Melangkah

“Huh!” Silvy terlihat dongkol ketika masuk kamar Dhaty tanpa permisi dan langsung menghempaskan tubuhnya tempat tidur.

“Ada apa sih Sil?” perhatian Dhaty pun teralih dari laporan penelitiannya ke Silvy

“Aku mau curhaaaattttttttttt” Silvi pun duduk memeluk bantal sambil memasang wajah memelas

“Hoallaaahhh. Ono opo to nduk? kok sampe sebel begitu” Dhaty pun berpindah duduk ke tempat tidur, didepan silvy, memeluk guling.

“Aku lagi sebel sama Wira! Dia mulai jaga jarak lagi kayaknya, padahal aku sudah mulai nyaman dengan kondisi hubungan kami yang sekarang. Dia bosen apa ya dari bangun tidur sampe mau tidur aku tanya mulu..? lhoh tapi kan dia yang nyapa duluan. Aku cuma menjaga obrolan. Nampaknya dia mikir aku mulai ngerasa “naksir” lagi” Silvy terlihat berapi-api

Dhaty masih tenang menyimak cerita Silvy yang sepertinya belum akan selesai sambil sekali tempo bertanya sepatah dua patah kata.

“Padahal cuma biasa saja. 3 hr ini dia benar-benar ngurangin ngobrol…Kami sempat akrab lagi Dhaaaaa. kayaknya kemarin dia sedang bermasalah sama ceweknya, jadi berakrab-akrab ria padaku” Cerita Silvy terhenti ketika dia menarik nafas panjang.

“Tapi dia gak komentar apa-apa kan tentang jaga jarak dan pendapat dia tentang kebiasaanmu bertanya?” Dhaty pun akhirnya menimpali cerita Silvy dengan pertanyaan yang lumayan panjang.

“Enggak Dha, tapi dia langsung mengurangi ngobrol. Mungkin sekarang dia sudah baikan dengan ceweknya jadi gak memerlukanku lagi” Silvy terlihat agak sedih ketika mengucapkan kalimat terakhirnya tadi.

Dhaty pun memeluk Silvy yang mulai berkaca-kaca.

“Dha, aku nggak ngerti deh maunya Wira itu apa! Kalau dia ngerasa tidak nyaman denganku, lalu kenapa dia musti deket-deket lagi sih! Aku sudah berusaha menempatkan diri menjadi temannya, tidak kepikiran lebih dari itu. Kalau aku cerita yang macem-macem, itu karena aku cuma pengen didengerin aja Dha, gak ada maksud deket-deketin dia lagi seperti dulu!” Silvy mulai sesenggukan.

“Aku capek sama Wira Dha” tangis Silvy pun pecah

Dan malam itu Silvy ketiduran di kamar Dhaty, memeluk bantal yang ujungnya sudah basah.

………

7 hari yang lalu …

*cuitcuitcuit*

Wira : “Pagiiiiii, jangan telat ke kantor ya”

Silvy : “Apaan sih? Sok care  deeeh :p”

Wira : “Hahahaha, cuma mau bilang, laporan yang kemarin itu jam 8 musti sudah disetor ke Pak Adit”

Silvy : “iya iyaaa”

Wira : “Dandan cantik ya hari ini”

Silvy : “centil!”

Wira : “Cuma ngingetin aja, kan hari ini kamu jatahnya presentasi ke Bappeda Keva, siapa tahu dapet gebetan disana”

Silvy : “maleeesss”

Wira memang pernah menempati posisi istimewa di hati Silvy, tetapi sekarang kondisi sudah berubah, mereka “hanya” teman sekantor, namun kedekatan mereka melebihi kedekatan teman sekantor pada umumnya. Sapaan ringan Wira tiap pagi masih saja memberikan efek hangat di hati Silvy, walaupun sebagian besar percakapan mereka sering berakhir dengan perdebatan kecil.

Wira memang sudah memperoleh pengganti Silvy, tetapi sikap Wira pada Silvy tidak berubah, masih hangat seperti dulu. Inilah yang membuat Silvy susah melupakan kenangannya bersama Wira. Terkadang Silvy mempertanyakan sikap Wira yang terkadang sangat perhatian dan kali lain bisa jadi sangat cuek. Disaat yang sama, Silvy juga tahu bahwa antara dia dan Wira sudah berakhir. Tapi … tetap saja Silvy menikmati setiap waktu mengobrol dengan Wira, dimanapun.

