan begitu yes, jeng Ruz? 😀

        Btw, Chyltamia Irawan iku sopo, (gak gaholl neh) bocoran donk.. kan akuhh mau belajar juga cara melayani/menghadapi konsumen yang baik 😀

      2. Aku juga gak nyangka mbak ….
        Akhirnya tahu bagaimana kekuatan media online jaman sekarang.
        Iya, ada pergeseran kebutuhan dan penggunaan media dalam berinteraksi ya mba? 😀
        Eh bu Chyltamia Irawan itu …. gugling dong aaaahhh 😉

    1. mrk takut lahan nyari makan mrk dibongkar abis2an. maklum mrk males untuk bener2 bikin set yg detil dengan skenario yg jg detil biar ga kentara.

    2. itulah mas Ari …
      Kalau sensinya pake akun pribadi, itu manusiawi ya, kan itu juga akun pribadi.
      Tapi kalau sensinya pake akun kerjaan/perusahaan/program yg notabene akun itu dibuat untuk menyebar informasi acara dan berinteraksi dengan penontonnya, itu sih gak profesional namanya 😀 #Eh

    1. Tidak semua mas *membela(h) diri* 😀
      Eh kalau labil ples sensi pake akun pribadi, menurutku itu sah-sah saja toh itu akun-akunnya dia.
      Tapi kalau sensi ples labilnya pake akun resmi kerjaan/persahaan/program TV dimana bukan cuma dia saja yg kerja disana, itu bisa bahaya bahaya mas 🙂
      Pepatah bilang, nila setitik rusak susu sebelanga. Begitulah

    1. Tidak semua penonton akan berkomentar positif, dan juga tidak semua penonton berkomentar negatif kan mbak? Pasti ada pro-kontra tentang suatu tayangan, termasuk program televisi yang ini.
      Harusnya si admin ini bisa mempersiapkan diri dan hati untuk menerima berbagai respon dari penontonnya

  4. untuk nyari org ilank kek di tv itu ya … settingan abislah. gue pernah terlibat aktif di tracing and mailing service dan nyari org itu spt nyari jarum di tumpukan jerami. …

    1. Naaahhhhh!!!
      Mencari orang yang sebelumnya tidak kita tahu, dan pada akhirnya berhasil menemukan orang yang bahkan sudah puluhan tahun menghilang tanpa jejak hanya dalam waktu kurang dari seminggu, itu semacam too good to be true ya mbak #Eh

  5. Capwee dweee..
    Jelas dia tidak siap dgn ragam tanggapan dr penontonnya.
    Tapi ada sisi positifnya sih (#mekso positif). Kalo semua tanggapan begatif dr penonton/ pembaca dianggap celaan, selanjutnya saya akan jauh lebih hati2 dlm memberikan tanggapan ;p

    1. iya nih, yang jelas si admin (bukan kru program ini ya? hanya si admin yang itu aja) tidak siap menerima ragam respon dari penontonnya, padahal kan respon itu bentuknya macem2. Dan harusnya dia berterimakasih karena ada yang mau memberi respon untuk programnya, daripada yang diam2 mengganti channel dan menganggap program itu tidak ada #Eh

    1. Aku baru tahu 3 hari yang lalu dan aku BELUM PERNAH MENONTONNYA SAMA SEKALI, jadi aku TIDAK MEMPERMASALAHKAN PROGRAM/ACARAnya. Yang membuatku gemas itu ya ADMIN YANG SEDANG BERTUGAS menggawangi akun twitter program ini 2 hari lalu. Kok bisa-bisanya dia mengomentari tentang kerudung dan keimanan hanya karena menerima kritikan. Itu termasuk SARA kan?

  6. Ya, kami menyadari bhw saat itu kami sangat emosional melihat twitt @ibhetz. Terima kasih masbro, apa yg anda tulis ini menyadari kami semua. Bahkan tidak hanya kami mungkin pembuat reality lain. Kami memang hanya manusia biasa yg tak luput dari ego, emosi, dan canda serta tawa. Sekali lagi kami sangat berterima kasih atas kritikan yg diberikan. Semoga ‘Party Kejutan’ bisa sukses menjadi tontonan pemirsa. Thanks ya….

    1. Terimakasih untuk pihak Party kejutan yang sudah bersedia mampir ke postingan ini 🙂
      Semoga peristiwa kemarin bisa menjadi pelajaran untuk kita semua agar bisa lebih baik lagi dalam berkomunikasi sehingga maksud dan tujuan bisa tersampaikan dengan baik.
      Saya dan mbak Ibeth berharap, kritikan yang dilontarkan kemarin bisa menjadi masukan (dan bukan sandungan) untuk program Party Kejutan supaya semakin baik kedepannya. Dan semoga lain kali bisa lebih bijak lagi dalam menanggapi kritikan penonton tanpa menyinggung SARA 🙂

      Selamat Berkarya, dan good luck!

      1. iya betul mas Ari 🙂
        Party Kejutan patut diapresiasi karena sudah berbesar hati dan bersedia mampir dan menyelesaikan “selisih paham” dengan baik sehingga tidak berlarut dan kasus ditutup

    2. Sama-sama, semoga menjadi pembelajaran buat kita semua. Klarifikasi sebentar ya (ga maksud mengurai lagi), sjk saya blang NO THANKS, sebetulnya sy dah ga kepikiran sm skali lho.sampai akhirnya besoknya sy di mention dgn nada kurang enak, dari situ sy sdikit agak terusik (baca=kesal), makanya keluarlah rentetan review episode itu, dst dst.

      Cm mengingatkan aja bahwa orang2 ‘menyebalkan’ sprti saya ini banyak sekali diluaran sana 😀 dan kita sebagai pemirsa/penikmat acara televisi sebetulnya punya kebebasan lebih luas untuk mengkritik, atau bahkan mencela (kalau mau). Lain halnya si penyedia jasa/entertainment, lebih terbatas dlm memberikan komen/respon terhadap kritikan yg masuk (mau tidak mau itu hehhe) karena setiap respon yg kurang bijak/sedap,apalagi menyinggung ke SARA. (saya ini ga berkerudung lho hehehhe) pasti akan membawa dampak buruknya ke nama/label (in this case) Stasiun TV swasta itu itu sendiri

      Anyway, Terima kasih juga buat pihak Party Kejutan yang sudah sudi mampir ke Blognya mbak Dian dan mengklarifikasi semua,kami sangat menghargai 🙂 Semoga menjadi pecutan untuk berkarya lebih baik lagi yes!

      Keep up the good work n keep Rockin’ ! 😀

    1. Semoga lain kali tidak terulang lagi 😀 Biar menjadi pelajaran juga buat adminnya agar lebih bijak dalam menanggapi respon penonton yang tidak selalu positif, dan pelajaran juga buat penontonnya untuk lebih kritis lagi *imbang*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s