#GembokTwitter

Pagi ini ketika membuka timeline twitter, tab mensyen saya penuh dengan mensyen dari Fretty yang juga di-cc ke Rinald dan Ryan. Oh ternyata Fretty sedang membahas mengenai #GembokTwitter, tema yang sempat kami twit semalam sebelum tidur. Seru!

Ada banyak alasan kenapa seseorang menggembok akun twitternya, dan memang sebagian merupakan alasan yang bersifat personal karena biasanya yang digembok itu adalah akun pribadi. Yang saya masih belum paham adalah ada akun toko online dimana dia butuh banyak berinteraksi dengan orang-orang (baik follower atau bukan) untuk memasarkan produknya, tapi akunnya digembok!

#GembokTwitter saya pun pernah melakukannya. Alasannya sederhana, untuk seseruan saja🙂 Seseruan disini maksudnya adalah saya bisa mengobrol dan merumpi asyik dengan beberapa teman di timeline tanpa khawatir ada yang bisa membaca history percakapan kami disana, kecuali mereka berteman dengan kami berdua. Sebagai seorang stalker, saya kan juga harus bisa menjaga privasi walaupun kadang memang sengaja membahasnya di ranah publik. Tetapi saya usahakan, informasi tersebut hanya sepotong-sepotong, tidak utuh. Itulah juga alasan kenapa saya merasa “aman” saat berbincang di TL dengan teman-teman yang digembok akun twitternya.

Lain saya, lain pula Fretty. Dibawah ini adalah skrinsyut timeline dia pagi ini (pengambilan skrinsyut sudah mendapat izin dari siempunya twit), sekalian ngintip cara dia ngetwit soalnya kalau bukan followernya, tidak bisa membaca twit-twitnya😉

Sewaktu awal-awal menggunakan twitter, Fretty tidak melakukan proteksi apapun terhadap akun twitternya. Banyaknya murid yang juga memfollownya di twitter pun dimanfaatkan untuk bisa berbincang dengan murid-muridnya ketika mereka tidak saling bertatap muka. Konon katanya, ada beberapa hal yang bisa terungkap di timeline twitter tetapi tidak terlihat ketika bertemu langsung.  Sampai suatu hari Fretty berpikir bahwa tidak semua yang dia tulis di twit bisa dikonsumsi oleh muridnya, ada beberapa yang sifatnya personal. Akhirnya Fretty memutuskan untuk mengunci akun twitter (eh ternyata maksudnya, membuat akun baru yang dikunci, dan akun yang ini bebas dari “jangkauan” murid-muridnya), pertimbangan utama adalah murid-muridnya. Selain ingin mengajarkan mengenai “berhati-hati” di social media, dia juga menjaga ranah pribadinya disana karena tidak semua yang dia twitkan berkaitan dengan perannya sebagai guru.

Selain Fretty, ada mbak Maya, Galuh (aka Achiel), mbak Dyaning, dan masih ada beberapa teman lainnya yang  juga mengunci akun twitternya. Tentunya mereka juga punya alasannya masing-masing sehingga akunnya dikunci. Saya belum bertanya pada mereka sih, jadi tidak mau menduga-duga tentang alasannya.

Dulu, ketika akun masih dikunci, saya sering mendapat komplain dari beberapa teman. Bukan karena mereka tidak bisa membaca twit saya, bukan! Tetapi karena mereka tidak bisa meritwit twit saya ketika menimpali twit mereka dengan celetukan. Setelah dipikir ulang, toh tidak ada hal yang  bersifat sangat personal yang saya twit (karena hal-hal pribadi pasti lewatnya DM), maka akhirnya kunci pun saya buka🙂 Semenjak akun dibuka, ada beberapa “idola” yang meritwit twit saya ketika merespon twit mereka. Pernah suatu ketika twit saya diritwit oleh Nulis Buku, yang kemudian diritwit ulang oleh salah satu followernya Nulis Buku. Disaat yang bersamaan, traffik blog saya naik drastis, jauh melampaui statistik biasanya! Wah, bisa nih buat promosi blog secara terselubung hehhehhe😀