6 Hari yang lalu …

Wira : “Soreeeee. Masih dikantor Sil? Aku masih di lapangan nih”

Silvy : “Iya, pak Adit mendadak dateng nanyain progress report  dan musti beres hari ini. Kan kelabakan Wiiiiir”

Wira : “bukannya kemarin sudah diberesin?”

Silvy : “kemarin yang Lapdal, ini progress report proyek yang satunya”

Wira : “makanya jangan ngrumpi mulu kalo di kantor :p”

Silvy : “makanya jangan ganggu-ganggu orang yang lagi sibuk ngantor”

Wira : “tapi kamu suka kan diganggu seperti sekarang? ;)”

Silvy : “ccciiiihhhhhh”

5 hari yang lalu …

Wira : “Sudah makan Sil? Aku lagi beli batagor nih di Diponegoro. Enaaaaakkkk”

Silvy : “Ngapain nanya-nanya?”

Wira : “Enak Sil, porsinya banyaaaakkk”

Silvy : “Gak usah pamer deh!”

Wira : “Kamu mau? kubungkusin nanti”

Silvy : “Maaauuuuuu”

Wira : “Tapi bayar ya :p”

Silvy : “Gak ikhlas banget sih nawarinnya!”

4 hari yang lalu …

Wira : “Sil …”

Silvy : “iya Wir”

Wira : “Besok ikut survey ke penangkaran penyu kan?”

Silvy : “heemmm … Belum tahu, ada meeting sama Pak Adit besok pagi. Mungkin sampai siang, mungkin juga sampe sore. Jadi belum tahu bisa ikut survey apa enggak”

Wira : “Ikutlah Sil”

Silvy : “Nila kan juga ikut, pasti kalian gak kekurangan tenaga besok”

Wira : “Tapi aku pengennya kamu juga ikut Sil”

Silvy : “Kamu kenapa Wir?”

Silvy : “Wir? are you there?

Silvy : “Wir …”

3 hari yang lalu …

Wira : “Gak asyik ah, gak mau ikut survey”

Silvy : “tadi masih meeting”

Wira : “Gak asyik!”

Silvy : “ciyeeehh, ngambeekkk”

Wira : “Sil, ada game  seru nih”

Silvy : “game apa Wir? bisa buat HP gak?”

Wira : “bisa”

Silvy : “namanya game apa? download aplikasinya dimana?”

*tidak ada balasan dari Wira*

Silvy : “Wir?”

“Anak ini mesti ngilang kalo diajak ngobrol”, runtuk Silvy dalam hati

2 hari yang lalu …

Silvy : “Wir, kemarin kok gak balas pesanku?”

*berselang lama*

Wira : “Lagi dines luar, sinyal jelek”

Silvy : “O, ya sudah. Kukira kenapa-kenapa”

Wira :🙂

Silvy : “kamu balik kantor kapan?”

*Tidak ada balasan dari Wira*

Silvy : “Wiirrraaaaaaaaa”

Ngilang lagi -__-”

1 hari yang lalu …

Wira : “Sil”

Silvy : “Ya Wir?”

Wira : “Aku hari ini survey lagi. Tadi pagi nyempetin ke kantor nganter Lapdal buat pak Adit, kutaruh mejamu. Titip ya”

Silvy : “OK”

Wira : “Jangan nyontek laporanku :p”

Silvy : “Yeeeee, enak aja! Lapdalku sudah beres 2 hari lalu”

Wira : “good girl

Silvy : “Kamu survey sama siapa aja Wir? Pake nginep gak?”

Wira : “Rame2, gak nginep”

Silvy : “Enak ya kamu hari ini dapet jadwal lapangan, jadi gak harus bertemu sama bapak-bapak dari Dinas X yang itu. Kamu naik apa surveynya Wir? Pake mobil kantor?

*Tidak ada balasan dari Wira*

Silvy : “Wir?”

12 jam kemudian …

Silvy : “kamu sudah sampe rumah Wir?”

Silvy : “Gimana surveynya? lancar?”

Silvy : “Besok ngantor kan?”

*Tidak ada balasan dari Wira*

………

“Sil, bangun! Jam berapa iniiiiiii???”

Silvy masih tertidur memeluk bantal dan wajah sembab sisa menangis semalam masih jelas terlihat.

