#CeriTo Kedelapan

Mereka bergandengan tangan. Rukun ya?😀

Sore itu, setelah beristirahat dan internetan di hotel, saya pun memutuskan untuk berkeliling Kota Atambua, ibukota Kabupaten Belu. Penasaran dengan kota yang berada di perbatasan seperti apa. Dan ternyata, Atambua seperti kota kecil lainnya, tenang, tidak padat kendaraan, dan ritme hidup disini terbilang santai, tidak tergesa seperti Jakarta. Oiya, satu lagi yang istimewa dari Atambua. Kita bisa dengan mudah menemukan ojek di Atambua dan bayarnya murah, cukup 2000 rupiah, padahal disana biaya hidup tinggi. Setelah berkeliling Kota Atambua mulai dari Simpang Lima, alun-alun kota, sampai mencari masjid saya pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang menuju hotel, saya iseng bertanya pada bapak ojek tentang pasar di Atambua. Ternyata ada pasar yang buka sore hari, dan lokasinya berdekatan dengan hotel tempat saya menginap. Saya pun meminta beliau mengantar sampai pasar saja.

Sesampai di pasar, saya memutuskan untuk berkeliling dengan berjalan kaki. Sempat takut tersasar sedangkan disana saya tidak kenal siapa-siapa, tapi akhirnya berpikir lagi, toh kalau pun kesasar saya masih bisa bertanya pada orang sekitar. Sambil berkeliling pasar, saya memotret beberapa obyek yang tentunya tidak bisa saya jumpai ditempat lain. Dalam perjalanan menuju hotel, tidak sengaja bertemu mereka berdua di Pasar Baru Atambua. Awalnya mereka berjalan beriringan, lalu bergandengan tangan. Saya penasaran! 2 orang pria bergandengan tangan bukan hal yang umum dijumpai di daerah saya. Cara bergandengan mereka juga tidak mesra dan mereka masih menyempatkan diri menyapa dan berbincang dengan orang-orang yang dijumpai di sepanjang jalan. Jadi berpikir, apakah bergandengan tangan disana lumrah sebagai bentuk kedekatan hubungan pertemanan ya? (Saya tidak sempat menanyakannya pada kak Erik dan kak Rinto).

Kami “berpisah” di pertigaan ujung pasar. Mereka berdua mengambil arah ke kiri entah menuju kemana, saya mengambil arah ke kanan menuju hotel. Dalam perjalanan menuju hotel saya masih sempat mengambil beberapa gambar, melihat ulang hasil jepretan, dan tersenyum saat melihat gambar diatas. Saya tidak berprasangka apa-apa, hanya merasa lucu saja🙂

Apa yang kita lihat, dengar, dan pikirkan belum tentu seperti kenyataannya. Apapun itu, pertemuan tidak sengaja dengan mereka di Atambua sudah meninggalkan kesan tersendiri untuk saya😀

Ah! jadi pengen gandengan tangan juga. Tapi gandengannya sama ………………………………  *Didemo* =>*yang demo bawa bantal dan bakiak*

10 thoughts on “#CeriTo Kedelapan

      1. kalo aku pernah liat orang di dekat tempat kosku jalan satu payung berdua, dua-duanya cowo, dengan bahu saling menempel. Hihihi…😀
        Ehem. gandengan sama siapa maunya, Yan?? Hah?! Hah?! Hah?! *ngambil guling isi batu*

      2. Ya wajar to fret klo sepayung berdua bahunya saling nempel, kan payungnya kecil😉

        Hahhahhahaa, aku belum menjawab saja kau sudah menuduhku, bagaimana kalau dirimu tahu jawaban sebenarnya?😀 *ndelik*

  1. Memang kalau sampai terjadi kontak fisik, setiap budaya menafsirkan berbeda, juga berdasarkan etika tata krama yang kita terima sejak dari kecil.

    1. Nah iya, setiap budaya memiliki tata kramanya masing-masing, yang mungkin disana adalah hal biasa, tetapi ditempat lain tidak biasa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s