Keputusan mempublik ataupun mengunci akun twitter tentunya kembali pada masing-masing siempunya akun. Jika memang dia menggunakan twitter untuk komunikasi pribadi dengan teman-temannya, mungkin mengunci akun adalah keputusan yang diambilnya untuk kenyamanan serta keamanan informasi yang dibagi dengan beberapa teman. Lain lagi jika siempunya akun adalah penggiat social media dan juga penulis atau latar belakang lainnya yang membutuhkan twitter untuk membagi informasi pada sebanyak mungkin orang, keputusan untuk mempublik akun twitternya adalah keputusan yang tepat karena twitnya bisa diritwit ulang oleh para followernya.

Jadi, tidak bijak rasanya jika kita “menuduh” atau menganalisis secara berlebihan tentang keputusan seseorang menggembok atau mempublik akun twitternya, karena setiap orang memiliki alasannya masing-masing yang tentunya berbeda satu sama lain.

Wah! gak nyangka ya, dari obrolan pagi ditwitter tentang #GembokTwitter bisa jadi postingan yang lumayan panjang😀

18 thoughts on “#GembokTwitter

  1. Thanks ya, Dian! Tulisanmu berimbang dan “fair”. Untuk tambahan, aku punya 2 akun twitter yang ngga di”gembok”. Yang satu kubuat untuk bebas ngobrol dengan murid dan warga twitter lainnya, yang satu aku buat sebagai eksperimen pribadi yang bebas dibuka dan diobok-obok warga twitter. Kalo aku pengen punya satu yang di-gembok, menurutku orang lain ngga perlu berlebihan menilai. *wink*

      1. Ralat lagi, Yan! Bukan “akhirnya memutuskan untuk mengunci” tapi akhirnya memutuskan untuk bikin akun baru yang diproteksi. Jadi sama sekali “students-free”.😀 Total punya 3, plus 1 yang dibikin temen trus diisi bareng. Jujur, susah ngisi 4 akun twitter. Yang lebih sering diisi ya yang diproteksi. Yang akun pertama dipake utk ngobrol sama murid, utk nge-mention idola, utk ikut kuis, dsb. Yang 1 lagi, yg kamu follow juga, utk bereksperimen dengan kata-kata (latihan jadi Peri Bahasa. :D), yang satu lagi (yg bareng temen) isinya share pengetahuan seputar komputer.

      2. Oh iya ya, akun pribadimu sendiri kan ada 2. Satu dikunci, satunya enggak …. Revisinya kutulis dalam kurung saja supaya komenmu ini valid hahahaha

    1. Haahhahhahaaa, cepat sekali =))

      Ngomong2, jika akun pribadimu sama2 muncul di TL, seperti melihat seseorang dengan kepribadian ganda hahahahhaha *Diinjek retty pake wedges*

  2. selintas di TL tadi malam emang sempat lihat pembahasan tentang ini.. ternyata masih berlanjut toh….

    sebetulnya sederhana aja alasan ku untuk menggembok akun twitter, aku cuma pengen akun ini hanya utk ajang interaksi dengan teman-teman yang aku ngerti walaupun belum pernah bertemu langsung.. jadi komunikasi bisa berlangsung efektif. Tidak seperti di lapak sebelah, friends memang banyak, tapi yang biasa diajak komunikasi cuma segelintir dikarenakan banyak yang aku tidak tahu so aku gak ngerti juga harus ngomongin apa. only that.. as simple as that…..

    lagian.. ternyata ada juga yang bersyukur karena akun twitterku tergembok *lirik si empunya blog*😀

  3. Aku sih cuma punya 1 akun ini, dan tidak digembok. Yang penting, hatiku sudah aku gembok dan kuncinya aku serahkan ke istriku … #Eeaaa #Edisigombal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s