“Sssiiiiilllllllllllll” teriak Dhaty

“eeerrhhhh, apa sih Dha? Berisik tauk!” Silvy pun menggeliat dan memberi reaksi sambil malas

“Sil, banguuuun! Ada Wira tuh didepan, tauk deh mo ngomongin apa sama kamu”Dhaty menarik bantal yang masih dipeluk Silvy

“Bo’ong ah! Ngapain juga si Wira pagi-pagi kesini?” sanggah Silvy

“yeee, hamdani hartoyo, dikandani kok ra percoyo! Dia ngerasa kali kalo semalam kamu habis nangis gara-gara dia, makanya pagi-pagi dia langsung kesini” Buuukkkk!!! Bantal yang dilempar Silvy tepat mengenai punggung Dhaty.

Silvy mengecek handphone-nya dan benar, ada SMS dari Wira yang memberi tahu dia sudah ada di depan. Buru-buru Silvy mandi dan berganti pakaian seadanya, menemui Wira yang sudah menunggu di ruang tamu kosan.

“Dha, udah gak keliatan sembab kan?” Silvy mampir mematut diri di depan kaca kamar Dhaty sebentar sebelum menemui Wira

………

“Ngapain pagi-pagi sudah kesini Wir? Ganggu orang tidur saja!” Silvy memilih kursi dihadapan Wira

“Mo ngajakin survey. Pandu, Nila, Fajar, sama anak-anak yang lain lagi gak bisa, kerjaan mereka belum kelar” jawab Wira sambil menghisap rokoknya

“Trus kenapa ngajak aku? kamu kira pekerjaanku sudah kelar? belum Wir, masih banyak yang harus revisi, dan besok sudah harus diajukan ke Pak Adit!” sengit Silvy

“Ayolah Sil, nanti pulang survey kubantu bereskan laporanmu yang untuk Pak Adit” Wira pun memelas

“Gak mau!” Ya, Silvy memang semalam sudah berjanji tidak mau lemah lagi didepan Wira

“Sil, sebenernya 3 hari ini ……….” perkataan Wira menggantung, terlihat dia sedang bingung memulai obrolan

“heemmmm” Silvy memberikan reaksi sekedarnya sambil membaca timeline yang cukup ramai pagi itu

“Maaf Sil, akhir-akhir ini sering mengganggumu. Aku butuh seseorang yang bisa diajak sharing sekaligus becanda. Pekerjaan akhir-akhir ini bener-bener berat, belum lagi deadline yang berbarengan, urusan kantor yang belum beres, laporan yang belum selesai, dan Nina yang ngambek. Semuanya kerasa berat Sil” curhat Wira

“lalu? hubungannya denganku?” silvi masih serius menatap layar handphone-nya

“Aku menemukan apa yang aku butuhin di kamu Sil. Kupikir cuma kamu yang bisa ngertiin kondisiku sekarang. Aku nyaman mengobrol dan mendiskusikan banyak hal sama kamu. Tapi Nina tidak suka dengan kedekatan kita, padahal aku  sudah jelasin ke dia kalau hubungan kita sekarang hanya sebatas teman kerja. 3 hari lalu kami bertengkar hebat. Aku butuh waktu menenangkan diri dan berpikir tentang banyak hal” lanjut Wira

“Lalu?”

“Berbicara denganmu adalah salah satu cara untuk membuatku tetap waras saat kondisi sekarang Sil. Aku yakin kamu bakalan ngerti kondisiku. Aku berterimakasih sekali karena kamu selalu menjadi teman yang menyenangkan untuk berbincang. Aku juga tidak ingin menyakitimu Sil” Wira menunduk

“maksudnya?” Pandangan Silvy teralih dari layar handphone ke Wira

“Aku tidak ingin kedekatan kita akhir-akhir ini seperti memberi harapan padamu kalau kita akan bisa seperti dulu lagi. Kamu tahu kan, aku dan Nina sudah berkomitmen untuk hubungan yang lebih serius?”

“Wir! Gini ya, aku juga tahu itu. Gak pernah terpikir menjadi pihak ketiga dalam hubungan kalian! Kalau aku banyak berbincang, bertanya, dan membicarakan banyak hal denganmu, itu karena aku menganggapmu teman baikku, tidak lebih! Kita memang pernah punya masa lalu berdua, tapi itu sudah lewat Wir. Sekarang kita punya kehidupan masing-masing”.

