Apel Kristal

Teman, pernahkah aku bercerita tentang Apel kristal yang sudah mencuri hatiku sejak beberapa tahun yang lalu? Oh, ada beberapa yang sudah tahu ceritanya bagaimana perjuanganku mendapatkan dan bagaimana usahaku memperolehnya. Bolehkah kali ini aku bercerita lagi tentang Apel kristal ini? Aku harap, kalian tidak bosan dengan cerita ini.

Beberapa tahun terakhir aku memiliki kebiasaan mengunjungi sebuah toko, namanya unik dan suasananya menyenangkan. Toko itu menjual mainan dengan berbagai macam bentuk dan pilihan harganya. Terhitung sering aku mengunjungi toko itu untuk membeli satu atau dua mainan, lalu pulang. Setiap masuk ke toko itu, selalu kusempatkan berkeliling toko mencuci mata. Aku hafal sekali bagaimana penempatan barang-barang disana sampai dengan klasifikasinya. Oh! Aku memang pemerhati detail.

Saat itu tanggal 25 April, seperti biasa aku mengunjungi toko unik dan bersuasana menyenangkan itu. Aku bersama temanku yang memiliki hobi dan ketertarikan yang sama terhadap mainan memutuskan untuk mengunjungi toko itu, mencari barang yang kami cari. Kami berpisah ketika memasuki toko, temanku ke sebelah sana dan aku ke sebelah sini. Tidak sengaja aku melewati salah satu rak diujung ruangan, bagian yang tidak terlalu padat pembeli.

#KLIK

Pandanganku terpaku pada sebuah patung kristal, mungkin satu-satunya patung kristal yang ada di toko itu. Bentuknya biasa, berupa buah Apel yang tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil tetapi dia terlihat sangat menarik, jauh lebih menarik daripada mainan lainnya didalam toko itu. Penasaran, akhirnya kuambillah patung kristal itu untuk melihat price tag-nya. Tanganku gemetar. Harga itu diluar kemampuanku! Kuletakkan lagi Apel kristal itu ditempat semula lalu menghampiri si teman yang ternyata sedang membayar belanjaannya. Kami pulang.

Teman, sesampai di rumah aku sangat gelisah. Jenis kegelisahan yang berbeda dari biasanya dan tingkat kegelisahannya melebihi kegelisahan saat aku akan presentasi studio mewakili tim Drainaseku. Apel kristal itu telah benar-benar mencuri hatiku! Dan malam itu, aku agak sulit tidur. Lalu, aku pun memikirkan cara untuk mendapatkannya. Sedikit nekat, karena sudah jelas harga Apel kristal itu diluar kemampuanku. Prinsipku :  tidak mudah bukan  berarti tidak bisa. Ya, lalu aku pun memutar otak memikirkan cara mendapatkannya.

Aku tidak bercerita tentang kegelisahanku ini pada teman-temanku. Mereka hanya tahu, aku tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya.

Aku benar-benar mengerahkan usahaku untuk mendapatkan Apel kristal itu, mulai dari setiap hari melewati toko itu untuk memastikan bahwa Apel kristal itu masih berada ditempatnya sampai dengan menghitung setiap pertambahan tabungan yang telah berhasil kukumpulkan untuk membawanya pulang.

Dihari keempat setelah pertemuan pertamaku dengan Apel kristal, akhirnya Apel kristal itu berhasil kumiliki. Tentu saja aku sangat senang karena usahaku berhasil dan Apel kristal sudah berada ditanganku.

Sesampai dikamar, Apel kristal itu kutempatkan di sudut favoritku, sudut yang paling sering aku kunjungi untuk sekedar membaca buku, mendengarkan musik, atau mengerjakan beberapa pekerjaan. Bagiku, sudut itu sekarang menjadi semakin menyenangkan karena kehadiran Apel kristal yang akan selalu disana menemaniku menikmati setiap waktu berada di sudut ruangan itu.

Setiap masuk kamar, Apel kristal itulah yang kutuju. Setiap bangun tidur, Apel kristal itulah yang ingin kulihat. Dan, setiap ada waktu luang, Apel kristal itulah yang akan menemaniku membaca buku atau bergunjing dengan temanku. Jangan salah sangka, Apel kristal itu bukan satu-satunya barang yang ada dikamarku, tetapi dia satu-satunya yang istimewa karena bagiku dia sangat berharga.

