#TawuranKata Minggu ke-1 : BERBAGI

Sabtu lalu ketika ke Perpusda Tuban, saya menemukan koran Kompas yang tergeletak begitu saja di meja baca. Penasaran dengan artikel Rene CC di Ultimate-U hari itu, saya pun mengambil Kompas untuk dibaca dan berhenti di kolom SOSOK. Sabtu itu Kompas mengangkat Stanley Ferdinandus dengan program “Dua Jam untuk Maluku”.

Kolom SOSOK yang biasanya saya lewati begitu saja ketika membaca, Sabtu itu berhasil membuat saya “berhenti” cukup lama untuk menghabiskan cerita didalamnya. Ya, Stanley, pemuda Maluku berusia 29 tahun ini memang keren! Masa kecilnya dulu dia menjadi salah satu “korban” kerusuhan Maluku, dan sekarang dia aktif untuk menggerakkan peduli pendidikan terhadap pemuda Maluku, karena dia yakin dengan adanya pendidikan yang baik maka akan dapat memperbaiki kondisi Maluku pada masa mendatang.

Program yang digagasnya memang sederhana tetapi pada akhirnya memperoleh perhatian dan membuat perubahan di daerahnya. Konsep BERBAGI 2 JAM UNTUK MALUKU yaitu pada weekend mengumpulkan teman-temannya dari beragam latar belakang dan menyisihkan waktunya 2 jam saja untuk mengajar tanpa dibayar. Tidak mudah pada awalnya tetapi ternyata bisa berjalan dengan sangat baik, bahkan relawan pengajarnya sekarang sudah ada yang berasal dari luar Maluku dan jumlah siswa didiknya semakin meningkat. Sekarang sudah memiliki banyak kelas yang dibuka di berbagai daerah di Maluku.

Stanley berhasil menyadarkan tentang makna BERBAGI, lalu kemudian saya menutup lembar kolom tersebut dan berkaca.

Ternyata berbagi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, menyisihkan sebagian kecil waktu yang kita punya supaya dapat bermanfaat untuk sesama *angguk-angguk*

9 thoughts on “#TawuranKata Minggu ke-1 : BERBAGI

  1. Meluangkan itu yang kadang secara psikologis, walaupun Sebentar tapi terasa beban. Hambatan psikologis itu yang harus dieliminasi.

      1. mungkin hambatan yang dimaksud karena kita merasa tidak memperoleh manfaat dari kegiatan meluangkan.
        seperti para pengajar di Maluku tersebut, kalau dipikir secara logika dan berpikiran sempit kan sebetulnya mereka tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan memberikan pengjaran tersebut, secara mereka tidak dibayar.

      2. Iya, mereka meluangkan 2 jam waktunya yg seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat, tetapi justru mereka mau berepot2 mengajar di kelas – kelas itu mbak

      3. yup.. makanya kayak kata si Ulez.. hambatan psikologis itu lebih berat daripada hambatan fisik…
        bukankah di mana ada kemauan selalu ada jalan. tapi kalo mau aja gk.. gmana bisa nemu jalan…
        (eh bijak sekali aku pagi ini… #DikeplakDian)

  2. Ah…jadi ingat masa lalu di Yogya. Dulu begitu gampangnya melakukan itu di Yogya. Kenapa begitu pindah ke Bekasi jadi berat ya? *pertanyaanyangsampesekarangbelumjugaterjawab*

  3. Kemudahan yang ada karena ada yang berani memulai. Jembatan psikologis hambatan itu bisa dibangun oleh komunitas yang sama-sama ingin mencapai tujuan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s