“Tapi kita tetap bisa berteman kan? “Lanjut Silvy

“Aku harap, Nina cukup bijak tidak membatasimu dalam berteman” Silvy pun akhirnya memberi reaksi cukup panjang pada Wira.

Wira terlihat menarik nafas lega.

“jadi, sekarang mau menemaniku survey? tanya Wira sambil memasang wajah jahilnya, wajah yang pernah membuat Silvy jatuh hati.

“Gak mau” Silvy kembali membaca timeline di handpohone-nya

“Kamu tega Sil ngelihat temannya repot survey sendiri?” keluh Wira

“Dan kamu juga tega! gangguin teman yang lagi banyak kerjaan buat nemenin kamu survey! Dah ah Wir, kamu nyari yang lain aja. Aku mau siap-siap berangkat kerja” seloroh Silvy sambil meninggalkan ruangan.

“Kuanter ke kantor ya”

“Gak usah”

………

Sudah 10 menit Silvy berdiri di halte dan belum satu pun angkot yang lewat padahal jam masuk kantornya tinggal 15 menit lagi. Sedikit menyesal karena tadi menolak tawaran Wira diantar sampai kantor, tapi Silvy mantap dengan keputusannya untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa melibatkan Wira.

Cukup Sudah!

Bagi Silvy cukup apa yang sudah lakukan untuk Wira, tidak ingin lagi niat baiknya disalah artikan. Silvy ingin sekali hubungan mereka bisa seperti hubungan dengan teman-teman yang lain, tanpa melibatkan perasaan pribadi. Wira memang pernah memiliki posisi yang istimewa di masa lalu Silvy, tapi sekarang mereka sudah memiliki kehidupannya masing-masing.

Wira yang sekarang bukan lagi Wira-nya yang dulu, sadar posisinya sudah tergantikan oleh wanita lain. Silvy sudah memutuskan untuk tidak lagi lemah pada Wira, dia mau mendekat atau menjauh, tidak akan ada pengaruhnya untuk Silvy. Ya, keputusan memang harus diambil!

“Angkot paaaakkkk!!!’ Akhirnya Silvy mendapatkan angkot yang sejurusan dengan kantornya

Sambil memasang earphone Silvy mengambil tempat duduk di bagian belakang angkot, dan menekan tombol play MP3. Pelan, terdengar suara Raisa menemani perjalanan Silvy ke kantor.

Pernah ku terhanyut dalam sepi, namun kini kuberani melangkah pasti tanpa dirimu………oh ku tak sendiri berjalan sinar mentari menemani tiada henti. Dan tak kusesali tlah kulupakan dirimu, tak mengapa aku melangkah. Sendiri dapat kujalani

10 thoughts on “Melangkah

  1. it seems personal experience nih… apel kristal berasal dari pohon kristal…

    Ada saatnya sesuatu itu lebih baik dimasukin ke kotak, dikunci, dan disimpan di pojok.. And now is the right time to do that…🙂

    1. Oouuucchhhh!!! ini memang personal experience mba, tapi bukan experience-ku. Dan cerita ini terinspirasi dari history chat hihihihihi *Ahhssyyeeekkk, bisa mengiring pembaca berpikir bahwa ini pengalaman pribadiku*

      Lain kali, aku bongkar2 history chat denganmu aaaahhhh, siapa tahu bisa jadi bahan buat belajar nulis fiksi *Dihantam*

  2. *akhirnya tergoda mbuka postingan ini* Respon:
    1. Ternyata Dian bisa menghayal juga. (eh tapi ga benar-benar menghayal karena hasil nyontek history chat ya?)
    2. Kok aku ngerasa familiar dengan cerita ini ya? Apa perasaanku aja?

    1. Ah, itu hanya perasaan mbak fretty ajaaaa🙂 Tapi ini bukan kisahkuuuu
      *nyonteknya cm bagian percakapam aja kooookkkk* (Lah? postingan ini isnya percakapan semua =))

    1. Wkkakakkakakkakakaa wkkakakkakkakakaka wkkakakkakakaa =))

      Sepertinya boleh juga dicoba saat move on bertemu jalan buntu. Lebih baik memutar arah lalu move in & hancurkan!
      Wkakakakakkakkakaaa =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s