Aku menjaganya dengan sangat hati-hati, membersihkannya setiap hari untuk memastikan bahwa tidak ada butiran debu atau sarang laba-laba yang menempel disana. Aku selalu memastikan bahwa dia terlihat indah baik saat aku bersamanya atau saat aku meninggalkannya di kamar sendirian. Kadang, aku bisa merasa sangat kesal ketika ada laba-laba nekat hendak menggantungkan salah satu ujung sarangnya pada patung kristal ini, atau ketika ada tikus nakal yang mendadak berkeliaran disudut ruangan tempat si Apel kristal. Dia belum lama bersamaku, tetapi sudah berhasil mencuri sebagian besar perhatianku sampai kadang melupakan keberadaan benda lain di kamar.

Setelah beberapa tahun berlalu dan aku pun bertumbuh, Apel kristal itu tetap menjadi benda paling istimewa dikamarku. Dia tetap terlihat menarik, bahkan jauh lebih menarik daripada saat pertama kali aku membawanya pulang. Apel kristal ini sudah memberikan suasana berbeda pada kamarku sejak kedatangannya. Dan masih sama, Apel kristal inilah yang membuatku ingin segera pulang mengakhiri perjalanan panjangku diluar rumah, mengakhiri perbincangan seru dengan teman-temanku, dan kegiatan lainnya karena ingin segera pulang untuk memastikan Apel kristal ini baik-baik saja.

Tetapi, beberapa hari yang lalu hal yang tidak menyenangkan terjadi dikamarku, di sudut yang ada Apel kristalnya. Tanganku tidak sengaja menyenggol si Apel kristal dan dia pun jatuh terbanting, pecah menjadi beberapa bagian. Aku syok!!!!

Butuh waktu beberapa lama untuk mengembalikan kesadaran, lalu aku pun memungut pecahan itu satu persatu, mengumpulkannya dipiring plastik berwarna coklat tua. Aku bingung. Aku ingin memutar waktu agar kejadian itu tidak terjadi, dan itu tidak mungkin. Apel kristal itu sudah pecah. Tidak kurang akal, aku pun mencari lem. Aku menjadikan Apel kristal itu seperti puzzle yang butuh ditata ulang agar bisa terlihat bentuknya. Aku menempelkan beberapa bagiannya, menyambungkannya dengan lem.

Setelah semua bagian saling menempel dan membentuk buah Apel yang tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil, aku pun lega. Tapi ….. ada sesuatu yang berbeda dengan Apel kristalku. Dia masih Apel kristal tetapi dia tak lagi sama. Retakan-retakan itu terlihat sangat jelas dan bukan tidak mungkin sedikit sentuhan pada badan Apel kristal itu akan bisa membuatnya berantakan lagi. Aku tidak ingin Apel kristal itu pecah lagi. Ya, Apel kristal ini harus disimpan sebaik-baiknya.

Lalu, aku pun memutuskan untuk menaruhnya dalam kardus dan menyimpannya didalam lemari. Dengan sangat hati-hati dan berat hati, aku memindahkan Apel kristal itu kedalam kardus, menutupnya rapat, lalu menyimpannya didalam lemari. Keputusan itu harus kuambil.

Yeah, it’s not for me (anymore) … Begitu kataku pada diri sendiri untuk menenangkan hatiku.

Aku tidak lagi bisa menaruh Apel kristal di sudut favoritku, dia sudah tersimpan lemari. Sudut itu tak lagi sama untukku. Sedih? Pastinya. Perjuangan serta usahaku merawatnya sudah demikian hebatnya dan sekarang harus membiasakan diri dengan ketidakhadirannya didalam kamarku.

Aku tidak mau meratapinya berlama-lama, itu adalah satu fase dalam masa pertumbuhanku. Fase yang membuatku belajar banyak hal dan mengingatkan untuk lebih berhati-hati.

Lalu, aku ingat, aku masih punya bola berwarna-warni di sudut yang lain dalam kamarku. Aku mengambilnya dan berlari keluar memanggil teman-temanku untuk bermain bola bersama.

Ya, aku akan lebih sering bermain bola bersama teman-temanku. Bola itu memberikan rasa nyaman sekaligus menyenangkan untukku. Aku bisa melempar, menendang, memukul, dan mengayun bola sesukaku tanpa harus takut bola itu akan pecah seperti Apel kristalku. Kalaupun bola itu kempes, aku masih bisa memompanya kembali, dan voila! Dia akan kembali ke bentuk semulanya.

Satu lagi yang menyenangkan, aku tidak bermain sendiri. Ada teman-teman yang menemaniku bermain di halaman sambil saling mengumpan, mengejar, dan berebut bola. Dalam permainan itu tentu saja kami akan melakukan beberapa kesalahan, saling menegur, dan berdebat kecil tetapi pada akhirnya kami akan duduk bersama ditepi halaman, menceritakan ulang permainan tadi dengan santai dan menertawakan kelucuan-kelucuan perselisihan kami selama bermain, dan kami tetap baik-baik saja.

Si Apel kristal masih tetap tersimpan rapi didalam kardusnya didalam lemari. Aku tidak melupakannya, hanya saja semakin jarang menjenguknya karena kesibukanku yang meningkat serta ajakan teman yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Jika nanti aku merindukan Apel kristal, aku akan membuka lemari dan kardusnya, melihatnya dengan penuh perhatian dan memastikan dia tetap baik-baik saja disana tanpaku.

Dan sekarang aku pun semakin jarang mengunjungi toko unik bersuasana menyenangkan itu. Aku sudah tumbuh, berkembang, dan   kebutuhanku tak lagi sama, sedangkan toko unik dan bersuasana menyenangkan itu masih menyediakan jenis barang yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Sekali waktu aku tetap menyempatkan diri mampir di toko unik bersuasana menyenangkan ini untuk sekedar bernostalgia dengan suasananya yang pernah kuakrabi dan sesekali pulang dengan membawa belanjaan.

Toko unik bersuasana menyenangkan dan patung kristalnya telah menjadi bagian istimewa dalam hidupku dan akan tetap istimewa walaupun sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temanku dan berbelanja di toko-toko lain yang menyediakan kebutuhanku.

Kalau ada yang penasaran dengan patung kristalku, kesinilah dan akan kutunjukkan padamu betapa istimewanya dia walaupun penampilannya tak lagi sama.

………………………………

Foto diambil dari : sini 

22 thoughts on “Apel Kristal

  1. Hambok yakin, apel kristal ini hanya simbolisasi dari “heart” dan ketika ia jatuh, pecah dan remuk, maka itu adalah metafora dari hancurnya luluhnya si “heart” itu, dan ketika ia harus disimpan dan ditutup rapat dengan katup kardus, maka itu perumpamaan bahwa “heart” yang remuk itu sedang berusaha untuk diposisikan menjadi masa lalu dan hanya dibutuhkan untuk ditengok ketika ingin kembali menarik pelajaran dari peristiwa itu. tsaaaaah.

  2. Jadi ingat dulu ada drama Jepang yang judulnya Love Generation. Dalam setiap episodenya pasti ada adegan yang menyorot keberadaan apel kristal entah di ruangan, entah di jalan, atau dimana saja. Semoga kalau punya apel kristal lagi dijaga baik-baik ya. Jangan sampe pecah lagi

    1. Wah iya, aku inget dorama Love Generation & Takuya Kimura disana😀

      Kalau nanti punya Apel Kristal lagi, pasti akan dijaga sebaik-baiknya, ditempatkan ditempat yang terbaik biar gak mudah kesenggol dan pecah.

      Trimakasih mas, sudah mampir disini #blush

  3. Cerita apel kristal, seperti sebuah cerita tentang aku yang ketika itu sangat mendambakan seorang anak🙂 5 tahun menanti seorang anak kemungkinan besar akan membuat aku n bundo memperlakukan SuperAL seperti Apel Kristal. Tapi tidak, Super AL pun bukan bola. Walaupun sesekali kami memperlakukannya seperti Apel Kristal pun seperti Bola🙂 Nice Post!

    1. Halo cak, maturnuwun sudah mampir kemari ^_^

      hahahahhahhaa, ini postingan ga jelas dari jaman baheula. Sok-sokan nulis puitis, tapi jadinya malah begini.
      Semoga SuperAL menjadi anak yang cemerlang dan tahan banting yaaa cak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s